Beberapa Keluarga Polisi Kena Tipu Biro Perjalanan

epicentrum.id – Masih dalam suasanya Hari Ulang Tahun Korps Bhayangkara, puluhan orang yang menjadi korban penipuan bisnis travel online, yang sebagian adalah keluarga polisi, melaporkan telah terjadi tindak pidana penipuan kepada mereka.

Pelaporan dilakukan ke Polda Metrojaya, pada Selasa 02 Juli 2019. Rugun Leliana Silitonga, salah seorang korban penipuan travel bodong berkedok perjalanan ke luar negeri, sangat menyayangkan adanya penipuan yang dialaminya dan keluarga besarnya beserta puluhan korban lainnya. Penipuan dilakukan oleh Bolon Travel dengan pemiliknya Rianti Lestari Simbolon.

“Keluarga kami keluarga polisi kok. Kakak, adek dan keponakan saya anggota Korps Bhayangkara. Malu juga kita kena begini. Namun, kami meminta keluarga besar Korps Bhayangkara kita, yakni Kepolisian segera menangkap dan menuntaskan persoalan ini,” tutur Lelly, sapaan akrabnya, di Jakarta, Rabu (03/07/2019).

Dengan didampingi Tim Kuasa Hukum dari Lembaga Bantuan Hukum Benang Biru (LBH Benang Biru) yang dikomandani Raja Marolop Daniel Sitorus, Haris Budiman, Simeon FM Sianipar, Danny Sihombing dan Gorga Donny, Lelly mendatangi Markas Polda Metrojaya, pada Selasa, 02 Juli 2019.

Kepada wartawan, Lelly menuturkan, seharusnya mereka berangkat dalam perjalanan ke Eropa, ke 10 negara di sana, pada Minggu 30 Juni 2019. Ada sebanyak 44 orang dalam grup mereka yang sudah mentransfer uang dan biaya perjalanan kepada agen travel dari Bolon Tour And Travel atas nama Rianti Lestari Simbolon.

“Kami ditipu. Uang sudah ditransfer, passport kami dikembalikan lewat kurir, dan Rianti Lestari Simbolon tidak muncul, tidak bisa dihubungi dan raib entah kemana melarikan uang yang kami prediksi sudah miliran rupiah, kami transfer ke dia,” tutur Lelly.

Dia menjelaskan, untuk perjalanan yang dijanjikan itu, tarifnya berbeda-beda. Satu orang antara Rp 25 juta hingga Rp 30 juta. Memang termasuk murah dibandingkan dengan tariff perjalanan paket dari agen perjalanan lainnya.

Padahal, lanjutnya, semua peserta sudah membeli perlengkapan perjalanan ke Eropa selama 14 hari. Tidak sedikit juga yang sudah mengajukan cuti dari tempat kerja, juga pemberitahuan kepada sanak saudara dan kolega.

Yang lebih miris lagi, lanjut Lelly, sebagian besar peserta yang kena tipu itu masih saling kenal, dan masih dari keluarga ke keluarga. “Paling banyak para pensiunan. Sudah usia lanjut. Kok kami diperdaya begini oleh orang yang kami percaya akan membawa kami dalam perjalanan ke Eropa?” ujarnya.

Lelly menerangkan, para orang tua dan peserta lainnya, tadinya hanya berharap agar Rianti Lestari Simbolon sebagai pelaku, mau menyerahkan diri dan berbicara baik-baik secara kekeluargaan atas sepak terjangnya.

Namun, dikarenakan Rianti Lestari Simbolon tidak muncul dan tidak bisa dihubungi, demikian juga pihak keluarganya tidak tahu menahu, maka para korban melaporkan Rianti Lestari Simbolon ke Polda Metrojaya.

“Semoga Polisi segera menemukan dan menangkap Rianti Lestari Simbolon,” ujar Lelly.

Kuasa Hukum para Korban, Koordinator Lembaga Bantuan Hukum Benang Biru (LBH Benang Biru) Raja Marolop Daniel Sitorus menuturkan, pihaknya sudah melakukan investigasi ke kediaman Rianti Lestari Simbolon di daerah Citayam, Depok.

“Tidak diketahui keberadaan yang bersangkutan. Orang Tuanya, Usman Simbolon beserta kakak dan adiknya, pun mengaku tidak tahu menahu dan tidak berhubungan selama beberapa lama ini dengan pelaku. Padahal, mobil Suzuki XPander yang baru dibeli Rianti Lestari Simbolon pas bulan puasa lalu, ada dan diparkirkan di dekat rumah Bapaknya itu. Kunci dan dokumen mobil juga dikuasai oleh Bapaknya Rianti itu kok,” beber Raja Marolop.

Raja Marolop menyampaikan, bukti-bukti dan dugaan tindak pidana sudah kuat. Dia berharap, kepolisian segera menangkap dan membongkar pelaku penipuan travel online bodong, atas nama Bolon Travel and Tours atas nama Rianti Lestari Simbolon itu.

“Kita akan bekerjasama untuk segera mengejar dan memburu pelaku, juga segera membongkar kasus ini,” uajr Raja Marolop.

Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPK) Polda Metrojaya, Kompol Harlin Pangaribuan menyampaikan, pihaknya akan segera meneliti dan menelusuri laporan itu.

“Dalam sepuluh hari ke depan, semua berkas dan bukti dan informasi akan kita kumpulkan, dan harus dilengkapi,” tutur Kompol Harlin Pangaribuan.

Tega Benar, Para Orang Tua Lanjut Usia Ditipu

Puluhan ibu rumah tangga, yang sebagian besar pensiunan dan orang lanjut usia atau nenek-nenek kena tipu bisnis jalan-jalan ke luar negeri.

Tidak kurang dari 44 orang korban penipuan mengalami nasib sial, karena percaya dengan tawaran jalan-jalan yang dipromosikan lewat dunia maya atau media sosial (medsos).

Lanri Nainggolan, salah seorang korban mengaku, dirinya dan suaminya, serta mertuanya dan adiknya, tertarik dan mentransfer uang puluhan juta kepada seseorang perempuan yang dikenal lewat media sosial.

Uang yang ditransfer itu adalah untuk ongkos dan biaya semua kebutuhan selama 14 hari perjalanan ke 10 negara di Eropa. Rencananya, mereka akan berangkat pada Minggu 30 Juni 2019.

“Sebenarnya, sudah sejak tahun lalu, kami semua mulai menyicil pembayaran ke Bolon Travel yang diperkenalkan lewat online. Pas mau urus visa di Kedutaan Besar Inggris, kami sadar bahwa kami sudah ditipu. Sebab, passport kami dikembalikan, dan daftar atau jadwal perjalanan ke sana tidak ada di kedutaan. Bolon Travel juga tidak ada terdaftar,” tutur Lanri Nainggolan.

Seseorang yang bernama Rianti Lestari Simbolon, yang mengaku sebagai pemilik Bolon Travel, ternyata sudah membawa kabur uang para calon pelancong ke Eropa dari Indonesia itu.

“Komunikasi kami kebanyakan lewat WhatsApp Group, lewat sms, telepon dan media sosial,” ujarnya.

Rosmaida Tambunan, seorang pensiunan PNS di Jakarta, mengaku tak menyangka ada orang setega itu melakukan penipuan kepada orang-orang tua.

Para nenek yang ikut rombongan ke Eropa itu, kata dia, sangat menyayangkan yang dilakukan oleh Rianti Lestari Simbolon lewat Bolon Travel and Tours-nya.

“Uang yang saya transfer itu adalah sebagian uang pensiun saya. Demikian juga beberapa teman yang ikut bergabung, kebanyakan sudah janda dan pesiunan. Hendak bepergian di sisa usia. Eh tak tahunya dibohongi,” tuturnya.

Rosmaida dkk tersadar, setelah Rianti Lestari Simbolon tidak aktif lagi di media sosial, dan di grup WA mereka. Nomor telepon Riyanti tidak bisa dihubungi, dan sudah mem-blokir nomornya.

“Kami minta, sampai tanggal 30 Juni 2019 kemarin, jika masih berkenan, agar Rianti mau bertemu kami dengan baik-baik. Bicarakan apa persoalannya. Atau kembalikan saja uang kami, atau apalah yang bisa mengobati perasaan kami yang sudah tua ini atas ulahnya,” tutur Rosmaida.

Nyatanya, hingga hari H keberangkatan yang dijanjikan, Rianti tak kunjung muncul. Dan uang para calon pelancong ke Eropa ini raib dibawa kabur Rianti Lestari Simbolon.

Lelly, juga merasa bodoh dan emosi karena kena tipu perjalanan ke luar negeri oleh Rianti.

“Kini tersadar, kok seperti kasus First Travel yang heboh itu modusnya Bolon Travel dan Riyanti ke kami,” ujar Lelly.

Dia menerangkan, dalam komunikasi dengan para calon korban, Rianti berganti-ganti nama dan berganti-ganti nomor telepon. Paling tidak, lanjutnya, ke mereka ada tiga nama dan tiga nomor yang dipergunakan Rianti. Rianti berkomunikasi dengan nama Hanny di nomor 08963334425, Dina di nomor 089674060810 dan Rianti di nomor 085215095600.

“Semua nomornya sudah tidak aktif. Selain itu, kami tertipu, karena foto profilenya di medsos berbeda dengan yang aslinya,” tuturnya.

Kini, baru 44 orang yang mengakui dan menunjukkan bukti sebagai korban. Lelly mengatakan, Rianti diduga sudah bermain sejak lama. Bahkan, korbannya pun dari berbagai daerah, dan jumlah korbannya bisa mencapai ratusan orang.

“Mungkin sudah ribuan orang korbannya. Ada dari medan, bandung, Lombok, Sulawesi dan sebagainya,” ujar Lelly.

Dikarenakan sudah kena tipu, dengan berat hati, para korban melaporkan tindak pidana penipuan Bolon Travel dengan pelaku Rianti Lestari Simbolon itu ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri).

Lelly berharap, kiranya pelaku bisa segera ditangkap dan diproses hukum. Hitungan mereka, jumlah kerugian berupa uang yang sudah ditransfer ke rekening BCA-nya Rianti mencapai miliaran rupiah.

“Semoga polisi bisa segera menemukan Riyanti dan memroses hukum,” pintanya.

Dilaporkan ke Polisi

Lembaga Bantuan Hukum Benang Biru (LBH Benang Biru) yang mendampingi para korban penipuan travel online pada Bolon Travel dengan pelaku Riyanti Lestari Simbolon, melaporkan tindak pidana penipuan itu ke Polda Metro Jaya.

Koordinator LBH Benang Biru Raja Marolop Daniel Sitorus menyampaikan, modus yang dilakukan Rianti tidak jauh berbeda dengan yang terjadi pada kasus First Travel yang menghebohkan itu.

“Motif dan means rea-nya sudah ada. Penipuan, janji, iming-iming, perjalanan fiktif, dan dugaan pemalsuan dokumen,” tutur Raja Marolop Sitorus.

Dia pun telah mengirimkan somasi kepada Rianti Lestari Simbolon lewat Orang Tuanya, Usman Simbolon yang tinggal di Jalan Citayam Raya, Gang Pancoran,  RT 002/RW 005 Nomor 109, Ratu Jaya, Cipayung, Depok, Jawa Barat.

Tim Kuasa Hukum dari Lembaga Bantuan Hukum Benang Biru (LBH Benang Biru) yang dikomandani Raja Marolop Daniel Sitorus, Haris Budiman, Simeon FM Sianipar, Danny Sihombing dan Gorga Donny itu pun melaporkan Rianti ke Polisi.

“Kita berharap, Rianti segera menyerahkan diri, dan menyelesaikan ulahnya ini dengan baik-baik,” ujar Raja.

Saat ditemui di rumahnya, Usman Simbolon, ayahnya Rianti Lestari Simbolon, mengaku tidak mengetahui sepak terjang yang dilakukan putri keduanya itu. Usman juga tidak bisa berkomunikasi dengan Rianti.

“Sudah banyak yang datang ke sini untuk mencari Ai atau Riyanti. Kami tidak tahu dimana keberadaannya, tidak juga bisa komunikasi,” tutur Usman Simbolon.

Rumah yang terletak di gang sempit itu, tampak baru direnovasi. Sebuah mobil baru merek Mitsubishi XPander dengan Nomor Polisi B 231 RLS, warna hitam, mengkilat masih terpakir di sebuah parkiran sewa, tidak jauh dari rumah orang tuanya Rianti.

“Memang itu mobil yang dibeli Riyanti. Tidak tahu apakah kredit atau sudah lunas. Dibeli sebelum lebaran tahun ini. Kunci dan STNK-nya kini berada di tangan Pak Ketua RT kami, yang kebetulan juga anggota Polisi,” tutur Usman Simbolon.

Selama ini, lanjutnya, Rianti memang sudah jarang pulang ke rumah. Sejak lulus SMA. “Dia katanya kerja. Dan sering bepergian ke luar negeri. Dulu dia nge-kos dekat stasiun Citayam. Katanya sekarang sering pindah di apartemen, kami tidak tahu dan tidak pernah tahu. Kami hubungi juga tidak pernah aktif,” tuturnya.

Rianti Lestari Simbolon adalah putri keduanya, dari isterinya orang Padang yang sudah meninggal dunia belum lama. Usman Simbolon memiliki tiga anak, semuanya perempuan. Anak pertamanya bernama Lia, sudah menikah dan tinggal di Bumi Serpong Damai (BSD). Purti keduanya, Rianti Lestari Simbolon belum menikah. Dan putri bungsunya bernama Rizki Febrianti Simbolon sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Sumatera Utara.

Usman mengaku tidak pernah diberikan uang yang banyak oleh Rianti jika sedang datang ke rumahnya. “Paling pada lebaran kemarin, saya dikasih Rp 1,5 juta. Uang lebaran. Seingat saya, enggak pernah kasih uang ke saya,” ujarnya.

Rianti Berperilaku Aneh Di Rumah

 Lia Simbolon, anak pertama Usman Simbolon, yang merupakan kakak kandung Rianti Lestari Simbolon, mengaku, dirinya tidak dekat dengan adeknya itu. Selain ketidakcocokan cara berpikir, menurut lia, adeknya itu berperangai temperamen dan tidak pernah pulang ke rumah sejak SMA.

“Jarang pulang ke rumah. Selalu bikin masalah. Sejak SMA kami sudah tak pernah ngomongan baik-baik. Perilaku dia itu pula yang membuat Ibu kami jatuh sakit, dan meninggal dunia pada 2017 lalu,” tutur Lia.

Menutur Lia, Riyanti bahkan pernah mengancam dirinya dengan pisau, dan mengancam akan menusuknya jika berantem.

“Saya sudah tak menganggap dia adek saya. Terserah dia mau ngapain. Sepak terjangnya pun kami tidak tahu,” ujar Lia.

Rizki Febrianti, adeknya juga mengaku hal yang sama. Bahkan jelang hari pernikahan Rizki, Rianti mengancam akan membunuhnya.

“Entah kenapa dia berbuat begitu. Dia kakak saya, tetapi kami kok seperti tak mengenal pribadinya lagi,” ujar Rizki yang ditemui sedang berkunjung ke rumah bapaknya Usman Simbolon, dan akan kembali ke Sumatera awal bulan Juli 2019 ini.

Sejauh ini, lanjut dia, tidak ada komunikasi dengan Rianti. “Kami tidak pernah komunikasi, dan tak tahu kabur kemana dia,” katanya.

Sementara itu, Fajar yang merupakan Ketua Rukun Warga (RW) 005 Nomor 109, Ratu Jaya, Cipayung, Depok, Jawa Barat, tempat tinggal Usman Simbolon, mengaku tak banyak kenal dengan keseharian Rianti.

Memang, sejak usia SD, keluarga itu pindah dari daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan ke wilayah itu. “Pernah beberapa kali datang mengurus surat-surat ke saya. Katanya mau ada yang berangkat ke luar negeri. Saya kurang tahu apa saja yang dilakukannya di luaran sana,” ujar Fajar.

Menurut Fajar, Rianti juga tidak terlalu akrab dengan para tetangga dan kawan sepermainannya sejak kecil. Rianti dikenal dengan nama Ai atau Ari di lingkungan itu. “Ya paling kalau jumpa papasan, ya menyapa aja, enggak banyak percakapan,” katanya.

Belum lama ini, dijelaskan Fajar, memang ada sejumlah orang secara bergantian yang mencari Rianti. “Tetapi memang kita belum tahu dimana keberadaannya. Ya kalau memang harus diproses hukum, silakan saja diproses hukum,” ujar Fajar yang mengaku kawan dekat Usman Simbolon itu. (sinarkeadilan)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *