Surat Ahmad Dhani ke Menteri Ryamizard Juga Singgung Sop Buntut

epicentrum.id, SIDOARJO – Dalam keterbatasan karena mendekam di dalam tahanan, Ahmad Dhani Prasetyo mengungkapkan sikap politik dan perasaannya. Di antaranya melalui surat bertulisan tangan. Surat itu biasanya disebar melalui orang dekatnya setidaknya ke wartawan saat menjalani sidang pencemaran nama baik di pengadilan.

Seperti saat sidang kelima di Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa, 26 Februari 2019. Surat  ke sekian kalinya itu ditujukan kepada Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Surat dua halaman itu tersebar, termasuk ke awak media. Berikut ini isinya:

Surat kepada Jenderal Ryamizard Ryacudu

Siap Jenderal, lapor…
Saya divonis hakim PN sebagai pengujar kebencian berdasarkan SARA. Saya divonis “ANTI CINA”, Saya divonis “ANTI KRISTEN”. 

Kakanda Jenderal pasti tidak percaya, bahwa saya ANTI CINA dan ANTI KRISTEN, apalagi saudara saya yang Nasrani dan partner bisnis saya yang kebanyakan Tionghoa. TAPI KENYATAANNYA SAYA DIVONIS BEGITU… 

Kakanda, Kakanda Jenderal adalah saksi hidup bagaimana “DARAH NKRI” saya bergelora. Saat kakanda adalah KEPALA STAF AD, pada tahun 2003 kakanda perintahkan band Dewa 19 untuk memberi semangat warga Aceh untuk tetap setia kepada NKRI. 

Di atas tank, kami konvoi keliling di Kota Aceh. Bisa saja GAM menembaki saat itu. Tapi kami tetap teriakkan “NKRI HARGA MATI”. Kalau sekedar ngomong SAYA INDONESIA, SAYA PANCASILA, itu tidak sulit Jenderal. 

Tapi kami nyanyikan INDONESIA PUSAKA. DAERAH OPERASI MILITER ACEH saat itu banyak kaum “SEPARATIS” yang siap mendekat dan menembaki kami kapan saja. 

Tapi sekarang situasinya ANEH, Jenderal. Setelah saya mengajukan upaya “BANDING”, saya malah di “TAHAN” 30 hari oleh Pengadilan Tinggi, di hari yang sama keluar PENETAPAN BARU dari Pengadilan Tinggi yang akhirnya saya ditahan karena menjalani sidang atas perkara yang “SEHARUSNYA TIDAK DITAHAN” (karena ancaman hukumannya di bawah 4 tahun). 

Jangan salah paham, Jenderal. Saya tidak sedang bercerita soal “KEADAAN SAYA”, tapi saya sedang melaporkan “Situasi Politik” negara kita.

Apakah saya “KORBAN PERANG TOTAL” seperti yang dikobarkan Jenderal Moeldoko? Mudah-mudahan bukan. Tapi di penjara, saya merasakan “TEKANAN” yang luar biasa. 

Demikianlah Kakanda Jenderal, saya melaporkan dari SEL PENJARA POLITIK. 

Di akhir surat, nama Ahmad Dhani tertulis dan tanda tangannya terbubuh. Hal yang menarik, di bawah namanya tertulis kalimat “Kangen Sop Buntut Buatan Nyonya Ryamizard Ryacudu”. (viva)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *