Ci/Cai Sebagai Sistem Simbol dan Kepercayaan Masyarakat Pasundan

Jokwoi sedang memantau Sungai Citarum. [foto: ist]

Oleh : Misbah KAMIKITA

Mengapa di tanah Sunda jarang ditemukan candi? Karena kebudayaan dominan orang Sunda adalah kebudayaan berhuma (ladang berpindah). Dalam kebudayaan huma, manusia relatif lebih individual karena percaya pada kemampuan diri sendiri. Demikian teori yang disampaikan oleh Saleh Danasasmita.

Candi adalah bangunan suci keagamaan di mana penduduknya relatif menetap seperti dalam kebudayaan bersawah. Sistem kepercayaan dari masyarakat ini membutuhkan peralatan ritus dan upacara. Candi dalam hal ini merupakan adalah wahana bagi ritus keagamaan dan upacara tsb.

Dari teori Danasasmita soal candi dan perbedaan karakter kebudayaan masyarakat kuno (antara yang bertani dan berhuma) saya teringat bagaimana Sutan Takdir Alisjahbana menjelaskan lapisan kebudayaan dan sejarah kebudayaan Indonesia dari segi nilai-nilai. STA menyebutkan bahwa lapis kebudayaan di Nusantara itu terdiri dari; Indonesia asli, India (Hindu-Budha), Islam, Modern, dan Indonesia Merdeka (majemuk)

Nyata bahwa dalam peradaban Sunda kuno, pengaruh lapis kebudayaan India, sangatlah kecil. Artinya, meskipun di tanah Sunda juga terdapat kabuyutan, mandala dan patapan sebagai representasi dari kebudayaan bertani menetap (feodal), namun masyarakatnya dalam hal sistem kepercayaan dan emosi keagamaan tidak sampai melahirkan peradaban ritus dan upacara seperti wilayah di mana nilai-nilai Hindu-Budha bersemai kuat seperti di wilayah Jawa Tengah/Timur dalam wujud bangunan suci seperti candi.

**

Jika tadi saya memaparkan perihal bangunan sebagai aspek material kebudayaan masyarakat di wilayah Jawa Bagian Barat, maka marilah masuk pada sistem simbol dan penamaan (bahasa). Masyarakat Sunda kuno banyak menamakan tempat dengan istilah “Ci/Cai” yang artinya air.

Maka lumrah kita mengenal nama tempat di Jawa Barat seperti Cianjur, Cipanas, Cihideung, Cisarua, Cimacan, Cigondewah dsb.

Penamaan itu tentu bukan tanpa makna. Untuk masyarakat dengan kebudayaan berhuma, air atau mata air, adalah sumber kehidupan yang harus dijaga dan dihormati, tidak boleh dicemari. Berbeda dengan masyarakat bertani yang memang punya kemampuan mengolah air dalam bentuk bendungan atau sistem irigasi.

Bagaimana dengan masyarakat Pasundaan atau manusia yang sekarang hidup di wilayah di bekas kebudayaan Sunda kuno di wilayah Jawa Bagian Barat, di mana terdapat sungai Citarum, yang dikenal dunia sebagai sungai paling tercemar sedunia? Di masa di mana lapis kebudayaan dari segi nilai-nilai sudah sampai pada lapis kebudayaan Indonesia merdeka yang majemuk?

Saya tidak mengajukan jawaban praktis untuk menjawab catatan akhir tahun di situs Mongabay Indonesia yang menjelaskan cukup detail data-data nestapa Citarum karena itu biarlah tugas para insinyur dan teknisi. Saya hanya memberikan uraian bahwa dalam sistem simbol dan kepercayaan itu, yang paling dibutuhkan adalah tafsir progresif. Selama ini sungai dan air di tanah Pasundaan ini telah dijadikan halaman belakang bahkan tempat “pembuangan”. Air dan Sungai tidak diperlakukan dan dihormati sebagaimana dipraktekkan manusia dari lapisan kebudayaan Sunda kuno.

Di wilayah ini, dibutuhkan pemimpin bermental Raja. Raja berwibawa, bukan sekedar bupati gubernur bermental maling babu kolonial. Bahkan masyarakat di sini juga butuh “Tuhan Baru”, Tuhan yang ditemukan dari menggali identitas kebudayaan Sunda Buhun.

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *