Kader Muda Diskusikan Arah Politik Golkar Pasca Pilpres 2019

epicentrum.id, JAKARTA – Pukul 13.30 WIB siang ini, Garda Panca Bhakti akan menyelenggarakan Sharing Discussion dengan tema “Arah Politik Partai Golkar Pasca Pilpres 2019”. Acara yang digelar di Bumbu Desa Cikini ini bakal menampilkan Pimpinan Komisi VII DPR RI, Ridwana Hisyam sebagai Keynote Speaker.

Narasumber lain, diantaranya: Wakil Direktur Lembaga Kajian Hukum dan Demokrasi; Syamsu Rizal, Aktivis Generasi Muda Partai Golkar (GMPG); Mirwan B.Z. Vauly, Aktivis Praja Muda Beringin (PMB); Khalid Zabidi dan Pengamat Politik yaang juga Koordinator Petisi 28; Haris Rusli

Garda Panca Bhakti sendiri adalah wadah diskusi dan bertukar pikiran kader-kader muda Partai Golkar yang gelisah dengan situasi dan kondisi Partai Golkar saat ini baik di pemilu legislatif (pileg) maupun di pemilihan presiden (pilpres) 2019. kalimat Panca Bhakti sendiri diambil dari 5 poin ikrar kader-kader Partai Golkar, Ikrar Panca Bhakti.

Garda Panca Bhakti dan acara diskusi ini juga diinisiasi oleh Ketua Umum Pormas MKGR Taufan Soedirdjo, Ketua Umum Bakornas Fokusmaker Denny Firmansyah, Wakil Ketua Umum Barisan Muda Kosgoro (BMK) 1957 Aria Wicaksana, Ketua BMK 1957 Almanzo Bonara, Ketua PP AMPG Abdul Hafidz Baso dan Aktivis Golkar Milenial Achmad Annama.

Lembaga survey Voxpol menempatkan Golkar di urutan ke-3 dengan presentase 6.1%, Litbang Kompas 9.4%, & Polmark 13.3%. Surveyor menggambarkan turunnya perolehan suara Partai Golkar. Sementara Litbang Kompas menyebutkan 47% Pemilih Golkar memutuskan untuk memilih Prabowo.

Selama kepengurusan periode 2014 – 2019 kepemimpinan DPP Partai Golkar terjadi turbulensi yang besar, mulai dari dualisme kepengurusan sampai ditangkapnya Ketua Umum DPP PG Setya Novanto karena kasus E-KTP. Belum lama kasus ‘amplop’ Bowo Sidik Pangarsa yang terkena OTT KPK.

Tentu gambaran dari para lembaga survey memunculkan kegelisahan dari para kader muda partai. Berikut kutipan dari siaran pers Garda Panca Bhakti pada acara hari ini:

“Bangsa dan rakyat Indonesia tengah menghadapi pengkutuban ideologi yang berhadap dengan hampir 3 tahun terakhir, menguatnya sentimen politik identitas apakah itu mengatakan atas nama suku, agama dan ras diantara anak bangsa menjadi pembicaraan yang tidak ada ujung pangkalnya.

Anak bangsa riuh rendah mengekspresikan diri baik secara sosial maupun politik di ruang Kebangsaan dengan menyatakan keberadaan daripada kebersamaan, menuding daripada merenung dan keras alih alih lemah lembut.

Apabila menunjuk kepada sejarah bangsa kelahiran Golkar pada masa lalu persis pada saat situasi seperti ini, anak bangsa mengedepankan identitasnya sendiri-sendiri, mengklaim dirinya yang paling layak dan pantas dan menihilkan yang lain. Pada saat itu ideologi Negara, dasar Negara Pancasila menjadi alat perbedaan alih – alih persamaan, Pancasila diklaim dengan tafsir berbeda – beda atas nama kepentingan kelompoknya sendiri sebuah masa krusial datangnya ancaman perpecahan anak bangsa dan rongrongan terhadap dasar negara Indonesia. Golkar lahir menengahi perseteruan ideologi, Golkar muncul sebagai pembela Pancasila, menjadi Garda terdepan menghalau para perongrong, membabat habis ideologi komunisme.

Kini, situasi bangsa hampir mirip suasananya, sudah merupakan panggilan mulia sejarah buat para kader Golkar menegakkan kembali ideologi Partai sebagai alasan utama untuk berada di tengah perseteruan ideologi sesama anak bangsa.”

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *