Tanpa Manifes, Jumlah Korban Kapal Karam di Sumenep Bisa Bertambah

epicentrum.id – Jumlah korban meninggal dunia atau hilang dalam insiden tenggelamnya perahu motor Arim Jaya di Perairan Sapudi, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, bisa jadi terus bertambah. Sebab, jumlah penumpang tidak pasti disebabkan tiada manifes (dokumen muatan kapal).

Data Badan SAR Nasional menyebutkan jumlah penumpang plus anak buah kapal (ABK) 57 orang, sementara Kepolisian menyebutkan 61 orang.

Sementara ini, total korban tewas yang jenazahnya sudah ditemukan sebanyak 17 orang, dua korban sudah teridentifikasi, sedangkan 15 korban jenazahnya masih diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification Kepolisian Daerah Jawa Timur. Data jumlah korban tewas yang ditemukan antara Basarnas dengan Polda singkron. Begitu pula data korban selamat juga sama, yakni 39 orang.

Data yang berbeda antara Basarnas dan Kepolisian ialah jumlah penumpang kapal dan korban hilang. Basarnas menyebutkan bahwa jumlah total penumpang sebanyak 57 orang dan korban yang masih dalam pencarian satu orang. Sementara Polisi menyebutkan jumlah total penumpang kapal sebanyak 61 orang dan korban yang masih dalam pencarian sebanyak lima orang.

“[Korban] 17 yang meninggal, lima masih dicari, dan 39 selamat. Tetapi itu bukan data terakhir, karena saksi-saksi dan otoritas yang berwenang menyatakan tidak ada manifes daftar penumpang,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, Selasa, 18 Juni 2019.

“Sehingga,” Barung menambahkan, “anggota Polsek dan rekan-rekan SAR yang lain mencari hanya berdasarkan keterangan saksi-saksi yang selamat, siapa sebenarnya yang dikenali yang ada di dalam kapal itu.”

Kapal nahas itu sebetulnya merupakan jenis kapal tradisional, bukan kapal penumpang. Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kalianget, Soepriyanto, mengatakan, angkutan laut yang biasa dipakai warga kepulauan di Sumenep ialah jenis kapal layar motor (KLM). “Kalau dari pulau ke pulau (moda transportasi) bisa dikata (kapal) swadaya masyarakat sendiri,” katanya dihubungi VIVA melalui sambungan telepon genggam.

Karena itu, armada laut yang dipakai warga kepulauan tidak memiliki manifes atau daftar penumpang, khususnya untuk rute-rute pendek, seperti yang dialami KLM Arim Jaya yang nahas tersebut saat berlayar dari Pelabuhan Gua-Gua, Kecamatan Raas, menuju Pelabuhan Dungkek. “Kecuali kalau seperti [Pelabuhan] Kalianget-Kangean, Kalianget-Raas, kita sudah sediakan armadanya, kayak kapal ferry dan kapal perintis,” kata Soepriyanto.

KLM Arim Jaya berangkat dari Pelabuhan Gua-Gua, Kecamatan Raas, menuju Pelabuhan Dungkek, Sumenep, pada Senin pagi, 17 Juni 2019. Kapal jenis 6 GT sepanjang 10 meter itu membawa penumpang diduga melebihi kapasitas, dari seharusnya 30 orang.

Sesampai antara Pulau Sapudi dan Giliyang, ombak besar mengadang. Kapal itu tak mampu melewati hantaman ombak hingga terguling lalu tenggelam dan menumpahkan semua penumpangnya. Satu jam terombang-ambing di tengah laut, lima perahu nelayan mendekat dan melakukan pertolongan. (viva)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *