Dahlan Iskan: Dulu Saya Dukung Jokowi, Sekarang Prabowo

epicentrum.id, SURABAYA – Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan ikut menghadiri pidato kebangsaan capres 02 Prabowo Subianto di Dyandra Convention Hall, Surabaya. Dalam pidatonya, Dahlan mengungkapkan pengalamannya 5 tahun lalu yang mengikuti acara serupa dan mendukung Joko Widodo.

“5 tahun yang lalu saya menjelang pemilu seperti ini saya mengadakan deklarasi besar-besaran mendukung Pak Jokowi di Sentul,” kata Dahlan di lokasi, Jumat (12/4).

Dahlan menyebut saat Pilpres 2014 lalu mendukung Jokowi karena menaruh harapan tinggi terhadap program-programnya, yaitu tentang revolusi mental dan pertumbuhan ekonomi.

“Waktu itu saya berharap banyak karena Jokowi mempunyai program besar yang disebut revolusi mental. Juga karena waktu itu Pak Jokowi punya program yang hebat berupa pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” ungkap Dahlan.

Termasuk juga saat itu memiliki harapan bahwa pendapatan per kapita Indonesia dapat mencapai 7.000 Dolar AS per tahun jika Jokowi memenangi Pilpres 2014. Namun, ia kecewa karena target tersebut tidak berhasil dicapai Jokowi.

“Kenapa? Karena 5 tahun yang lalu pun pendapatan per kapita rakyat Indonesia sudah 5.000 US Dolar per tahun. Jadi, wajar kalau saya berharap kalau 5 tahun kemudian jadi 7.000 dan 5 tahun kemudian jadi 9.000. Kalau terwujud maka Indonesia akan menjadi negara besar dan negara jaya. Tapi itu tidak terlaksana,” tuturnya.

Karena target tersebut tidak tercapai, pada Pilpres 2019 ini Dahlan memutuskan untuk memilih Prabowo. Namun, ia menegaskan pilihannya ke Prabowo bukan karena nasibnya.

“Karena itu saya menjatuhkan pilihan kepada Pak Prabowo. Bukan karena mempertimbangkan nasib saya selama 5 tahun terakhir, itu saya anggap risiko saya sebagai pengabdi. Seperti juga risiko Jokowi sebagai presiden difitnah selama 4,5 tahun, bahkan seperti Pak Prabowo yang difitnah selama 17 tahun,” ucap Dahlan.

Ia kemudian menyebut pada 5 tahun lalu para pimpinan Dahlanis (pendukung Dahlan Iskan) berkumpul apakah mereka memutuskan untuk mendukung Jokowi atau Prabowo.

“Waktu itu sebetulnya keputusan terbanyak milih Prabowo. Tetapi saya veto kita harus memihak Pak Jokowi karena program-program Pak Jokowi itu. Nah, sekarang di pemilu ini ganti saya yang ikut pimpinan-pimpinan itu,” tutupnya. (kumparan)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *