Hei Millenial! Giliran Kamu Yang Jadi Pahlawan

Masa depan bangsa Indonesia ada di genggaman generasi millenial.

epicentrum.id, JAKARTA – Berbicara generasi penerus bangsa atau yang lebih dikenal dengan istilah millenial, tak lepas dari peran aktif pemuda masa kini yang kian banyak bergelut di berbagai bidang. Peran aktif remaja yang masih berstatus pelajar SMP atau SMA, mahasiswa, hingga para pekerja yang masih terbilang cukup muda di berbagai aspek dunia kerja.

Dilansir dari Republika Online, istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.

Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 – 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Awal 2016 Ericsson mengeluarkan 10 Tren Consumer Lab untuk memprediksi beragam keinginan konsumen.

Laporan Ericsson lahir berdasarkan wawancara kepada 4.000 responden yang tersebar di 24 negara dunia. Dari 10 tren tersebut beberapa di antaranya, adalah adanya perhatian khusus terhadap perilaku generasi millennial.

Masuknya era digital yang kian marak merambah hingga ke Indonesia, campur tangan generasi millenial pun melekat di dalamnya. Sebut saja salah satu aplikasi penunjang transportasi via online seperti PT. Karya Anak Bangsa yang digagas Nadien Karim beserta kawan-kawannya. Bahkan, santer terdengar belakangan ini aplikasi online buatannya tengah ekspansi ke sejumlah negara di Asia Tenggara, seperti Vietnam dan Thailand.

Hal tersebut rupanya menjadi salah satu acuan anak muda kekinian memandang tentang peran pemuda sebagai suatu bentuk jasa terhadap bangsa dan negara. Bentuk kebanggaan terhadap bangsa dan negara ini dirasa laik jika disebut sebagai ‘pahlawan’ meski tidak harus berperang secara fisik hingga menimbulkan pertumpahan darah. Karena, saat ini kita dituntut untuk lebih kretif dan inovatif dari segala aspek demi mengharumkan nama bangsa.

Namun sayang, generasi millenial sempat dirusak dengan sejumlah insiden yang membuat sebagian orang pupus harapan. Sebagai bukti, akhir-akhir ini ramai diberitakan sejumlah siswa sekolah tingkat atas melakukan tindakan kriminal, mulai dari pencurian, pemerkosaan, hingga tawuran yang berujung kematian. Ada pula pemberitaan terkait siswa yang dipukul atau diberi hukuman oleh gurunya, namun guru tersebut malah mendapat hukuman pengadilan.

Peran mahasiswa sebagai aktor lapangan yang kritis terhadap penguasa, kini dianggap melempem atau nyaris tak terdengar di telinga masyarakat. Keluhan para ibu soal harga bahan pangan yang terus melonjak naik misalnya.

Keluhan tersebut rupanya dianggap ‘angin lewat’ oleh sejumlah mahasiswa yang justru hanya bisa datang ke kampus, masuk kuliah, duduk di kelas mendengarkan materi dosen, nongkrong di kantin, hingga waktu kuliah selesai pun mereka pulang. Bahkan, mahasiswa kekinian yang kerap tampil modis, bisa jadi tak perduli dengan kondisi negara saat ini.

Mungkin Soekarno tidak akan pernah menjadi presiden jika masa mudanya hanya diisi dengan keresahan hati tanpa tahu solusinya. Atau bisa saja Habibie hanya menjadi pilot jika ia tidak menjadi ‘pahlawan’ saat itu.

Oleh karenanya, diperlukan peran generasi millenial agar dapat menjadi ‘pahlawan’ bagi bangsa dan negara, khususnya bisa menjadi suatu kebanggaan untuk orang tua agar dapat lebih memaknai pentingnya menyongsong masa depan. Karena, peran anak muda kekinianlah yang tentunya akan menjadi ‘pahlawan’ di masa yang akan datang. [*]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *