Dipaksa Membuat Video “NKRI Harga Mati” Oleh Pihak Sekolah dan Polisi, Pelajar Juga Mahasiswa Papua Tinggalkan Manado

Mahasiswa Papua di kota Studi Manado saat pulang ke Papua – Piter Lokon/Jubi.

Epicentrum.id – Puluhan Pelajar dan Mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan di  Provinsi Sulawesi Utara, terlihat mulai meninggalkan kota Manado menuju Papua.

Ketua Korwil Pelajar LPMAK SMA Lokon, Elian Magal mengatakan, puluhan pelajar dan mahasiswa Papua tersebut pulang ke tanah Papua karena berbagai alasan. Beberapa diantaranya mengaku mendapat perlakuan rasis dan intimidasi.

“Kami akan berangkatkan adik-adik ke Papua karena kami sudah tidak nyaman sekolah di SMA Lokon maupun SMP Lokon,” kata Magal ketika ditemui jubi di Bandara Internasional Sam Ratulagi Manado, Di Sulawesi Utara, pada Kamis (05/09/2019).

Dikatakan Elian Magal, para pelajar dan mahasiswa ini memilih pulang karena mendapatkan ancaman dan intimidasi dari pihak pamong sekolah SMA dan SMP Lokon yang bekerjasama dengan aparat kepolisian. Para pelajar dipaksa membuat video tentang sekolah dan pernyataan NKRI Harga Mati.

“Kami berangkatkan ada tujuh orang kemarin dan hari ini ada 14 orang dan kami yang masih ada disini juga tidak akan tinggal tetapi kami tetap menyusul pulang ke kampung ikuti jejak teman-teman kami yang pulang ke Papua. Adik-adik kami diancam untuk membuat video. Kami merasa harga diri kami dijatuhkan,” ujarnya.

Magal menjelaskan, surat persetujuan untuk buat video yang diklaim pihak sekolah juga dipalsukan. Pihak sekolah mengaku sudah komunikasi dengan LPMAK, Pemda Mimika, Pemda Manokwari, dan Pemda Manokwari Selatan, Sorong untuk pembuatan Video. Faktanya, tak ada pembicaraan soal pembuatan video apapun.

“Persetujuan orang tua itu semua tipu, karena secara fakta kita telepon LPMAK, Pemda Mimika, Pemda Manokwari, Pemda Sorong tetapi pada saat itu, dong (mereka) bilang kita tidak tau, apa yang terjadi disitu dan itu bagaimana,” lanjutnya.

Tak sampai di sana, para siswa juga diancam tak diberi uang saku dan dilarang keluar asrama jika menolak membuat video.

“Jadi ancaman itu, uang saku dipotong dan tidak boleh ambulasi (izin keluar masuk asrama). Padahal ambulasi itu hak kami semua. Semua palsu hanya untuk dibuat video antara pihak sekolah dan kepolisian, tanpa sepengetahun kami,” bebernya.

Mahasiswa Papua, asal kabupaten Mamberamo Tengah, Kelawur Jikwa mengatakan, ia memilih kembali ke Papua karena merasa tak aman jika berlama-lama tinggal di Manado.

“Karena di kota studi, di lingkungan, kampus dan di asrama-asrama masih ada yang dipantau terus dan tidak aman sehingga orang tua suruh pulang jadi mau pulang ke tanah air ke Papua,” ujarnya.

Sementara total jumlah Mahasiswa Papua yang pulang sejak Rabu 4 September 2019 mencapai 80 orang. Sementara pihak Avsec, DPM, dan Otoritas Bandara Samratulagi menolak memberikan data dan izin peliputan kepada Jubi.

sumber: JUBI.CO.ID

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *