Momen Lebaran, Bagaimana Ucapan Selamat Idul Fitri 1440 H Yang Benar?

(sumber: google)

epicentrum.id, JAKARTA – Simak ucapan selamat Idul Fitri 1440 H yang benar. Perhatikan juga dalil ucapannya, menyambut Lebaran 2019. Ucapan selamat Idul Fitri selama ini yang banyak dikenal adalah Minal Aidin Wal Faizin mohon maaf lahir dan batin.

Nah, bagaimana ucapan selamat Idul Fitri yang benar? Simak penjelasannya jelang Idul Firtri 2019 nanti. Umat Muslim di dunia termasuk Indonesia akan merayakan Idul Fitri 2019 setelah menjalani puasa Ramadhan sebulan penuh.

Nah, berbagai macam ucapan Selamat Idul Fitri 2019 telah disiapkan untuk memberikan selamat kepada keluarga dan sesama Muslim.

Berikut ini penjelasan soal ucapan selamat Idul Fitri beserta dalil-dalilnya.

Dilansir Tribun Style yang mengutip sejumlah sumber, sebenarnya ucapan selamat idul fitri itu tidak dicontohkan maupun dilarang oleh Rasulullah SAW.

Jumhur ulama mengatakan bahwa, hukum mengucapkan Selamat Lebaran atau Selamat Idul Fitri adalah Mubah (boleh).

Ucapan Selamat Lebaran selengkapnya yang biasa diucapkan umat Islam Indonesia: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal ‘Aidin Walfaizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin atau Taqobbalallahu minna waminkum.

1. Taqobbalallahu minna waminkum

Terdapat berbagai riwayat dari beberapa sahabat bahwa mereka biasa mengucapkan Selamat Hari Raya dengan ucapan “Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, bahwa jika para sahabat Rasulullah Saw berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).”

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka”.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum mengucapkan selamat hari raya? Lalu adakah ucapan tertentu kala itu?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ucapan selamat ketika hari raya ‘ied dibolehkan. Tidak ada ucapan tertentu saat itu. Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung kesalahan (dosa).”

2. Minal ‘Aidin wal Faizin

Ucapan “Minal ‘Aidin wal Faizin” artinya “Kita kembali dan meraih kemenangan”, juga tidak ada dalilnya, sebagaimana tidak ada larangan mengucapkannya.

Selengkapnya adalah sebuah doa: Allahummaj’alnaa minal ‘aidin wal faizin.

3. Mohon Maaf Lahir Batin

Ucapan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” saat Idul Fitri juga tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan seperti ini.

Namun, hukumnya boleh saja karena tidak ada larangan.

4. ‘Id Mubarak

Ibnu Taimiyah ditanya dalam Majmu Fatawa (24/253) : apakah ucapan selamat hari raya yang biasa diucapkan orang-orang : Ied Mubarak (hari raya yang diberkahi), dan semacamnya, apakah ada dasarnya dalam syariat atau tidak?

Maka beliau menjawab : adapun ucapan selamat hari raya dimana sebagian orang mengucapkan kepada sebagian lain apabila bertemu setelah sholat Id :

Taqabbalallahu minna waminkum, dan semoga Allah menyampaikanmu tahun depan, dan semacam itu, maka ini telah diriwayatkan oleh sebagian sahabat bahwa dahulu mereka melakukannya, dan dibolehkan sebagian Imam seperti Ahmad dan lainnya, tetapi Ahmad berkata :

Aku tidak mau memulainya lebih dahulu, namun jika seseorang mengucapkannya kepadaku maka aku menjawabnya, karena itu jawaban ucapan selamat yang hukumnya wajib.

Satu di antara momen yang begitu dinantikan umat muslim adalah shalat ied di masjid atau di lapangan. Umat muslim berbondong-bondong mendatangi masjid atau lapangan demi melaksanakan shalat ied.

Setelahnya, umat muslim biasanya akan berkunjung ke rumah-rumah tetangga dan kenalan untuk saling bermaafan. Lalu kenapa sih bermaafan harus dilakukan pada saat Idul Fitri?

Melansir dari ceramah Ustadz Abdul Somad lewat saluran Youtube Amih Hindarsih yang tayang 11 Juni 2018, ia menjelaskan.

” Tak ada dalil minta maaf saat idul fitri, tapi saat itu hati-hati umat muslim sedang menunduk. Habis dengar tausyiah, saat itulah kita masuk. Nanti kalau beku bahaya,” tutup Ustadz Abdul Somad.

Ia sebelumnya berceramah tentang sikap pengkhutbah dan jamaah setelah shalat ied. Ustadz Abdul Somad juga menganjurkan pada para pengkhutib agar bersuara lantang serta menyampaikan khutbah dengan semangat.

Awalnya ia menyoroti tentang jamaah yang datang ke lokasi shalat ied.

” Itulah kesempatan emas dia (jamaah shalat ied) mendengarkan syiar,” ungkap Ustadz Abdul Somad.

Dilanjutkan UAS, orang yang selama ini bahkan jarang ke masjid, idul fitri dia mungkin saja datang ke mesjid. orang yang sibuk bekerja datang saat shalat ied.

” Tujuan shalat ied itu untuk mendengarkan khutbah, kalau cuma shalat dua rakaat pun bisa,” terang UAS.

Lebih lanjut, Ustadz Abdul Somad juga menerangkan tata cara pergi ke masjid atau lapangan yang dijadikan lokasi shalat ied.

” Pulang perginya pun ada caranya, datang dari jalan A, pulangnya lewat jalan B. Supaya apa?

Supaya pas di jalan ketemu teman lama, tetangga, tetangga jauh, kenalan istri, kenalan suami, mertua, siapapun… di sapa, minta maaf, lahir batin,” ujar UAS.

” Itu kan do’a, minal aidin semoga kita kembali kepada kefitrahan, wal faidzin, dan termasuk orang-orang yang menang melawan hawa nafsu,” lanjutnya.

Lalu bagaimana dengan perempuan yang sedang berhalangan (menstruasi atau masa nifas)?

“Wanita yang sedang berhalangan, hendaklah tetap dibawa ke lokasi shalat ied,” katanya membacakan sebuah hadits.

” Kami diperintahkan mengeluarkan perempuan yang sedang berhalangan keluar (ke lokasi shalat ied) tetapi tidak diminta sholat,” ucap UAS membacakan hadist tentang anjuran tersebut.

” Untuk apa? Mendengar khutbah,” lanjut Ustadz Abdul Samad

(tribun)

 

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *