Anindya Bakrie: Konten, Kunci Eksistensi Media di Masa Depan

anindya bakrie

Anindya Bakrie (kedua kiri) di acara Indonesia Millenial Summit, Sabtu (19/1/2019). ( epicentrum.id )

epicentrum.id, JAKARTA – Di era digital ini, media konvensional menghadapi tantangan dengan munculnya media sosial atau platform new media. Untuk bertahan dari disrupsi, yang perlu dilakukan adalah fokus dan memperkuat sisi konten.

Hal itu diungkapkan oleh CEO VIVA Grup Anindya Bakrie saat berbicara mengenai “The Future of Media” di Indonesia Millenial Summit, di Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, hadir juga sebagai pembicara Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, dan CEO IDN Times Winston Utomo.

anindya bakrie

CEO VIVA Grup Anindya Bakrie saat berbicara mengenai “The Future of Media” di Indonesia Millenial Summit di Jakarta, Sabtu (19/1/2019). ( epicentrum.id )

Anin mengatakan, masa depan media bisa suram, bisa juga menjanjikan. Media akan bermasa depan suram jika terjebak pada mediumnya.

“Kalau mediumnya, ya suram. Karena medium lama mulai terdisrupsi oleh media sosial dan raksasa platform global. Tinggal tunggu waktu aja,” ungkapnya.

Anindya Bakrie optimis media bisa survive di masa depan

anindya bakrie

Di Indonesia Millenial Summit, Anindya Bakrie ungkap optimismenya media bisa survive di masa depan, (19/1/2019). (epicentrum.id )

Namun, kata Anin, masih ada celah untuk media agar bisa survive di masa depan, yaitu di sisi kontennya. Jika media dan tim yang ada di dalamnya pandai mengemas konten (berbasis data) maka akan berhasil dan bertahan.

Anin mencontohkan di VIVA hal itu dilakukan dengan berbasis data. Dari data ini akan dikemas konten yang menarik dan disukai masyarakat.

anindya bakrie

Anindya Bakrie menjadi pembicara di acara Indonesia Millenial Summit, Sabtu (19/1/2019). ( epicentrum.id )

“Indonesia ini pembaca komik No 1 di Asia. Namun kita lihatnya Marvel, DC, kenapa gak komik kita sendiri, kita ada banyak. Nah makanya kita garap Gundala. Nanti akan keluar filmnya. Ini contoh mengolah konten lama jadi menarik” jelasnya.

Selain itu One Pride juga didasari data bahwa orang Indonesia suka seni bela diri. Lalu diolah dengan kreatif dan menarik di tvOne, hasilnya adalah konten yang banyak ditonton. Hal yang sama juga untuk konten India dan hiburan lainnya di ANTV, yang menjadikannya melejit televisi nomor satu.

Orang akan tetap nonton, tapi tergantung hal ini

Anin bahkan mencontohkan bisa jadi suatu saat orang nonton tvOne tidak di televisi konvensional seperti sekarang lagi. Namun jika kontennya menarik dan dipercaya, makan orang akan tetap nonton apapun mediumnya.

Anindya Bakrie dan Menkominfo Rudiantara (tampak di big screen) menjadi pembicara di acara Indonesia Millenial Summit, Sabtu (19/1/2019). ( epicentrum.id )

“Saya membayangkan suatu saat saat sedang berkaca di pagi hari saya tanya “siri berita apa pagi ini?”. Maka di kaca akan muncul berita tvOne. Mediumnya mungkin bukan lagi free to air, tapi yang muncul tetap tvOne yang digemari kontennya dan tetap ditonton karena dipercaya sebagai sumber berita” tuturnya.

Menkominfo Rudiantara menyampaikan hal yang senada. Media untuk bertahan memang perlu memperkuat konten.

Pemerintah, kata Rudiantara, tidak akan mencampuri produksi konten selama tidak melanggar aturan yang ada. “Yang penting tidak melanggar undang-undang. Ada UU ITE dan ada juga KPI, lembaga yang mengawasi siaran” jelasnya.

anindya bakrie

Penonton tampak antusias di acara Indonesia Millenial Summit, Sabtu (19/1/2019). ( epicentrum.id )

Sementara itu, Winston Utomo mengatakan yang berubah dari media adalah cara mengko sumsinya. Misalnya sekarang kuncinya multiplatform, fokus di mobile dan interaktif.

“Orang akan terus nonton TV, tapi yang (usia) 20an akan nonton TV di HP,” ujarnya. (epicentrumnews)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *