Nah Ini Dia Jasa Besar KH Hasyim Asy’ari Untuk Revolusi 1945

KH. Hasyim Asy’ari. (Photo/ Pewarta Indonesia)

Selama ini masyarakat hanya mengingat Resolusi Jihad yang dikeluarkan Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, Rais Aam Nahdhatul Ulama yang disampaikan pada 22 Oktober 1945 dengan tujuan agar kaum santri tergerak berjuang di jalan Allah (jihad fi sabilillah) untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun tidak banyak yang mengetahui, apa yang menjadi alasan Resolusi Jihad tersebut dikumandangkan oleh Yai Hasyim, bagaimana efek resolusi jihad tersebut, serta peran penting kaum ulama dalam berperan serta melawan serbuan penjajah yang ingin kembali menegakkan kolonialisme di bumi Indonesia.

Berikut ini jasa besar Yai Hasyim dalam revolusi kemerdekaan Indonesia:

1. Pencetus Persatuan Umat Islam Indonesia

Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Abdul Wahab Hasbullah, K.H. Bisri Syansuri dan para ulama di Kabupaten Jombang mendirikan Nahdhatul Ulama pada tanggal 16 Rajab 1344 atau 31 Januari 1926 dengan tujuan mencari jalan tengah (washathiyah) bagi konflik pemikiran umat Islam kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah baik yang ekstrem rasionalis (aqliyah) maupun tekstualis (naqliyah).

Pada awal abad 20, umat Islam sedunia sedang demam gerakan pembaharuan pemikiran keagamaan (Tajdid Al Afkar) yang didorong tiga pelopor Pan-Islamisme, yaitu Syekh Jamaluddin Al Afghani, Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Muhammad Rasyid Ridha.

Tesis ketiga intelektual Pan-Islamisme yang didukung Khalifah Usmaniyah di Istanbul ini secara sederhana adalah, kemunduran umat Islam dari dunia Barat diakibatkan kebekuan (jumud) pemikiran, ditutupnya pintu usaha menghasilkan pemikran baru (ijtihad) serta mengutamakan tradisi alih-alih rasionalitas ala kemajuan Barat.

Di pihak lain, sebagian umat Islam terlalu mengedepankan pemikiran tradisional sembari menolak kemajuan di era modern. Konflik dua pemikiran ini berkembang ke bidang ekonomi dan sosial budaya bahkan politik sehingga menyebabkan umat Islam, termasuk di Hindia Belanda terancam terpecah belah dalam menghadapi kolonialisme Barat.

Maka didirikanlah Nahdhatul Ulama yang bertujuan menengahi perseteruan pemikiran tersebut, lebih jauh lagi bahkan Yai Hasyim mengajak Ki Bagus Hadikusumo dan K.H. Mas Mansyur dari Muhammadiyah, K.H. Abdul Halim dari Persatuan Umat Islam Majalengka, K.H. Ahmad Sanusi dari Persatuan Umat Islam Indonesia mendirikan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada tahun 1938.

MIAI dibubarkan pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, kemudian Jepang meminta Yai Hasyim mengganti MIAI dengan organisasi baru Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) pada bulan Oktober 1943, dengan Yai Hasyim sebagai Pemimpinnya.

Para ulama kemudian menetapkan Masyumi sebagai satu-satunya partai politik umat Islam dalam Kongres Umat Islam di Yogyakarta 7-8 November 1945, dengan K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Ketua Majelis Syura.

2. Resolusi Jihad Adalah Bukti Nyata Dukungan Umat Islam Bagi NKRI

Tak banyak yang mengetahui bahwa tujuh kata dalam Piagam Jakarta dan Batang Tubuh UUD 1945, “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” adalah jasa Bung Karno dalam Sidang BPUPKI tanggal 22 Juni 1945.

Saat itu kaum Nasionalis dalam BPUPKI adalah kekuatan dominan, menolak tujuh kata tersebut yang merupakan buah pemikiran K.H. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Abikusno Cokrosuyoso dan Prof. Abdul Kahar Muzakir dalam Panitia Sembilan Penyusun Undang-Undang Dasar.

Bung Karno-lah yang memecahkan kebekuan sidang penetapan Undang-Undang Dasar, walaupun kemudian tujuh kata tersebut dihapus dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 atas usulan Bung Hatta, sebuah usulan yang ditanggapi secara legowo oleh para pengusungnya.

Namun, Bung Karno yang berjiwa besar dapat memahami perasaan para ulama yang kecewa dengan penghapusan tujuh kata tersebut, maka Bung Karno langsung sowan kepada Yai Hasyim di Jombang, saat itu menjadi tokoh yang dituakan umat Islam.

Pertemuan bersejarah tersebut berhasil menjembatani hubungan negara yang baru berdiri tersebut dengan umat Islam yang konsisten menentang kolonialisme, bahkan Yai Hasyim mengumpulkan ulama se-Jawa dan Madura pada 21-22 Oktober 1945 yang ditutup dengan pernyataan Resolusi Jihad

Resolusi Jihad berisi kewajiban umat Islam wajib berjihadi di jalan Allah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan gugur saat berjuang membela kemerdekaan adalah syahid.

3. Inisiatif Pelatihan Militer Hizbullah Untuk Santri

Saat pendudukan Jepang, Yai Hasyim adalah tokoh yang berani menolak kewajiban seikerei, upacara membungkukkan kepala dan badan ke arah Timur saat matahari terbit, sebagai simbol penghormatan bangsa Indonesia kepada Tenno Heika, Kaisar Jepang yang dianggap keturunan Dewa Matahari.

Yai Hasyim menganggap upacara tersebut adalah syirik, menyekutukan Allah dengan makhluk yang fana, dan penolakan ulama Jombang tersebut berakibat dirinya dipenjara dan disiksa oleh Kempeitai, polisi militer Jepang.

Akibat dipenjarakannya Yai Hasyim, umat Islam marah dan bersiap bertempur walau hanya dengan senjata golok dan bambu runcing, tentu saja mengakibatkan penguasa militer Jepang menjadi takut walaupun mereka memiliki senjata lebih modern.

Maka Yai Hasyim dibebaskan dari penjara setelah ditahan enam bulan, bahkan Yai Hasyim diajak mendirikan kembali organisasi pemersatu umat Islam dengan nama Masyumi pada bulan Oktober 1943, sebagai bentuk permintaan maaf dan penghormatan Jepang terhadap karisma Yai Hasyim.

Lebih jauh lagi, Jepang yang melihat potensi militan umat Islam dalam bertempur, memanfaatkannya dalam pembentukan Korps Sukarelawan Pembela Tanah Air (Boei Giyugun Renseitai) atau yang dikenal dengan nama PETA (Pembela Tanah Air).

Jepang mengajak para ulama, guru sekolah, serta tokoh yang memiliki pengaruh besar menjadi komandan batalyon atau Daidancho, para ulama dan santri yang menjadi Daidancho antara lain K.H. Syam’un, K.H. Tubagus Ahmad Khatib, Kasman Singodimejo, Mulyadi Joyomartono, dan hampir seluruh batalyon PETA di Jawa Timur.

Tidak hanya PETA, Jepang mengajak para ulama mendirikan barisan milisi khusus untuk para santri dengan nama Hizbullah (Partai Allah), atas inisiatif K.H. Wahid Hasyim, putra Yai Hasyim dan K.H. Wahib Wahab, putra Yai Wahab Hasbullah.

Setelah dilatih selama tiga bulan, pada bulan April 1945, barisan Hizbullah dilantik dengan K.H. Wahid Hasyim sebagai pemimpin dan K.H. Zainul Arifin sebagai komandan seluruh laskar, K.H. Wahib Wahab menjadi Komandan Hizbullah di Jombang pada bulan Oktober 1945.

PETA dan Hizbullah menjadi embrio pembentukan militer Indonesia, TKR dan Laskar Hizbullah bahu-membahu menghadapi pasukan Sekutu, Belanda bahkan saat menghadapi pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, Hizbullah sendiri baru difusikan ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada tanggal 3 Juli 1947.

4. Menggerakkan Rakyat Mempertahankan Surabaya Dari Gempuran Sekutu

Saat Panglima Divisi India 5, Mayjen Eric Mansergh mengancam akan membombardir Surabaya dari darat, laut dan udara pada tanggal 10 November 1945, para pemimpin pertahanan kota Surabaya memutuskan untuk menggerakkan seluruh rakyat untuk membela kota pelabuhan tersebut dari gempuran Sekutu.

Adalah Bung Tomo, sang orator dan pemimpin bagian penerangan Komando Pertahanan Kota Surabaya, kemudian mendatangi K.H. Hasyim Asy’ari di Jombang pada 9 November 1945, tidak lain dengan tujuan meminta Yai Hasyim menggerakkan seluruh rakyat dan kaum santri ke medan tempur Surabaya.

Para prajurit dari kelompok Nasionalis, Islam dan Sosialis bahkan perlu sowan kepada para kiai, meminta doa restu agar berani menghadapi Sekutu yang didukung pesawat, kapal perang, meriam artileri dan tank, sementara dapat dikatakan pasukan Indonesia belum memiliki pengalaman tempur.

Sehingga walaupun pertempuran Surabaya baru benar-benar berakhir setelah perundingan Linggajati bulan November 1946, atau berjalan setahun penuh, pasukan Inggris yang merupakan pemenang perang dunia melawan Jepang dan Jerman mengakui kegigihan atau kenekatan rakyat Surabaya.

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *