Perhatikan Petani Jika Inflasi Terus Rendah

epicentrum.id – Tingkat inflasi kembali berhasil dipertahankan pemerintah di bawah target inflasi sebesar 3,5 persen tahun ini. Berdasarkan data teranyar Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada Maret 2019 tercatat sebesar 0,11 persen secara bulanan, sementara secara tahunan sebesar 2,48 persen.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF, Abra Talattov mengungkapkan, inflasi yang mampu dijaga rendah memang diperkirakan bisa terus dipertahankan pemerintah di bawah target inflasi yang telah ditetapkan. Akan tetapi itu tidak selalu menggambarkan ekonomi yang baik.

Sebab menurutnya, komponen inflasi Indonesia yang mayoritas masih di dominasi oleh bahan makanan, yakni mencapai 75 persen dari total keseluruhan komponen, bila terus menerus memberikan kontribusi inflasi yang rendah bisa menunjukkan bahwa produksi bahan makanan dari para petani cenderung lemah.

“Artinya daya beli petani atau produsen pangan belum cukup meningkat. Produsen makanan ini kan selain produsen, mereka juga sebagai konsumen pangan, artinya di inflasi yang rendah ini belum bisa menjadi ukuran satu-satunya perekonomian kita dalam kondisi yang baik,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa 2 April 2019.

Dia membuktikan hal itu dengan data Nilai Tukar Petani atau NTP. Berdasarkan data BPS, pada Maret 2019, NTP yang menjadi salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan, serta menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi, menunjukkan penurunan sebesar 0,21 persen.

“Artinya daya beli petani atau produsen pangan belum cukup meningkat, selama nilai tukar petani ataupun nilai jual pangan belum mengalami perbaikan,” tegas dia.

Selain itu lanjut Abra, jika dirujuk berdasarkan pola inflasi pada tahun lalu, inflasi bahan makanan yang salah satunya didominasi oleh beras, mampu dijaga pemerintah dengan cara impor beras sebanyak 2 juta ton. Berarti, terjaganya inflasi pada 2018 sebesar 3,13 persen dihasilkan melalui jalan pintas.

“Itu kan menjadi paradoks, di satu sisi menjaga inflasi tetapi di sisi lain ditempuh melalui impor yang besar. Apalagi ini kan memang masuk tahun politik ya pemerintah perlu membuktikan secara konsisten bahwa menjaga stabilitas inflasi ini dilakukan dengan meningkatkan produktifitas di sektor itu sendiri.” (viva)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *