Mari Ajak Anak Untuk Ikut Berbagi

Ilustrasi anak tersenyum. (Shutterstock.com/Patrick Foto)

epicentrum.id, JAKARTA – Berbagi tidak semata-mata terkait soal dana, atau materi.Berbagi di sini memiliki kalam arti lebih luas, dapat berbagi apa saja. Termasuk non materi.Berbagi ilmu, keterampilan, pemikiran, informasi, tenaga. Semuanya dimulai dari hati.

Banyak pertimbangan seseorang melepas sesuatu yang berharga bagi dirinya untuk orang lain. Rasa takut tidak dapat mendapatkan seperti itu lagi. Atau, bahkan mendapatkan yang lebih sedikit, lebih jelek, dan prasangka negatif lainnya. Itulah sebabnya orang takut bersedekah, berinfaq, berzakat, atau berbagi materi miliknya dengan orang lain yang membutuhkan.

Padahal, Allah SWT telah berjanji memberikan ganjaran terbaik, yaitu melipatgandakan setiap pemberian untuk orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

 

Mengajarkan Anak Berbagi Kebaikan Sedari Dini

Berbagi dengan orang lain, dengan pihak di luar diri kita adalah sebuah kebaikan. Ibaratnya bahasa yang bersifat universal, kebaikan dikenal oleh semua orang. Maka, sudah sebaiknya mengajarkan kebaikan ini sedari dini. Anak-anak juga perlu diajarkan untuk jangan takut berbagi.

Sebagai orang tua, perlu untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan sejak dini. Niscaya, sikap tersebut dapat terus terbentuk dalam kepribadiannya dan terbawa sampai anak-anak tersebut tumbuh dewasa dan menjalani kehidupannya kelak.

Tentu saja, cara terbaik mengajarkan kebaikan adalah melalui peran penting orang tua serta sekolah tempat anak-anak tersebut mengenyam pendidikan.

Orang tua wajib mendidik kebaikan pada anak 

Terkait mengajarkan kebaikan pada anak, Islam dengan tegas mengatakan bahwa hal tersebut adalah kewajiban dari orang tua. Orang tua memiliki peran penting, dan menjadi yang pertama untuk mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya. Perintah untuk mengajarkan kebaikan sejak dini pada anak tercantum dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

Telah menceritakan kepada kami (Ismail), Telah menceritakan kepadaku (Malik] dari (Abdullah bin Dinar) dari (Abdullah bin Umar) radliallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. dan isteri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhori 6605 – shahih)

Orang tua sebagai teladan

Cara terbaik bagi orang tua dalam mengajarkan dan mendidik kebaikan kepada anak-anaknya yaitu dengan memberikan contoh dari dirinya sendiri. Dengan demikian, anak akan melihat langsung praktek berbagi dari orang tuanya. Orang tua akan menjadi contoh terbaik dan panutan untuk anak-anaknya.

Sebagaimana ungkapan peribahasa “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”. Peribahasa tersebut menggambarkan bagaimana sikap dan perilaku orang tua akan ditiru dan diduplikasikan oleh anak-anaknya. Orang tua yang gemar mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya sejak dini, maka anak-anaknya itu pun niscaya akan gemar pula berlaku baik terhadap sesamanya. Dan demikian pula sebaliknya.

Perilaku anak adalah cerminan dari orang tuanya. Dan sesungguhnya beruntunglah para orang tua yang mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya. Ibarat bibit yang ditanam, lalu tumbuh dan akan terus berbuah sebagai amalan jariyah.

Sekolah juga punya peran ajarkan berbagi kebaikan bagi anak

Sekolah juga memiliki peran penting mengajarkan anak  untuk berbagi. Sebagaimana yang dilakukan oleh sekolah dasar tempat anakku menimba ilmu.

Peran orangtua dan sekolah menanamkan kebaikan berbagi akan menumbuhkan empati dalam diri anak-anak. Mereka pun diharapkan dapat lebih peka dan lebih tulus dalam berbagi di kehidupannya ketika dewasa kelak.

Jangan Takut Berbagi, Karena Tidak Sekedar Materi

Banyak yang mengira bahwa berbagi hanya sebatas nominal dan materi. Padahal, berbagi lebih dari itu. Bila tidak memiliki nominal yang cukup, masih tetap dapat berbagi materi. Materi yang mungkin di mata kita sudah tidak dibutuhkan lagi, tapi di mata yang lainnya masih merupakan sesuatu yang berharga.

Yuk kita berbagi!

Selain nominal (uang) dan materi (barang atau fasilitas), berbagi juga bisa dengan hal lainnya. Sebut saja dengan ilmu yang telah kita pelajari. Berbagi keterampilan yang kita kuasai. Berbagi tenaga, serta berbagi konten positif.

Bahkan, bila tidak memiliki modal apapun, kamu masih tetap dapat berbagi. Caranya pun terbilang sangat mudah, yaitu dengan membagi senyumanmu kepada orang lain. Cukup dengan menarik sedikit wajah serta ujung bibir agar tercipta sebentuk senyuman manis nan indah. ‎Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi 1956 – Hasan ‎gharib. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib)

Manfaat berbagi

Jangan takut berbagi akibat khawatir jika sesuatu milik kamu akan habis karena membaginya dengan orang lain. Menurutku, berbagi memberikan banyak faedah yang bisa dirasakan oleh pelakunya.

Perasaan bahagia. Segala kekhawatiran yang mungkin sempat muncul akan sirna begitu melihat senyum bahagia menghiasi wajah-wajah penerima pemberian kita. Ternyata, berbagi dengan orang lain hanya akan menumbuhkan rasa bahagia dalam kehidupan kita.

Menjadi lebih sehat. Rasa bahagia akan menjadi stimulus terbaik bagi kesehatan. Hal tersebut akan mendorong sel-sel tubuh bermetabolisme lebih baik. Sehingga, pada ujungnya tentu akan meningkatkan kualitas kesehatan seseorang yang sering berbagi dengan orang lain.

Menularkan kebaikan. Yup! Ternyata kebaikan itu menular. Mulai dari diri sendiri, lalu akan menular kepada orang lain. Kemudian proses itu terus berlanjut, dan tanpa terasa seluruh lingkungan pun akan ikut merasakan kebaikan tersebut.

Mengangkat derajat orang lain. Bayangkan. Mungkin hanya bermodalkan berbagi buku-buku pelajaran. Lalu, orang-orang yang membaca buku itu mendapatkan ilmu, mendapatkan gelar, hingga memperoleh pekerjaan. Bahkan ada yang membuka lapangan kerja untuk orang lain. Dari buku-buku yang kamu bagi itu memberi andil mencerdaskan seseorang dan mengangkat kehidupannya.

Menumbuhkan rasa syukur. Dengan berbagi, akan membuat kita melihat kondisi orang lain. Baru pada saat itu mungkin kita menyadari betapa beruntungnya kehidupan yang telah dijalani selama ini. Alih-alih yang awalnya gemar mengeluh, menjadi lebih sering bersyukur.

Mendorong rasa empati. Melalui kegiatan saling berbagi dan berbuat kebaikan, kita akan lebih peka untuk menempatkan diri kita pada posisi orang lain. Sehingga kita juga akan merasakan seandainya berada di posisi itu.

(sumber; baca selengkapnya di sini)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *