Pecah Rekor! Neraca Perdagangan 2018 Tekor Terbesar Sepanjang Sejarah RI

ilustrasi (VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi)

epicentrum.id Berita kurang sedap bagi petahana dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (15/1/2019) kemarin. Data yang dikeluarkan oleh BPS seperti menjadi rapor merah kinerja ekonomi pemerintahan Jokowi untuk tahun 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa sepanjang 2018, mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit mencapai 8,57 miliar dolar AS.  BPS menunjuk impor migas sebagai penyebab utama, dengan besaran mencapai 12,4 miliar dolar AS. Berbanding terbalik dengan surplus non migas sebesar 4,8 miliar dolar AS.

BPS menggali lebih dalam, dari impor migas, ternyata impor hasil minyak mentah perlu menjadi perhatian utama.
Besaran defisitnya mencapai 4,04 miliar dolar. Impor minyak mentah ini juga berbanding terbalik dengan gas, yang mengalami surplus 7,58 miliar dolar AS.

Surplus hanya tiga bulan

Berikut data neraca perdagangan RI selama 2018
Januari:           defisit US$ 756 juta
Februari:         defisit US$ 52,9 juta
Maret:            surplus US$ 1,12 miliar
April:                defisit US$ 1,63 miliar
Mei:                  defisit US$ 1,52 miliar
Juni:               surplus US$ 1,74 miliar
Juli:                  defisit US$ 2,03 miliar
Agustus:          defisit US$ 1,02 miliar
September:  surplus US$ 227 juta
Oktober:          defisit US$ 1,82 miliar
November:      defisit US$ 2,05 miliar
Desember:      defisit US$ 1,1 miliar
Sepanjang 2018: defisit US$ 8,57 miliar

Sepanjang 2018, neraca perdagangan Indonesia hanya mampu mencetak surplus perdagangan di tiga bulan saja, yaitu Maret (surplus US$ 1,12 miliar), Juni (surplus US$ 1,74 miliar), dan September (surplus US$ 227 juta).

Indonesia selama 2018 mampu mencatat neraca perdagangan surplus dengan beberapa mitra dagangnya, seperti India (surplus 8,76 miliar dolar AS), Amerika Serikat (surplus 8,56 miliar dolar AS) dan Belanda (surplus 2,6 miliar dolar AS). Defisit neraca perdagangan dengan mitra dagang Indonesia tercatat antaranya dengan Cina (defisit 20,8 miliar dolar AS), Thailand (defisit 5,1 miliar dolar AS) dan Australia (defisit 2,9 miliar dolar AS).

Defisit terbesar sepanjang sejarah

BPS mengungkapkan, bahwa secara historikal Indonesia pun pernah mengalami defisit perdagangan. Hanya saja, defisit yang terjadi pada masa lalu tidak sebesar yang terjadi pada tahun 2018.

Tahun defisit neraca perdagangan Indonesia:

1945 defisit (tidak ada angka)

1975 defisit US$ 391 juta

2012 defisit US$ 1,7 miliar

2013 defisit US$ 4,08 miliar

2014 defisit US$ 1,89 miliar

2018 defisit US$ 8,57 miliar

Penyebab defisit

Penyebab utama defisit tahun 2018 berasal dari sektor migas, dan merupakan defisit migas terparah sejak tahun 2014. Tingginya defisit migas disebabkan oleh naiknya harga minyak. Harga rata-rata tahunan minyak jenis WTI berada di level US$ 64,9/barel. Rataan tersebut naik 27,6% bila dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar US$ 50,85/barel.

Sebagai informasi, Indonesia pernah enam kali dilanda defisit neraca perdagangan. Hanya saja, tahun 2018 adalah rekor neraca perdagangan defisit terbesar Indonesia yang pernah tercatat. Sebenarnya, catatan kegiatan ekspor dan impor dalam bentuk neraca perdagangan sudah ada sejak masa pendudukan Belanda. Namun, data yang sudah tersajikan, tercatat dengan rapi baru pada tahun 1975. Sementara sisanya masih dirapikan oleh BPS.

Selama masa pemerintahan Jokowi pun telah ada dua kali, yaitu 2014 dan 2018. Walau, untuk tahun 2014, Jokowi belum banyak berbuat karena baru dilantik pada bulan-bulan terakhir menggantikan Presiden SBY. Tapi, kinerja tahun 2018 menjadi rapor merah bagi Jokowi, dan sebaliknya, menjadi senjata bagi penantang di Pilpres 2019 ini.

Impor terus bertumbuh

Angka impor Indonesia sepanjang 2018 secara total adalah sebesar US$ 188,63 miliar. Besaran ini meningkat 20,15% jika dibandingkan tahun sebelumnya (2017). Pada 2017, total impor adalah sebesar US$ 156,99 miliar.

Sektor migas dan non migas juga mencatatkan nilai impor kumulatif  masing-masing US$ 5,49 miliar atau 22,59% dan US$ 26,14 miliar atau 19,71% pada 2018.

BPS mengungkapkan, ada 10 golongan barang impor non migas yang memberikan kontribusi 27,25% terhadap total impor. Golongan tersebut adalah:

1. Mesin-mesin atau pesawat mekanik (US$ 27,19 miliar atau 17,12% dari total impor)
2. Mesin dan peralatan listrik (US$ 21,44 miliar atau 13,50% dari total impor)
3. Besi dan baja (US$ 10,24 miliar atau 6,45% dari total impor)
4. Plastik dan barang dari plastik (US$ 9,21 miliar atau 5,80% dari total impor)
5. Kendaraan dan bagiannya (US$ 8,06 miliar atau 5,08% dari total impor)
6. Bahan kimia organik (US$ 6,92 miliar atau 4,36% dari total impor)
7. Benda-benda dari besi dan baja (US$ 3,88 miliar atau 2,45% dari total impor)
8. Serealia (US$ 3,79 miliar atau 2,39% dari total impor)
9. Ampas atau sisa industri makanan (US$ 3,05 miliar atau 1,93% dari total impor)
10. Perangkat optik (US$ 2,88 miliar atau 1,82% dari total impor)

(epicentrumnews)

 

 

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *