Bus Listrik, Awalnya Lelucon Jadi Calon Pembunuh Industri Minyak

Satu dari 2 unit bus listrik yang dipamerkan PT Bakrie & Brothers Tbk di pertemuan tahunan Bank Dunia dan IMF di Nusa Dua Bali, Oktober 2018. Bus ini diproduksi pabrikan bus listrik darfi China, BYD Auto Co. Ltd. (Andini/Tribun)

epicentrum.id Secara perlahan, kehadiran bus listrik mulai memberikan dampak negatif bagi industri minyak. Kebutuhan bahan bakar minyak pada tahun 2018 diperkirakan akan berkurang sebesar  279 ribu barrel per hari. Selain itu, produksi bus listrik Cina yang mampu menambah armada transportasi bus yang mencakup kota London tiap lima minggu.

Awalnya, tujuh tahun lalu, bus listrik dianggap sebagai sebuah lelucon pada sebuah  konferensi industri yang berlangsung di Belgia. Ketika itu, BYD, perusahaan pabrikan asal China memperlihatkan model awal pengembangan bus listrik.

“Semuanya tertawa pada BYD yang dianggap membuat sebuah mainan,” kenang Isbrand Ho, managing director BYD di Eropa. “ Dan lihatlah sekarang. Saat ini semuanya memilikinya,” tambahnya.

Tiba-tiba, bus bertenaga baterai  menjadi hal serius dengan potensinya mengubah wajah transportasi kota secara drastis. Ditambah lagi dengan kekuatannya mengubah industri energi. Saat ini, China melaju  di depan. Penggantian mesin-mesin diesel dengan mesin bertenaga listrik mulai menggerogoti sisi permintaan bahan bakar fosil ini.

Angkanya pun cukup fantastis. China memiliki 99% dari total jumlah bus listrik sebanyak 385 ribu unit yang beroperasi di jalan raya pada tahun 2017. Padahal, angka tersebut berkisar 17% dari total armada transportasinya. Setiap 5 minggu, kota-kota di China menambah 9500 unit transportasi emisi nol. Jumlah tersebut setara dengan seluruh armada transportasi yang beroperasi di London, sebagaimana diutarakan Bloomberg New Energy Finance.

Semua kondisi ini mulai mengakibatkan adanya pengurangan permintaan bahan bakar minyak. Ditambah bahwa bus konvensional mengkonsumsi bahan bakar minyak 30 persen lebih banyak dibanding kendaraan mobil biasa, hal ini memberikan dampak lebih besar dibanding kendaraan listrik berukuran sedan yang diproduksi Tesla ataupun Toyota.

Bus listrik kurangi permintaan minyak dunia

Jumlah kumulatif bahan bakar minyak global yang tergeser oleh keberadaan bus listrik dan kendaraan listrik pribadi.

Menurut perhitungan BNEF, setiap penambahan 1000 unit bus bertenaga listrik akan mengurangi permintaan bahan bakar diesel sebanyak 500 barrel per hari. Tahun ini, pengurangan volume permintaan akan semakin besar hingga 37 persen, atau mencapai angka 279 ribu barrel per hari akibat penambahan unit transportasi bertenaga listrik, termasuk mobil dan truk ringan. Jumlah tersebut setara dengan konsumsi bahan bakar yang dibutuhkan Yunani tiap tahunnya. Dari angka tersebut, sejumlah 233 ribu barrel per hari  berasal dari transportasi bus.

“Segmen ini hampir mencapai puncaknya,” ujar Colin McKerracher, Kepala Unit Riset Transportasi Bloomberg LP yang bermarkas di London. “Pemerintah kota di seluruh dunia saat ini menghadapi permasalahan buruknya kualitas udara perkotaan. Tekanan ini tidak akan menghilang. Menghadapi hal ini, penjualan bus listrik potensial mengeruk keuntungan,” tambahnya.

China menjadi yang terdepan dalam hal ini, karena kondisinya sebagai negara dengan permasalahan polusi udara paling buruk di seluruh dunia. Pertumbuhan populasi di perkotaan dan peningkatan kebutuhan akan energi, hal ini menimbulkan kabut asap sangat parah yang menyelimuti negara asal beruang panda ini. Akibatnya, menurut catatan perusahaan nirlaba Berkeley Earth pada tahun 2015, sebanyak 1,6 juta jiwa melayang akibat kabut asap yang mengerikan tersebut.

Permintaan bahan bakar minyak yang mulai tergantikan oleh bus listrik

Satu dekade lalu, Shenzhen adalah kota yang menjadi contoh pertumbuhan pesat kota modern di China Kota ini tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Kabut asap yang menyelimuti kota tersebut menjadi sangat terkenal, sehingga pemerintah China menjadikan kota tersebut sebagai kota percontohan program konservasi energi dan kendaraan beremisi nol pada 2009. Dua tahun sesudahnya, bus listrik pertama berhasil diproduksi dari pabrik BYD. Dan pada Desember tahun 2018, seluruh 16.359 unit bus dikonversi menjadi bertenaga listrik.

BYD menguasai 13 persen pangsa pasar bus listrik di China pada 2016. Produksinya sebanyak  14 ribu unit kendaraan sudah lalu lalang di kota Shenzhen saja. BYD telah memproduksi sebanyak 35 ribu unit, dengan kemampuan kapasitas produksi sebesar 15 ribu unit per tahun, ujar Ho.

Seorang pekerja sedang mengisi baterai bus listrik di Shenzhen, China (Qilai Shen/Bloomberg)

Menurut estimasi BYD, bus listrik produksinya telah menempuh jarak sejauh 17 milyar kilometer dan menghemat 6,8 miliar liter bahan bakar minyak sejak bus produksi mereka mulai mengangkut penumpang di kota-kota tersibuk dunia.

menurut Ho, keberadaan bus listrik mampu mengurangi hingga 18 juta ton polusi karbon dioksida. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 3,8 juta mobil yang diproduksi setiap tahunnya.

“Armada pertama bus listrik yang diproduksi BYD mulai operasional di Shenzhen pada 2011,” ungkap ho melalui telepon. “Sekarang, hampir 10 tahun kemudian, di kota-kota lainnya kondisi udara di perkotaan kian memburuk, sementara, kondisi di Shenzhen mengalami perbaikan yang sangat berarti,” ujarnya.

Bus listrik China dorong revolusi transportasi

Keberadaan bus listrik dan hibrid di China mendorong revolusi transportasi

Kota-kota lainnya pun memperhatikan langkah yang dilakukan Shenzhen. Mulai dari Paris, London, Mexico City, dan Los Angeles adalah beberapada dari 13 otoritas kota yang telah berkomitmen untuk hanya membeli kendaraan transportasi beremisi nol hingga 2025.

Secara perlahan, London meremajakan armada transportasinya. Saat ini, empat rute di pusat kota dilayani oleh unit standar yang telah beralih menggunakan tenaga listrik. Rencananya, melakukan investasi besar untuk membersihkan jaringan transportasi publiknya. Termasuk melakukan program retrofikasi  (retrofitting) sebanyak 5000 unit bus lama bertenaga diesel untuk memastikan semua bus bebas ulama pada 2037.

Bus listrik produksi BYD Co. ‘double decker’ yang dipajang pada EV Trend Korea 2018 in Seoul, Korea Selatan (12/4/2018) (SeongJoon Cho/Bloomberg)

Transport for London, sebagai pihak yang bertanggung jawab pada sistem transportasi kota London menolak berkomentar karena adanya aturan seputar keterlibatan dengan media menjelang pemilihan pemerintah lokal.

Tujuan-tujuan  ini akan memberikan dampak pada konsumsi bahan bakar minyak. Jaringan transportasi London membutuhkan bahan bakar minyak sebesar 1,5 juta barrel per tahun. Jika seluruh armada beralih menggunakan tenaga listrik, maka akan mengurangi kebutuhan sebesar 430 barrel diesel per hari untuk setiap 1000 unit bus listrik, menurut BNEF.

Di seantero Inggris Raya, ada sebanyak 344 unit bus bertenaga listrik dan hibrid pada 2017. BYD berharap terpilih sebagai pihak yang akan memberikan suplai unit bus listrik baru. BYD telah melakukan hubungan kemitraan dengan pembuat bus asal Skotlandia untuk menyediakan baterai bagi 11 unit bus listrik baru yang operasional di jalanan Glasgow pada bulan Maret.

Alexander Dennis Ltd, pabrikan asal Falkirk mulai membuat bus listrik pada 2016 dan dengan cepat menjadi pemimpin pasar di Eropa dngan lebih dari 170 kendaraan beroperasi di Inggris Raya saja.

Pekerjaan baru telah menanti. Otoritas transportasi London telah berencana untuk mengalihkan armada bus ikoniknya, “The double Decker” ke tenaga listrik.

“Teknologinya telah siap,” ujar Ho. BYD dengan pabriknya di China bersama mitranya Alexander Dennis di Skotlandia juga telah siap. Bila telah memperoleh kesepakatan, pihaknya akan segera bergerak. (bloomberg)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *