Iwan Bule: Kapolri Beri Ijin Saya Maju Ketum PSSI

Komjen Pol M Iriawan. ©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

epicentrum.id, JAKARTA – Pangkat bintang tiga tersemat di bahu seragam cokelat. Wajahnya begitu ceria ketika karir memasuki senja. Suaranya pun cukup lantang meski agak serak. Ditambah logat sunda masih kentara menjadi ciri khas. Kini dia mendapat tugas di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas).

Sosok itu adalah Komisaris Jenderal Polisi Mochamad Iriawan. Di kalangan polisi bukan orang biasa. Karirnya dikenal moncer. Pernah menjadi Kepala Kepolisian Polda Metro Jaya dan Jawa Barat, dia sering terlibat dalam tugas khusus.

Iwan Bule atau Kang Iwan. Begitu biasanya dia dikenal dan disapa. Walau berlogat agak sunda, dia punya darah Betawi. Bahkan ketika menjabat sebagai pimpinan di Polda Metro Jaya, dia menyebutnya sebagai ‘Titisan Tanah Abang’. Lokasi itu berdasarkan tempat kelahirannya.

Pria kelahiran Jakarta, 31 Maret 1962, ini sudah banyak makan asam garam di dunia kepolisian. Masuk sebagai perwira angkatan 1984, sudah ada 15 penghargaan sepanjang karir. Dua di antaranya UNTAC Medals (Kamboja) dan UNCRO Medals (Kroasia).

Menjelang waktu pensiun satu tahun lagi, Iwan Bule punya ambisi. Ingin bantu membanggakan negeri. Mencoba peruntungan sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Sebuah posisi yang sedang diimpikan. Bahkan sudah punya calon wakil berasal dari kesatuan TNI AD, Mayjen Cucu Sumantri.

Sederet rancangan program bagi sepak bola tanah air telah dibuat. Tampak sangat percaya diri. Apalagi Iwan Bule mengaku cukup dekat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tinggal menunggu waktu penetapan dan segera eksekusi.

Kini Iwan Bule menjabat sekretaris utama Lemhannas. Sederet rapat tiap hari didapat. Di tengah jadwal padat merdeka.com mendapat kesempatan khusus berbincang tentang sepak bola Indonesia di kantornya, Jumat pekan lalu. Berikut wawancara kami dengan Iwan Bule tentang sepak bola di Indonesia:

Apa yang melatarbelakangi Anda akhirnya memutuskan maju sebagai calon ketua umum PSSI?

Kalau sudah maju harus serius. Karena buat negara kan. Yang paling menarik bola. Biar baguslah. Kasian. Biar rakyat kita bangga kepada tim nasionalnya. Insha Allah maksimal hasilnya.

Memang seberapa jauh keseriusannya Anda untuk posisi ini?

Ya kalau enggak serius saya enggak akan muncul. Masa saya harus pertaruhkan nama saya yang saya bina dari kecil sampai sekarang hanya untuk tidak serius.

Keseriusan kita sudah roadshow tujuh tempat. Dari mulai Bandung dulu, putar Jawa Barat. Lalu Sulawesi, Semarang kemudian Surabaya. Di Surabaya ada 13 klub dan Asprov (Asosiasi Sepak Bola Provinsi). Ditambah Bali, NTB, NTT, Maluku, Kalimantan. Bahkan di Jakarta, Banten sama sekalian Kalimantan. Jadi sudah semua ketemu.

Saya sampaikan visi misi saya, kalau kalian tertarik silakan dukung saya. Nothing to lose saya. Silakan kalau tidak mau. Silakan cari saja yang lebih baik.

Saya untuk kali ini berpasangan dengan wakilnya Mayjen TNI Cucu Sumantri. Dia bekas Kepala Kostrad, pernah tugas di Deli Serdang, mengurus PSPS Cimahi.

Jadi belum ada calon Ketum PSSI yang roadshow ke wilayah. Sebetulnya sambil menjelaskan visi misi, saya juga ingin tahu apa saja masalah sepak bola di tingkat liga 2, liga 3 maupun Aspro.

Di sana saya bisa memetakan apa saja yang saya akan lakukan nanti sesuai dengan visi misi saya. Ternyata hampir miriplah. Seperti jadwal pertandingan yang berubah-ubah. Itu membuat menjadi masalah bagi klub-klub di liga 1,2,3.

Contoh mereka sudah pesan tiket ke Aceh untuk bertanding. Tentu pesan tiket jauh-jauh hari pesan biar murah. Mereka kasih uang muka hotel, tiba-tiba jelang hari H pertandingan malah mundur. Hangus tiketnya. Itu masalah lho. Sampai ada yang menyampaikan BPKB kendaraan miliknya ada di bank belum ditebus. Bayangin saja, sedih enggak?

Kemudian izin pertandingan yang sulit. Ya sama juga, berubah juga. Kemudian lapangan sepak bola yang mereka akan pakai latihan sulit digunakan karena punya Pemda. Kemudian juga yang disampaikan tentang wasit. Itu sampai di telinga saya

Apa yang Anda analisa dan sudah dimasukkan dalam catatan penting ke depan?

Kalo level nasionalnya, PSSI itu belum punya kantor. Masih nyewa di FX, pernah di Kemang. Lalu di GBK terus diusir. Di kantor kementerian pemuda dan olahraga diusir juga. Masa persatuan sepakbola enggak punya kantor. Saya akan melakukan pembangunan.

Apa yang saya analisa, saya bawa. Yang kurang, saya tampung lagi. Tapi banyak klub yang sudah tergabung dalam program saya. Termasuk tentang uang pembinaan, sulit berkongsi dengan pemda. Sekarang kan ada Inpres Nomor 3 tahun 2019. kita bisa pakai itu.

Klub sepak bola bukannya memang dilarang kerja sama dengan Pemda?

Dalam Inpres sekarang sudah bisa. Pemda apabila memungkinkan bisa dibantu dengan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Tapi mungkin cari sponsor tidak memungkinkan. Kecuali PAD (Pendapatan Asli Daerah) besar, misalnya Bandung. Aturannya bilang Pemda bisa bantu APBD apabila memungkinkan.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian didampingi Kapolda Metro Jaya Irjen Iriawan menunjukkan barang bukti beserta tersangka kasus tindak pidana narkotika jaringan internasional di depan kamar jenazah RS Polri, Jakarta, Selasa (17/1). Senjata api, telepon genggam, serta barang bukti narkoba 8,8 kg shabu, 1.942 butir ekstasi, 21.900 butir happy five berhasil diamankan dari seorang residivis kasus narkoba, Bryan alias KB, yang tewas karena melawan petugas saat dilakukan pengembangan atas kasus tersebut.

Bagaimana dengan rencana program Anda terkait pembinaan para atlet di kelompok umur hingga tim nasional senior?

Kita harus berkesinambungan mulai dari kelompok umur. Nanti di pengurusan kami ada yang mengawasi itu. Syukur-syukur tim yang dibawa ke timnas yang bagus. Sehingga tidak ada pemain titipan itu.

Selain itu usia dini, kita sekolahkan beberapa pemain ke spanyol. Saya sebagai pembina diharapkan nanti para pemain usia dini itu bisa masuk ke timnas di umur 19. Tentu dengan skill cukup tinggi. Beda memang kalau diliat.

Saya minta Asprov benar-benar menyeleksi para calon pemain yang bagus. Kalau bisa serahkan ke timnas yang bagus bukan titipan.

Pelatih yang di Spanyol itu benar-benar seleksi. Dia melihat 100 pemain, saring jadi 40 pemain, disaring lagi menjadi 20 pemain, akhirnya saring terakhir jadi 10 pemain, kemudian berangkat. Dia enggak liat mau anak orang kaya atau apa punya jabatan.

Bagaimana dengan kewajiban pendidikan bagi para pemain di tingkat klub maupun timnas?

Saya memikirkan itu. Termasuk penyaluran pekerjaan. Makanya keluar Inpres itu. Harus kerja para pemain ini. Di kementerian BUMN, di pemerintah daerah mana dan lainnya. Ini investasi khusus. Bagaimana mereka mau konsentrasi kalau uang dapur tidak ada. Makanya pemain wajib sekolah dan klub wajib menyekolahkan.

Nanti kalau sudah maju, saya harapkan para klub sepak bola di liga melakukan IPO seperti Bali United. Sehingga mereka bisa menghidupkan diri.

Rencana program pendidikan tadi hanya khusus untuk pemain timnas?

Klub kan ada yang mengurus. Kita sebenarnya mengharapkan semua, tapi minimal diutamakan timnas dulu ya yang nanti untuk membela negara. Semua sudah bagus, tapi kalo timnas tidak berkibar, Indonesia didengar enggak di dunia? Terlihat enggak di dunia?

Roadmap saya, Indonesia juaran Asean, Asia, masuk dalam big ten bahkan big five. Wah bagus itu kalau bisa masuk 1,2,3. Ini kan luar biasa. Baru kemudian ke Piala Dunia dan Olimpiade.

Kalau liga kompetisi baik, timnas juga tidak maju ya sama saja. Nanti saya akan diskusikan dengan liga.

Kenapa kostum di Liga Indonesia banyak sekali sponsor dan dirasa mengganggu penampilan pemain?

Persib itu 18 sponsor, saya hitung. Ini masukan bagi kita. Di luar negeri itu kan hanya satu sponsor memang cukup.

Bagaimana dengan label timnas sekarang sebab banyak mantan pemain timnas yang justru menjadi driver, ojek online dan lainnya?

Kehadiran Inpres ini, Alhamdulilah kalau saya jadi, zaman saya ada kemudahan untuk bersinergi. Baru Presiden Jokowi yang memperhatikan bola. Sehingga nanti kalau pemain mau sekolah gampang karena ada Inpres. Kementeriannya banyak juga. Sudah enak sekali.

Apakah salah satu contoh itu seperti dirasakan kapten tim Bhayangkara FC, Ipda Indra Kahfi, yang menjadi perwira karena sepak bola?

Itu kan penghargaan. Kalau mau, bisa itu diberikan. Itu kan kebanggaan sebagai Perwira dari pangkat Sersan. Kalau ditanya, kok bisa? Ya namanya penghargaan kan bisa saja, apapun bisa diberikan.

Kalau jadi ketua umum PSSI, saya tahun depan pensiun dari kepolisian. Kalau Ketua umum PSSI engak bisa diganti sama siapapun juga. Kalau enggak bisa didengar, saya mengahadap Presiden Jokowi di Solo. Tinggal bilang ke Pak Jokowi, “Pak, menterinya enggak bener nih.” (tertawa). Atau tungguin di bandara di Halim Perdanakesuma.

Apakah keputusan maju sebagai ketum PSSI tidak mengganggu kenaikan jabatan bila nanti ditunjuk sebagai Kapolri?

Menjadi ketua umum PSSI itu tidah harus pensiun sebagai polisi. Bisa dilihat itu Pak Edy Rahmayadi. Kalau promosi ya promosi saja (menjadi Kapolri), jadi semakin paten (bila jadi ketua umum PSSI).

Apa saja kebijakan yang memudahkan kerja ketua umum PSSI dari Inpres Nomor 3 tahun 2019?

Aturan ini sudah keluar Januari, tapi enggak dipakai. Bahkan Pak Jokowi akan menggelontorkan dana Rp 1 triliun. Nanyanya jangan ke kementerian pemuda dan olahraga, nanyanya ke Pak Jokowi nanti. Ini memang kita harus kenal di lingkungan pemerintah.

Apalagi banyak menteri yang saya kenal. Pak Jokowi kan juga lagi senang sama bola. Saya bilang ke mereka (para menteri), saya siap nunggu. Karena mereka sahabat-sahabat saya. Termasuk Satgas Mafia bola, terus saja itu.

Memang dari Inpres itu, kita tinggal membuat sport science saja. Di sana nanti bisa melihat bakat di sini. Termasuk dari olahraga apapun.

Sebelum memutuskan maju sebagai calon ketua umum PSSI, siapa saja orang atau pihak yang selama ini mendukung Anda?

Pasti ada. Makanya saya putuskan maju. Yang pasti Kapolri Jenderal Tito Karnavian, tanpa seizin beliau, saya tentu tidak bisa seperti ini. Selanjutnya Pastinya Gubernur Lemhannas Agus Widjojo. Karena ini izin tertulis.

Kalau yang di luar institusi, siapa saja yang mendukung Anda?

Ada juga Panglima TNI. Yang lainnya banyak lah. Tanya saja, Ketua DPR setuju enggak? (tertawa).

Intinya saya enggak ada kepentingan, ini kepentingan rakyat. Saya lebih baik enggak maju kalau bukan kepentingan negara. [merdeka]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *