Intip Yuk! Bagaimana Strategi Bisnis Logistik Siasati Tarif Mencekik

ilustrasi (net)

epicentrum.id, JAKARTA – Adanya Surat Muatan Udara atau SMU telah membuat kenaikkan tarif kargo dalam beberapa bulan terakhir. Hal itu juga membuat bisnis jasa pengiriman barang logistik turut menaikkan tarif dari 120 persen hingga 350 persen.

Sebut saja PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) yang kembali menaikkan ongkos kirim atau ongkir hingga mencapai 19 persen secara nasional dan diberlakukan sejak 21 Maret 2019 lalu.

Begitu juga PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI) yang ikut menaikkan tarif secara bertahap yang besaran kenaikannya bergantung pada besaran kenaikan tarif kargo udara di setiap kota. Bahkan J&T Express sudah menaikkan ongkos kirimnya sejak Desember 2018.

Namun, masih ada juga beberapa pemain logistik ekspres yang menggunakan harga lama dan tidak mengacu pada kenaikan tarif kargo. Sebut saja seperti Lion Parcel dan SiCepat.

Chief Executive Officer (CEO) Lion Parcel, Farian Kirana mengatakan tidak menaikkan tarif kargonya, dikarenakan saat ini perusahaannya tengah fokus mengembangkan pengiriman melalui jalur darat.

Salah satunya, kata dia adalah bekerja sama dengan PT KAI Logistik (KALOG). Penandatanganan kerja sama tersebut juga telah dilakukan pada Maret 2019 dengan Plt Direktur Utama KALOG, Junaidi Nasution.

Farian mengatakan kerja sama dengan KALOG merupakan alternatif jalur distribusi barang selain udara. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan harga pengiriman barang.

Selain itu, kerja sama ini juga ditujukan untuk mempercepat waktu pengiriman barang serta untuk melayani daerah-daerah yang belum dilayani oleh jalur udara.

“Dengan KALOG beberapa rute bisa lebih ekonomis dan lebih cepat dari pesawat. Harapannya pengguna lebih puas dengan layanan kami,” jelas Farian dalam keterangannya, di Jakarta, Kamis 11 April 2019.

Sedangkan, Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai kenaikan tarif kargo memang berdampak negatif ke sektor logistik, karena perusahaan logistik akan melakukan penyesuaian harga.

“Dampak paling terasa ke Indonesia bagian timur yang sebagian besar menggunakan angkutan udara. Imbas lainnya bisnis e-commerce cepat atau lambat akan alami tekanan. Padahal dalam setahun nilai transaksi melebihi Rp100 triliun dari e-commerce,” ujar Bhima.

Selain itu, lanjut Bhima, kenaikan tarif ini juga akan ada mendorong perubahan perilaku konsumen yang akan lebih memilih layanan logistik dengan tarif termurah.

Dampaknya pun, lanjut dia akan terjadi pergeseran pangsa pasar, di mana perusahaan logistik dengan tarif termurah akan banyak dipilih masyarakat. “Bisnis logistik memang sensitif terhadap perubahan harga,” ujarnya. (viva)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *