Tsunami Memotong Mata Rantai Masyarakat Pesisir

Kondisi Pasca Bencana Selat Sunda Yang Terjadi Di Penghujung Tahun 2018 Masih Membuat Masyarakat Pesisir Belum Bisa Kembali Bergeliat. (Photo/Istimewa)

Oleh: Kiki Irwansyah

23 Desember 2018 lalu, Kepanikan melanda masyarakat Banten. Jerit dan tangis menyatu dalam keadaan Listrik padam dan jaringan komunikasi yang terganggu akibat tsunami. Cerita nenek moyang soal dahsyatnya letusan Gunung Krakatau teringat jelas di setiap benak kepala pada kala itu.

Musibah Tsunami Selat Sunda menghancurkan dua daerah kabupaten Banten dan satu Kabupaten di Lampung. Banyak sekali dampak yang disebabkan oleh musibah tersebut diantaranya banyaknya korban tewas dan luka-luka, hilangnya harta benda dan tempat tinggal, serta kerusakan berbagai fasilitas umum.

Berdasarkan laporan terakhir BNPB, Bencana tsunami Selat Sunda menimbulkan kerusakan materil meliputi 2.752 rumah, 90 penginapan, 60 warung. Dan pada kendaraan, tercatat sekitar 510 perahu dan kapal rusak, 140 kendaraan. Selain itu pula, terdapat 1 dermaga rusak, dan 1 shelter rusak.

Dan memakan korban jiwa sekitar 437 jiwa meninggal dunia. 14.059 orang mengalami luka-luka, 16 orang hilang, dan 33.721 mengungsi.

Bencana tersebut bukan sekedar meninggalkan sejumlah data korban dan kerusakan tapi lebih dalam lagi, penulis melihat adanya mata rantai ekonomi masyarakat pesisir yang terputus.

Diketahui sebanyak 2.700 warga kehilangan pekerjaan pasca bencana tsumami Selat Sunda yang melanda sebagian wilayah Provinsi Banten. Data tersebut menambah tingginya angka pengangguran di Banten. Dan secara otomatis memperkokoh Provinsi Banten di klasemen pertama sebagai Provinsi dengan angka pengangguran tertinggi di Indonesia.

Pasca Tsunami Bagaimana Nasib Masyarakat Pesisir

Memiliki garis pantai terpanjang se Pulau Jawa. Provinsi Banten memiliki luas perairan 11.134,22 km2 dengan panjang garis pantai 509 km. Dengan potensi ini sebagian masyarakat di Provinsi Banten menjadikan laut dan pantai sebagai tumpuan pertama untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari.

Baik itu digunakan oleh nelayan untuk mencari ikan dan non nelayan yang menjadikan Pantai sebagai tempat pusat berniaga hasil dari panen kebun atau penyedia jasa.

Terhitung lebih dari dua pekan ini, Pasca Tsunami Selat Sunda yang menghantam wilayah pesisir Banten bagian Selatan mengakibatkan aktifitas di Laut dan Pantai mati total.

Selain meninggalkan trauma psikis yang mendalam bagi masyarakat pesisir, hal itu juga mengakibatkan Perputaran mata rantai ekonomi masyarakat pesisir terputus.

Dalam hal ini, tentu Pemerintah harus memberikan solusi yang solutif terhadap fakta bahwa terputusnya mata rantai pendapatan masyarakat.

Mata rantai ekonomi masyarakat pesisir yang terputus akibat bencana harus segera mendapatkan pemulihan. Program pemulihan mata pencaharian masyarakat pesisir tidak boleh lamban.

Pemerintah setempat melalui SKPD terkait perlu membuat penyusunan program jangka pendek menyoal pemulihan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Sebab, rekontruksi pasca bencana bukan sekedar membangun apa yang telah hancur. Tapi yang lebih penting adalah membangun kembali semangat hidup masyarakat.

 

Kiki Irwansyah, Sekertaris Umum Himpunan Mahasiswa Banten (HMB) dan Pengurus di Bakornas Fokusmaker 

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *