Herayati Dan Tiga Modal Pentingnya

Herayati (Photo/Detik)

Oleh: Suratno Muchoeri

Epicentrum.id – Salute dan terharu kemarin lihat Herayati  (Hera) dan bapaknya di beberapa stasiun TV. Hera, yang alumni madrasah (Tsanawiyah dan Aliyah) jadi viral karena anak tukang becak dari Cilegon lulus S2 terbaik Jurusan Kimia Fakultas MIPA ITB melalui jalur fast-track (S1 3 stgh tahun dan S2 10 bulan). S1 Beasiswa bidik-misi (full spp dan biaya hidup) dan S2 beasiswa voucher (gratis SPP saja).

Sekarang Hera diminta jadi dosen luar biasa Universitas Tirtayasa (Untirta) Fakultas Teknik. Hera ingin mengabdi untuk Daerahnya, yaitu Banten dan rencana lanjut S3 ke Eropa setelah minimal dua tahun menjadi dosen.

Hera memang tidak punya modal “ekonomi” dari orang tua-nya. Tapi saya lihat dia punya tiga modal lain yang tak kalah pentingnya.

Pertama, semangat. Terlepas dari keterbatasan ekonomi keluarga, Hera dari kecil tumbuh menjadi anak yang semangat. Selalu optimis dan punya cita  cita. Dia juga bekerja keras untuk mencapainya.

Kadang Saya masih lihat anak muda yang pesimis karena keterbatasan keterbatasannya. Alih alih semangat, mereka justru seperti menyalahkan keadaan yang kurang kondusif untuk mereka berkembang. Tidak benar benar serius dan kerja keras untuk mencari alternatif keluar keluar dari situasi sulit. Justru lebih fokus ke hambatan hambatannya.

Kedua, Pede dengan latar belakang dan masa lalunya. Hera tidak merasa rendah diri, apalagi malu hanya karena anak tukang becak. Dia juga melihat sisi positif dari latar belakangnya. Meski nggak mensupport secara materi, tapi bapaknya memberi kebebasan Hera untuk berkembang dan tak henti mendoakam kesuksesannya.

Satu lagi, Hera melihat masa lalu yang penuh keterbatasan itu secara ikhlas. Beberapa kali menjadi reviewer dan interviewer beasiswa kadang Saya menemukan anak anak muda yang sepertt sakit hati dan ingin balas dendam dengan masa lalunya.

Dalam essay motivasi dan wawancara kadang Saya temukan gini: “Saya ingin sukses bla-bla-bla karena saya ingin menunjukkan pada orang orang yang dulu menghina dan merendahkan saya bahwa mereka salah-besar”. Oke mungkin saja memang ada trauma masa lalu, tapi motivasi kesuksesan hanya untuk balas dendam kadang kadang membaawa orientasi yang melenceng, meski tidak selalu begitu.

Ketiga, stay humble dan sederhana. Degan pencapaian yang ada, saya lihat Hera tetap rendah hati dan sederhana. Memang masih harus dilihat lagi kalau dia mendapat kesuksesan kesuksesan lanjutan terutama materi dan status; apakah akan berubah atau tidak.

Kadang Saya lihat anak anak muda, yang suksesnya belum seberapa. Tapi jadi berubah. Yang dulunya humble jadi arogant. Somse. Yang dulunya sederhana jadi seperti gegar-budaya. Materi dan status-oriented. Ya itu memang hak masing-masing. Atau mungkin itu cara mereka merayakan kesuksesannya. Tapi tetap saja bagi Saya kurang sreg.

Mengapa itu terjadi? Dalam beberapa kasus yang Saya lihat, ini terkait nomor 2 (meski tdk semua begitu). Anak anak muda yang motivasi suksesnya untuk balas dendam dengng masa lalunya, maka ketika ia sukses kadang jadi berubah. Ada yang sepertt ingin mnyembunyikan masa lalunya. Ada yang panjat-sosial untuk menunjukkan mereka sudah “naik-kelas”. Lebih buruk lagi ada yang jadi melihat-rendah kepada orang orang yang sebenarya posisinya seperti dia dulu.

Terima kasih Hera. Saya dan semoga kita semua belajar dari dan melalui kamu. Saya berdoa untuk kesuksesan kesuksesanmu selanjutnya. Tetap semangat, stay humble dan sederhana, serta jangan jadi kacang yang lupa kulitnya, insyaAllah.

Semoga manfangat dan berkah

** Penulis adalah Dosen Psikologi Agama Universitas Paramadina dan Peneliti di LAKPESDAM NU

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *