Kisah ‘Si Buta’ dan ‘Si Budek’ ala Ma’ruf Amin

Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01, KH. Ma’ruf Amin, menyebutkan istilah buta dan budek, Sabtu (10/11). Namun, hal tersebut rupanya memicu kritikan dari berbagai pihak terkait istilah yang dianggap sebagai sindiran tersebut.

epicentrum.id, JAKARTA – Polemik dunia politik kembali dicederai dengan peryataan Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01, Ma’ruf Amin yang menyinggung istilah ‘buta dan budek’.

Hal tersebut rupanya menimbulkan komentar dan kritikan dari Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia yang menyebut pernyataan Ma’ruf Amin bahwa hanya orang buta dan budek tidak bisa melihat prestasi pemerintahan Joko Widodo.

Seperti dilansir viva.co.id, Ketua Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia, Yudi Yuspar mengungkapkan, meskipun pernyataan tersebut dilayangkan tanpa ada tujuan negatif, tetap mengganggu kenyamanan terhadap penyandang disabilitas.

“Perkataan buta dan budek inilah yang mengganggu, meskipun ada penjelasan tidak ada maksud menyinggung komunitas orang tertentu. Namun, yang kami tekankan adanya stigma, oh orang buta dan tuli mah tidak tahu keberhasilan pemerintah, apalagi membawa ayat Al-Quran,” ujarnya, Senin (10/11).

Seharusnya, lanjut Yudi, Ma’ruf Amin tidak menggunakan dua kata tersebut, karena khawatir menyudutkan kaum difabel.

“Konteksnya terlalu jauh, kalau itu dikaitkan (buta-budek). Disesalkan, kami khawatir disamakan dengan orang yang tidak tahu informasi dalam pembangunan,” tambahnya.

Padahal, Ma’ruf Amin bisa saja memilih kata lain jika ingin mengkritik beberapa pihak yang kurang mengetahui soal kinerja pemerintah.

“Kami berharap, khususnya kepada KH. Ma’ruf Amin, tolong memilih diksi yang menyejukkan rakyat supaya tidak kontroversi,” tandasnya.

Seperti dikutip cnnindonesia.com, cawapres nomor urut 01, KH. Ma’ruf Amin dalam acara peresmian posko dan deklarasi relawan yang mengatasnamakan Barisan Nusantara (Barnus) di kawasan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11) menyatakan menyindir sejumlah pihak yang kerap mengkritik kinerja Presiden Jokowi sebagai orang-orang budek (tuli) dan buta.

Mantan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut, kepada awak media memberikan klarifikasi atas pernyataan istilah budek dan buta yang ia gunakan. Semua yang dikatakannya, lanjut Ma’ruf, sudah ada di dalam Al-Qur’an.

“Yang dimaksud adalah ‘ṣummum, bukmun, ‘umyun’, yang tertera di surat QS al-Baqarah (2):18. Artinya orang yang tak mendengar, orang yang tak mau melihat, yang tak mau mengungkapkan kebenaran itu namanya bisu, budek, buta,” papar Kiai Ma’ruf.

Lebih lanjut Ma’ruf menyatakan perkataannya itu tidak dalam konteks buta dan tuli secara fisik.

“Tak ada konteks buta (fisik). Saya cuma bilang, yang tak mengakui itu kayak orang buta karena tak mau melihat. Kayak orang budek karena tak mau mendengar. Kayak orang bisu yang tak mau ungkapkan kebenaran. Itu saja sebenarnya. Kalimat itu juga biasa bunyi di Alquran. Lihat saja di Alquran kalau tak percaya,” urai Kiai Ma’ruf. [*]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *