Opini: Kapasitas Multidimesional Olahraga

Tulisan Dito Ariotedjo Ketua Umum AMPI & Chef de Mission Tim Indonesia Youth Olympic Games 2018.

epicentrum.id, JAKARTA – Olahraga tidak hanya tentang kesehatan fisik, tetapi juga fenomena sosial, bahkan sudah berwujud lembaga sosial. Terbukti, lembaga olahraga adalah salah satu lembaga sosial tertua yang dimiliki umat manusia di dunia. Sebagai lembaga sosial, olahraga memiliki daya untuk mengumpulkan dan mendorong masyarakat agar tetap melakukan aktivitas positif. Karena sejatinya olahraga juga memiliki berbagai dimensi, mulai dari pendidikan, kesehatan, politik, sosial, budaya, dan ekonomi.

Dengan begitu, olahraga adalah juga sarana integrasi yang efektif bagi individu untuk selalu bermasyarakat. Dengan kata lain, olahraga secara implisit maupun eksplisit mampu mempromosikan inklusi sekaligus kohesi sosial. Di saat bersamaan, berolahraga juga mampu menciptakan peluang bagi individu untuk mengembangkan diri dan terlibat langsung dalam komunitas yang lebih sehat.

Di luar kompetisi antaratlet, Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta-Palembang telah menunjukkan banyak hal kepada kita. Mulai dari kemampuan olahraga untuk menjadi kekuatan diplomasi antarnegara, menggerakkan perekonomian masyarakat, mempercepat pembangunan infrastruktur, mempromosikan pariwisata, memupuk rasa nasionalisme, hingga menciptakan momen Jokowi dan Prabowo yang berpelukan di arena silat, yang dianggap berhasil menurunkan suhu panas politik pilpres pada waktu itu.

Bersamaan dengan manfaat positif di dalam negeri, Asian Games juga menjadi kesempatan bagi masyarakat dan pemerintahan di wilayah Asia untuk berinteraksi dan bersolidaritas dalam menjaga perdamaian dunia, khususnya kawasan Asia. Olahraga secara praktis dan konkret membawa rasa kebersamaan yang penting di tingkat nasional dan regional masing-masing. Ini juga sekaligus memberikan rasa damai dan ruang rekonsiliasi di antara 45 peserta Asian Games, di tengah 17 konflik sosial maupun politik yang masih terjadi di wilayah Asia.

Dari gambaran tersebut, kita dapat melihat bahwa olahraga memiliki berbagai potensi positif sekaligus dapat berfungsi sebagai alat untuk mendorong perubahan sosial. Di luar kompetisi olahraga, aktivitas tersebut tentu sangat berguna bagi individu untuk membangun persahabatan dan kerja sama tanpa memandang perbedaan, dan mempersiapkan individu untuk bermasyarakat. Karena olahraga adalah bahasa universal yang tidak memandang suku, agama, ras, kelas, kewarganegaraan dan atribut sosial lainnya.

Sebagaimana kata Nelson Mandela di acara Laureus World Sports Award pada tahun 2000, “Sport has the power to change the world. It has the power to unite in a way that little else does. It speaks to youth in a language they can understand. Sport can create hope where once there was only despair. It is more powerful than governments in breaking down racial barriers. It laughs in the face of all types of discrimination.”

Jadi olahraga dan pembangunan sebenarnya serupa. Bila olahraga melatih fisik dan mental, pembangunan menempa keterampilan kita. Olahraga dan pembangunan menyerupai dua sisi dari koin yang sama. Jika olahraga disertai dengan pelatihan kepemimpinan, kerja sama, disiplin, dan tekad, maka pembangunan mengajarkan hal yang sejenis, tentunya dengan cara yang berbeda.

Saat ini, di era industri 4.0, generasi muda kita dituntut untuk lebih pintar, kreatif, dan juga dituntut untuk lebih mengedepankan asas moral oleh masyarakat. Tuntutan ini kemudian membuat sebagian kelompok masyarakat secara terang-terangan mengabaikan kegiatan fisik, lebih menekankan aktivitas intelektual dan spiritual. Kalau situasi seperti ini terus-menerus dibiarkan tidak proporsional, kita hanya akan menghasilkan lebih banyak generasi muda dengan tingkat kecerdasan tinggi tapi bertubuh lemah dengan kemampuan fisik yang buruk, yang artinya mereka juga tidak akan memiliki daya saing sebagaimana harapan pemerintah.

Sekadar membangun perkembangan intelektual dan moral tidaklah cukup untuk generasi muda, karena mereka juga membutuhkan perkembangan fisik. Dan olahraga menjamin bahwa pikiran yang sehat hanya berada dalam tubuh yang kuat. Tubuh yang kuat tidak mungkin tanpa berolahraga. Walaupun pendidikan olahraga di sekolah-sekolah SD, SMP, dan SMA sudah menjadi mata pelajaran wajib, budaya berolahraga juga perlu secara terus-menerus dipromosikan di tengah masyarakat bahkan di lingkungan kerja.

Semua pelatihan keterampilan kerja dan berbagai sertifikat pendidikan yang diselenggarakan pemerintah maupun pihak swasta akan menjadi sia-sia jika masyarakat, terutama anak muda, di sisi yang lain, tidak memiliki tubuh yang sehat. Tubuh yang sehat dan kuat akan menjadi bekal bagi kita menjadi SDM unggul di masa sekarang dan juga masa mendatang –sehat saat muda dan kuat saat lansia.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa olahraga memberikan dampak yang sangat positif bagi siklus kehidupan manusia mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia. Melalui olahraga, kita sebagai manusia belajar untuk bertindak “sportif”, toleran, mandiri, dan mengembangkan keterampilan hidup yang mampu memberdayakan diri sendiri dan komunitas.

Di sisi yang sama, olahraga juga menstimulasi kita untuk dapat bertahan mengatasi masalah-masalah sulit dalam kehidupan sehari-hari. Jadi olahraga adalah juga energi pembangunan. Dengan lain perkataan, selain menjadi sarana pendidikan, pembentukan karakter, integrasi sosial, gaya hidup sehat, olahraga juga merupakan energi pembangunan. Sebagai energi, tentu olahraga memiliki jangkauan yang luas lintas kategori sosial di setiap sektor pembangunan.

Merujuk pada sejarah, gagasan menggunakan olahraga untuk pembangunan pertama kali mendapat pengakuan internasional pada tahun 2001. Dua tahun kemudian, PBB mengakui potensi olahraga sebagai sarana untuk mempromosikan pendidikan, kesehatan, dan perdamaian. Untuk menjaga ingatan publik akan pentingnya olahraga, pada tahun 2013 PBB mendeklarasikan 6 April sebagai Hari Olahraga Internasional untuk Pembangunan dan Perdamaian. Dengan demikian, olahraga semakin strategis dalam konteks kerja sama pembangunan sekaligus memberikan dorongan perubahan di tingkat individu maupun masyarakat.

Berdasarkan pengalaman pribadi, saya menyadari bahwa olahraga memiliki potensi besar untuk pembangunan di Indonesia agar lebih inklusif dan berkelanjutan. Olahraga menjadi energi pembangunan pada bidang-bidang pembangunan sumber daya manusia seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, bahkan kesetaraan gender. Belum lagi potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari industri olahraga yang memungkinkan bangsa ini membuka peluang pekerjaan atau profesi baru bagi generasi muda kita. Maka dalam konteks tersebut menjadi penting untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas Sekolah Khusus Olahragawan (SKO).

SKO perlu diperbanyak dan merata di seluruh Indonesia. Sekaligus meningkatkan dan mengembangkan keilmuan olahraga di universitas-universitas di Indonesia, karena masih sangat minim universitas yang memiliki Fakultas Ilmu Olahraga. Saya menyakini, muatan-muatan baik pada olahraga hanya bisa dioptimalisasi dengan mengembangkan ekosistem olahraga sebagai budaya masyarakat dan pembangunan fasilitas infrastruktur olahraga sebagai penopangnya.

Selain itu, pembudayaan olahraga memerlukan program-program berkesinambungan. Namun, saat ini Kemenpora dengan anggran di APBN 2020 senilai 1,9 triliun hanya cukup untuk agenda mengejar prestasi, tetapi belum untuk pembudayaan olahraga di dalam masyarakat. Sebenarnya hal ini dapat dimulai dengan menanamkan kebiasaan berolahraga kepada para pemimpin komunitas dan melibatkan generasi muda sebagai penilai kebutuhan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi program-program olahraga. Dan, kita belum terlambat untuk membangunnya sekarang, demi bangsa yang lebih sehat dan lebih kuat! [kabargolkar]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *