KPK Panggil Menteri Perdagangan Terkait Amplop Pemilu

epicentrum.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka kemungkinan untuk memanggil dan memeriksa Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi yang menjerat anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso. Pemanggilan ini untuk mengklarifikasi keterangan Bowo Sidik yang mengaku mendapat uang sekitar Rp 2 miliar dalam pecahan Dollar Singapura dari Enggar.

“Biasanya kalau disebutin pasti kan ditanya juga kemudian seperti apa penyidik bisa mengembangkan,” kata Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang usai diskusi ‘Catatan dan Rekomendasi Agenda Penguatan Pemberantasan Korupsi kepada Calon Terpilih’ di Jakarta, Senin (22/4/2019).

Saut mengatakan, keterangan Bowo harus didalami lebih jauh. Dari pendalaman tersebut baru akan ditentukan langkah selanjutnya.

“Iya nanti kan kita lihat dulu disebut itu, seperti apa kita mendalaminya. Nanti kan menjadi catatan bagaimana penyidik mengembangkannya,” kata Saut.

Hal ini penting lantaran dalam penanganan perkara yang dilakukan KPK, tersangka korupsi kerap menyebut nama pihak-pihak lain saat diperiksa penyidik. Namun, nama-nama tersebut belum tentu dapat ditindaklajuti karena ‎keterangannya bersifat tunggal atau tidak didukung lagi oleh bukti-bukti lainnya. Untuk itu, kata Saut, KPK harus mendalami setiap keterangan tersangka secara hati-hati. Apalagi, suap dan gratifikasi yang diterima Bowo diduga bakal digunakan untuk serangan fajar Pemilu 2019 yang terkait erat dengan UU Pemilu.

“Karena begini kalau kita bicara penyidikan kan nanti di situ akan dilihat peran orang perorang sebagai apa. Apakah dia bisa masuk di dalam kasus itu kan itu yang mau dicari kalau disebut-sebut juga tidak terkait dengan kasus itu. kemudian dalam kaitan namanya dana-dana pelaksanaan organisasi partai politiknya atau kontestasi itu kan bicara undang-undang Pemilu juga kan berapa boleh sumbang dan seterusnya. Jadi KPK harus hati-hati,” kata Saut.

Diketahui, sejumlah media mewartakan bahwa ada pemberian sekitar Rp 2 milliar dari Mendag ke Bowo yang diduga terkait ‎pengamanan Peraturan Mendag soal gula kristal rafinasi. Saut mengatakan, pihaknya harus mempelajari dengan cermat setiap informasi yang mencuat, termasuk adanya dugaan kepentingan dalam pemberian uang ke Bowo tersebut.

“Ya nanti kita lihat apakah itu korupsinya atau conflict of interest-nya atau yang lain nanti kita pelajarin dulu,” katanya.
Uang yang diberikan Enggar tersebut diduga bagian dari uang Rp 8 miliar suap dan gratifikasi yang diterima Bowo dari sejumlah pihak termasuk suap dari PT Humpuss Transportasi Kimia terkait kerja sama pengangkutan pupuk PT Pupuk Indonesia. Saat disita penyidik KPK, uang Rp 8 miliar itu telah dipecah Bowo menjadi Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu itu dimasukkan dalam 400 ribu amplop dengan 82 kardus dan dua boks kontainer. Diduga ratusan ribu amplop tersebut disiapkan Bowo untuk serangan fajar pada Pemilu 2019.

Senada dengan Saut, Jubir KPK, Febri Diansyah mengatakan pihaknya perlu mempelajari dan mencermati keterangan yang disampaikan Bowo mengenai uang dari Enggar. Dikatakan, KPK tidak bersandar pada keterangan satu saksi atau tersangka. Keterangan tersebut harus diperiksa silang dengan keterangan dan bukti lain.

“Ini standar saja dalam penanganan perkara. Kalau ada tersangka atau kalau ada saksi menyampaikan sebuah informasi dalam proses pemeriksaan misalnya atau dituangkan ke berkas perkara ya, kalau ada ya, maka tentu itu perlu dipelajari lebih lanjut, perlu dicermati. Misalnya Apakah ada kesesuaian dengan bukti-bukti yang lain atau tidak. Karena KPK juga tidak boleh bersandar hanya pada satu keterangan saja,” katanya.

Sejauh ini, Febri mengatakan, belum ada jadwal pemanggilan terhadap Enggar. Namun, proses penyidikan kasus suap dan gratifikasi yang menjerat Bowo masih berjalan. Selama proses penyidikan ini, KPK bakal mendalami sejumlah informasi yang terkait dengan kasus tersebut.

“Sejauh ini belum ada jadwal belum ada daftar atau informasi tersebut yang kami yang yang saya ketahui, jadi proses penyidikan ini kan masih berjalan kami tentu perlu dalami terlebih dahulu informasi-informasi terkait dengan beberapa hal di sana,” katanya. (beritasatu)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *