Cara Bijak Macron Redam Aksi Rompi Kuning

Presiden Prancis, Emmanuel Macron sempat didemo massa yang menamai dirinya ‘Rompi Kuning’. Aksi masif tersebut ditanggapi Macron dengan cara bijak. [BBC]

epicentrum.id, PARIS – Presiden Perancis Emmanuel Macron mengumumkan serangkaian kebijakannya untuk meredam pergerakan Gilets Jaunes (Rompi Kuning). Dalam pidatonya selama 15 menit dari Istana Elysee, Macron mengumumkan antara lain mengumumkan kenaikan upah minimum pada tahun depan.

Diwartakan AFP Senin (10/12), pendapatan minimal Perancis adalah 1.498 euro atau Rp 24,7 juta per bulan sebelum pajak, dan 1.185 euro setara Rp 19,5 juta setelah dipotong pajak.

Pernyataan itu merupakan langkah besar karena sebelumnya pemerintahannya sempat mengatakan peningkatan gaji minimum bisa menghancurkan lapangan pekerjaan. Macron mendesak para pengusaha yang ‘mampu’ untuk memberikan para pegawainya bonus akhir tahun tanpa dikenai pajak.

Upaya lain untuk meredam pergerakan rompi kuning itu adalah menghapus seluruh pajak pendapatan untuk pegawai yang lembur. Kebijakan itu sempat diterapkan di era Presiden Nicolas Sarkozy sebelum dihapus pada pemerintahan Presiden Francois Hollande karena dianggap terlalu mahal.

Dalam pidatonya, Macron yang menggunakan nada lebih tenang berkata dia menerima tanggung jawab yang diberikan kepadanya. “Saya tahu bahwa saya telah menyakiti beberapa dari Anda dengan setiap perkataan saya,” tutur presiden berusia 40 tahun tersebut.

Menteri Pemerintahan Olivier Dussopt kepada BFMTV menyatakan kebijakan itu bakal menghabiskan dana hingga 10 miliar poundsterling, atau Rp 182,8 triliun. “Saat ini kami sedang dalam proses mencari setelan yang pas dan mencari cara untuk mendapatkan pembiayaannya,” tutur Dussopt dikutip BBC.

Setelah Macron menyampaikan kebijakan tersebut, sejumlah peserta aksi rompi kuning menyatakan Macron telah membuat konsesi. “Senyum saya semakin mengembang dan mengembang setiap kali dia berbicara,” ujar Erwan. Pendapat lain lagi diutarakan Pierre-Gael Laveder.

Dia menjelaskan pendekatan yang dilakukan Macron tidak cukup untuk meredam massa rompi kuning. Dia mengungkapkan saat Macron berbicara, dia mendapat cemoohan. “Reaksi pertama yang timbul dari para peserta demonstrasi adalah ‘dia berpikir kami adalah orang bodoh’,” turur Laveder.

Pemimpin oposisi Marine Le Pen menyambut baik sejumlah kebijakan pajak yang diumumkan Macron, tetapi menuduhnya sebagai pelopor ‘globalisasi kejam’. “Dia menolak untuk mengakui bahwa model ekonomi yang dia banggakan selama ini berada dalam tanda tanya,” kata Le Pen.

Demonstrasi yang awalnya menentang kenaikan harga bahan bakar minyak pada 17 November itu berubah menjadi unjuk rasa menentang sejumlah isu lain seperti naiknya biaya hidup. Hingga unjuk rasa terakhir pada Sabtu pekan lalu (8/12), total lebih dari 4.500 peserta rompi kuning ditahan kepolisian Perancis. [kompas]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *