Debat Capres: Jokowi Bohong, Tak Ada Beban Masa Lalu

Capres nomor urut 01 Joko Widodo berswafoto bersama pendukungnya saat jeda Debat Pertama Capres & Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Oleh:  Abdul Hafiz Baso

epicentrum.id Air mukanya turun. Sembari mengernyitkan kening. Tangan bajunya digulung, body language-nya seakan hendak menggebuk pasangan 02. Sembari ia bilang “kami tak ada beban masa lalu. Lets see, apa benar Jokowi tak ada beban masa lalu? Atau Jokowi terpaksa tebal muka? Menjadi demagog hipokrit dengan semua janji politiknya di tahun 2014?

Jokowi mewariskan beban hutang dengan obligasi yang nyaris 40% dipegang oleh asing. BI mencatat total utang luar negeri Indonesia hingga akhir September 2018 mencapai US$359,8 miliar atau sekitar Rp5.371 triliun (kurs JISDOR akhir September 2018 Rp14.929 per dolar AS). Jokowi mewariskan beban hutang yang begitu besar, dengan pengelolaan hutang yang potentially berisiko, karena hampir 40% obligasinya dipegang pihak asing.

Apakah Jokowi tak punya beban masa lalu? Let’s see. Mobil ESEMKA adalah kebohongan paling sophisticated yang dilakukan rezim Jokowi. Bayangkan, 250 juta penduduk Indonesia, dikibuli dengan Mobmas bodong !

Ini kebohongan paling sempurna yang dilakukan Jokowi dengan semua alat–perangkat berbohong. Kebohongan ini mengalami estafet, dari saat maju sebagai Cagub DKI (2012), Capres (2014) dan kini menjadi beban janji di Pilpres 2019.

Apakah Jokowi tak ada beban masa lalu? Let’s see. Jokowi berjanji pada Pemilu 2014, akan membikin ekonomi tumbuh hingga 7%. Tinggal beberapa hari jelang Pilpres 2019, apakah terwujud? Pertumbuhan Ekonomi hingga kini mangkar di 5%. Padahal, sudah ngutang sampai mencekik batang leher untuk genjot pertumbuhan dengan membagun infrastruktur (fisik), tapi pertumbuhan ekonomi kita tetap letoy; mangkrak.

Jokowi juga punya beban, gagal meningkatkan current account sehingga neraca perdagangan kita cenderung defisit dan membebani cadangan defisa dan mendepresiasi kurs rupiah. Apa pointnya? Karena Jokowi dan perangkat kabinetnya: Gagal memperkuat industri yang berorientasi produksi nasional. Tandanya adalah kita cenderung impor ketimbang meningkatkan ekspor. Alih-alih, memperbaiki, justru kita mengalami deindustrialisasi di era rezim ekonomi Jokowi.

Dari 26 persen, kontribusi industri manufaktur pada produk domestik bruto (PDB), kini menjadi hanya 20 persen. Laporan American Chambers of Commerce (Amcham) Indonesia menyebutkan, Indonesia memang sudah masuk fase deindustrialisasi.

Menut Amcham, sehebat apapun pemerintah berargumen untuk menentang itu, tetapi data-data yang ada sudah tidak bisa dipungkiri. Sektor industri sudah tidak mampu tumbuh di atas pertumbuhan PDB, dan sumbangannya ke PDB terus menurun. Apakah Jokowi tak ada beban selama 5 tahun berkuasa?

Lagi-lagi, apakah Jokowi tak ada beban masa lalu? Let’s see. Saat kampanye 2014, Jokowi janji Jaksa Agung tak diambil dari kader partai. Apa jadi? Belum juga bibirnya kering, Jaksa Agung direkrut dari kader Parpol tulen. Jokowi, punya soal pada lima tahun sebelumnya, yakni, berbohong secara sempurna.

Lalu, apakah Jokowi tak ada beban, selama nyaris lima tahun berkuasa? Jika kebohongan demi kebohonhan itu bukan bagian dari beban sejarah seseorang, lalu apa?

Abtahiyyat wabsalam
Ansyuru ahlal kalam Jainudin Ngaciro …

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *