Pemegang Saham BJBR Harus Banyak Bersabar, Lihat harga Saham Turun 25%

Petugas Teller menghitung uang di Kantor cabang Bank BJ. (Photo/KONTAN/Fransiskus Simbolon))

Epicentrum.id – Akhir pekan yang kurang mengenakan tentu dirasakan oleh pelaku pasar yang memegang saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR). Pasalnya, baru juga mencoba bangkit, kini harga saham BJBR malah ambruk lagi.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pada Selasa (6/82019) harga saham BJBR ditutup di level Rp 1.465/saham, menandai level penutupan terendah sejak November 2016. Kemudian pada Rabu dan Kamis (7 dan 8 Agustus), harga saham perusahaan mencoba bangkit dengan membukukan apresiasi masing-masing sebesar 4,1% dan 3,93%.

Nah, pada penutupan perdagangan Jumat kemarin (9/8/2019), saham Bank BJB kembali terlantar di zona merah, di mana koreksinya mencapai 3,47%. Jika dihitung untuk keseluruhan tahun 2019 (hingga penutupan perdagangan kemarin), harga saham Bank BJB sudah ambruk hingga 25,37%.

Sejatinya, derita yang harus dirasakan oleh pemegang saham BJBR sudah berlangsung jauh sebelum tahun 2019. Pasalnya, terhitung sejak menyentuh level penutupan tertinggi sepanjang masa pada akhir 2016 silam, harga saham perusahaan terus-menerus ambruk.

Kalau diamati, melesatnya harga saham perusahaan pada tahun 2016 bisa dibilang kelewatan. Hanya dalam periode yang sangat singkat, tepatnya pada bulan Desember, harga saham BJBR sempat melesat hingga 119%!

Yang menjadi masalah, kala itu kondisi fundamental perusahaan tak bisa menjustifikasi kenaikan harga saham yang mencapai lebih dari dua kali lipat dalam satu bulan tersebut.

Pada tahun-tahun mendatang, kondisi fundamentalnya kembali tak bisa memberikan justifikasi terhadap grafik harga saham yang bak roket sedang lepas landas tersebut.

Memang, pada tahun 2016 perusahaan membukukan lonjakan pendapatan bunga bersih/net interest income (NII) sebesar 22,15% menjadi Rp 6,08 triliun, dari yang sebelumnya Rp 4,98 triliun pada tahun 2015.

Bagi bank pada umumnya, NII merupakan sumber penerimaan yang paling utama, tak terkecuali bagi Bank BJB. Lantas, lonjakan pada pos ini tentu merupakan suatu hal yang sangat positif.

Tapi tunggu dulu. Walau NII melesat, laba bersih juga harus dilihat. Pasalnya, laba bersih sudah merefleksikan segala macam beban yang ditanggung perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.

Ternyata, walau ada lonjakan NII sebesar 20% lebih pada tahun 2016, laba bersih Bank BJB pada periode yang sama justru anjlok hingga 16,17% menjadi Rp 1,15 triliun, dari yang sebelumnya Rp 1,38 triliun pada tahun 2015.

Sejatinya, kasus seperti ini di mana NII melonjak namun laba bersih anjlok sangat jarang kita temui. Jika terjadi, seperti yang dialami oleh Bank BJB, patut dicurigai bahwa ada yang salah dengan pengelolaan keuangan perusahaan sehingga lonjakan NII tak bertaji untuk mendongkrak bottom line alias laba bersih.

Pada tahun-tahun berikutnya, kinerja perusahaan bisa dibilang ‘hambar’, dalam artian tetap tak bisa menjustifikasi kenaikan harga saham yang lebih dari 100% pada akhir tahun 2016.

Pada tahun 2017, NII tercatat hanya tumbuh 3,52%, sementara laba bersih naik 4,99%. Lanjut ke tahun 2018, NII masih tumbuh di kisaran 3%, tepatnya 3,28%. Memang, laba bersih meroket hingga 27,74% pada tahun 2018. Namun, hal ini kembali harus diwaspadai.

Pasalnya, jelas bahwa lonjakan laba bersih bukan disumbang oleh NII yang merupakan pos pendapatan utama. Ketika hal seperti ini terjadi, pelaku pasar wajib curiga bahwa kinclongnya laba bersih tak akan berlanjut di periode berikutnya.

Babak Belur di Semester I

Hal ini pun kemudian terbukti. Belum lama ini, tepatnya pada 25 Juli 2019, perusahaan merilis kinerja keuangan periode semester I-2019.

Hasilnya, laba bersih perusahaan tercatat ambruk hingga 11,2% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 803 miliar. Pada semester I-2018, laba bersih perusahaan adalah senilai Rp 903 miliar.

Ambruknya pendapatan bunga bersih/net interest income (NII) membuat bottom lineperusahaan meringis. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, NII BJBR jatuh hingga 6,4% YoY menjadi Rp 2,97 triliun, dari yang sebelumnya Rp 3,17 triliun pada enam bulan pertama tahun lalu.

Kala sumber pendapatan utama yakni NII tak bisa diandalkan, pendapatan non-bunga perusahaan juga sama saja. Pada semester I-2019, fee-based income Bank BJB tercatat senilai Rp 436 miliar. Pada semester I-2018, nilainya adalah Rp 435 miliar. Ada kenaikan memang, tetapi hanya 0,1%.

Melansir materi presentasi yang dipublikasikan Bank BJB di halaman resminya, pada kuartal I dan II-2019 marjin bunga bersih/net interest margin (NIM) dari unit perbankan berada masing-masing di level 5,9% dan 5,7%. Ada penurunan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan posisi NIM pada kuartal I dan II-2018 yang masing-masing sebesar 6% dan 6,3%.

Wajar saja jika NII perusahaan jatuh 6% lebih pada semester I, wong NIM perusahaan mengkerut. Sebagai informasi, NIM merupakan selisih dari bunga yang didapatkan perbankan dengan bunga yang dibayarkan kepada nasabah, dibagi dengan total aset yang menghasilkan bunga. Semakin besar NIM, maka tingkat profitabilitas sebuah bank akan semakin besar.

Bahkan, tak berlebihan jika NIM dikatakan sebagai ‘nyawa’ dari operasional sebuah bank. Dengan NIM yang lebih besar, sebuah bank bisa mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi kala menyalurkan kredit dalam besaran yang sama.

Untuk diketahui, perusahaan menargetkan besaran NIM di level 6%-6,5%. Lantas, ambruknya NIM pada 6 bulan pertama tahun 2019 praktis menjadi tamparan bagi manajemen perusahaan.

Ketika NIM mengkerut, penyaluran kredit Bank BJB juga terasa kurang bergairah. Sepanjang semester I-2019, penyaluran kredit unit perbankan hanya tumbuh 8,2% secara tahunan.

Untuk diketahui, melansir Statistik Perbankan Indonesia (SPI) periode Mei 2019 yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit bank umum konvensional kepada pihak ketiga non-bank melejit hingga dua digit secara tahunan, tepatnya 11,1%.

Jadi, pelaku pasar yang mempunyai saham BJBR tampak harus banyak bersabar. Pasalnya, tak ada indikasi bahwa kinerja perusahaan akan terkerek dalam waktu dekat.

Kalau melihat kinerja semester I-2019 yang begitu babak belur, tampaknya penurunan NII dan laba bersih untuk keseluruhan tahun 2019 merupakan sebuah ‘keniscayaan’.

Sumber: CNBCIndonesia

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *