Geger Paus Mati Akibat Plastik, Bamsoet: Generasi Muda Harus Menyadarkan Lingkungan

Bangkai paus terdampar di Wakatobi. Paus ini mati karena makan sampah plastik (liputan6)

epicentrum.id, JAKARTA – Persoalan sampah plastik di laut yang telah menimbulkan berbagai persoalan yang komplek, seperti banyaknya temuan sampah plastik dalam tubuh ikan ataupun mamalia laut yang menggambarkan bahwa sampah plastik di lautan pada saat ini telah menjadi masalah serius yang harus segera diatasi. Sebagai contoh kasus terbaru seekor paus jenis Sperm Whale berukuran 9,5 meter yang ditemukan mati terdampar di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara akibat dari banyaknya mengkonsumsi berbagai aneka sampah plastik sebanyak 5,9 kg.

Ketua DPR Bambang Soesatyo berpesan bahwa sebaiknya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengkaji serta membahas solusi terbaik mengenai persoalan sampah yang telah mencapai tahap serius tersebut, terutama untuk meningkatkan upaya dalam menggunakan teknologi yang dapat mengurangi sampah dalam jumlah besar, khususnya memutus aliran sampah plastik ke laut, mengingat pencemaran plastik di laut dapat mengancam keanekaragaman kehidupan laut.

“KLHK bersama dengan Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL) untuk terus melakukan penanganan sampah, termasuk dengan mengatasi masalah lokasi pembuangan sampah dan dengan melalui berbagai program diantaranya bank sampah, pendidikan peduli sampah, pemilahan sampah dan kampanye tentang sampah,” ujar Bamsoet, panggilan akrab Bambang Soesatyo.

Bamsoet menyebutkan peran KLHK untuk masalah sampah plastik di laut juga luas. “KLHK dapat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah di lingkungan sekitar, sekaligus memfasilitasi pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil dan daerah pesisir,” kata Bamsoet.

Bamsoet mengingatkan Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk konsisten bekerjasama dengan KLHK dalam mengurangi dan menurunkan produksi sampah, di darat maupun di laut dengan melalui penanganan yang terintegrasi, baik dari tataran kebijakan hingga pengawasan implementasi kebijakan penanganan sampah plastik, khususnya sampah plastik laut.

Menurut Bamsoet, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Pemerintah Daerah (Pemda) bersama KLHK bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, mengingat masih banyaknya masyarakat yang menimbun sampah di tempat-tempat pembuangan liar ataupun membuang sampah sembarangan, serta memberikan edukasi dan pelatihan kepada petugas kebersihan serta SDM (Sumber Daya Manusia) yang bertugas mengelola sampah, agar sampah-sampah dapat dikelola dengan baik sesuai dengan jenisnya masing-masing, sesuai dengan UU Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Bamsoet juga menambahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dapat melakukan penelitian sebagai inovasi terhadap alternatif pengganti penggunaan plastik yang lebih ramah lingkungan.

Bamsoet mengapresiasi komitmen Pemerintah Indonesia dalam pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan sampah 70% pada tahun 2025 yang telah diatur dalam Peraturan Presiden No. 97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah.

“Generasi muda, baik dalam keluarga maupun masyarakat turut berperan aktif dengan menyebarkan pemahaman dan menjadi contoh nyata untuk tidak membuang sampah sembarangan,” tukas Bamsoet. (tim liputan)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *