Gaes, Ini Lima Fakta Bung Tomo yang Perlu Kamu Ketahui

Epicentrum.id – Kalau kita bicara soal hari Pahlawan 10 November, tentu kita semua ingat peran Bung Tomo dalam mengobarkan semangat rakyat Indonesia di Surabaya dalam melawan pasukan Inggris dan Belanda yang hendak kembali menjajah Indonesia.

Pidato pria bernama asli Sutomo kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920 ini sangat membakar semangat, sekaligus menyatukan rakyat yang saat itu masih belum berpengalaman secara militer untuk melawan pasukan Sekutu yang baru saja menang perang lawan Jepang.

Di samping pidatonya yang terkenal, ada beberapa fakta yang jarang diketahui publik tentang sosok Bung Tomo, berikut ini di antaranya

1. Pidato Bung Tomo Selalu Diawali Basmalah dan Diakhiri Takbir

Peristiwa 10 November adalah salah satu pertempuran yang paling banyak diikuti para kiai dan santri dari seluruh Jawa dan Madura.

Sebelumnya para kiai se-Jawa Madura dikumpulkan Rais Aam Nahdatul Ulama Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari di Surabaya, pada 21-22 Oktober 1945 yang menghasilkan Resolusi Jihad bahwa umat Islam wajib berjihad fi sabilillah untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Karena Resolusi Jihad itulah, Bung Tomo terlebih dahulu sowan kepada Yai Hasyim, tersebut untuk meminta dukungan spiritual para kiai dalam rangka menghadapi Inggris yang mengancam akan menyerbu Surabaya dari darat, laut dan udara pada 10 November.

Oleh karena itu, Bung Tomo selalu mengawali pidatonya yang berapi-api dengan mengucap ‘Bismillahirrahmanirrahim’ dan mengakhirinya dengan ‘Allahuakbar’, sebagai kode bahwa pertempuran melawan Inggris dan Belanda adalah jihad.

Dengan pekik merdeka berbalut takbir inilah Bung Tomo menggerakkan pertempuran lewat radio, walaupun menurut Marjolein van Pagee dari komunitas Histori Bersama, pidato Bung Tomo diingat kaum Indo Belanda di Surabaya sebagai pidato kaum ekstremis.

2. Tak Pernah Bertempur, Tapi Berpangkat Jenderal

Pemimpin militer di Surabaya sebenarnya adalah trio Moestopo, Jonosewojo dan Soengkono, Moestopo mengangkat diri sebagai Menteri Pertahanan RI, Jonosewojo adalah Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Karesidenan Surabaya, sementara Soengkono adalah Komandan Pertahanan Kota Surabaya.

Tapi Bung Tomo yang lebih dikenal, karena dirinya yang pernah menjadi wartawan Antara di jaman Kolonial Belanda dan Domei di jaman pendudukan Jepang tersebut berada di bagian Penerangan BKR Surabaya.

Bung Tomo dilantik pada 3 Juli 1947 sebagai Mayor Jenderal berpose bersama pucuk pimpinan TNI: (dari ki-ka) Komodor Udara Suryadarma (Kepala Staf AURI), Letjen Urip Sumoharjo (Kepala Staf Umum TNI), Mayjen Sutomo/Bung Tomo (Pemimpin Laskar BPRI), Jenderal Sudirman (Panglima Besar TNI), Mayjen Sakirman (Pemimpin Laskar Rakyat), Laksamana III Nazir (Kepala Staf ALRI), Mayjen Jokosuyono (Kepala Biro Perjuangan Kementerian Pertahanan).

Bung Tomo yang di masa remajanya aktif di Kepanduan Hindia Belanda tersebut hanya ditugaskan berpidato dengan tujuan membakar semangat, menjaga persatuan, sekaligus menyebar kode rahasia tertentu kepada pasukan Indonesia yang tidak memiliki alat komunikasi selain radio pada masa itu.

Bung Tomo yang memimpin sendiri laskar bentukannya, Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (BPRI), kemudian diangkat menjadi salah satu pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 5 Juli 1947 dengan pangkat Mayor Jenderal, saat laskar BPRI dilebur ke dalam TNI.

Tapi Bung Tomo tak lama menjadi Jenderal, karena sikapnya yang selalu berseberangan dengan Perdana Menteri Amir Syarifuddin yang merangkap jabatan Menteri Pertahanan, karena Amir yang kemudian terlibat Pemberontakan PKI di Madiun tersebut melarang Bung Tomo berpidato.

“Ora dadi jenderal ora patheken (tidak jadi jenderal, tidak mati),” demikian diceritakan oleh istrinya, Sulistina Sutomo.

3. Peduli Ekonomi Rakyat, Ajak Tukang Becak Bangun Pabrik Sabun

Pada tahun 1950-an seusai kedaulatan Indonesia diakui Belanda, Bung Tomo tetap aktif mengorganisasikan kekuatan rakyat, hanya saja tidak lagi dalam pertempuran melainkan dalam pembangunan.

Sebagai seseorang yang sangat perhatian terhadap ekonomi rakyat, Bung Tomo mengumpulkan iuran dari tukang becak se-Surabaya untuk mendirikan pabrik sabun, tentu saja sabun berharga murah dan terjangkau rakyat.

Bung Tomo sangat aktif mendorong penguatan ekonomi rakyat, bahkan dalam kampanyenya sebagai calon anggota DPR dari Partai Rakyat Indonesia (PRI) dalam Pemilu 1955, beliau menjadi ekonomi kerakyatan sebagai program utama partai.

Sayangnya, PRI hanya mendapat 2 kursi masing-masing di DPR dan Konstituante sehingga kurang memiliki pengaruh untuk mempengaruhi kebijakan ekonomi.

4. Paling Membanggakan, Menteri Veteran Pertama Dalam Sejarah Indonesia

Tidak banyak yang mengetahui Bung Tomo pernah menjadi Menteri Negara urusan Bekas Pejuang (Veteran) pertama, diangkat oleh Perdana Menteri Burhanuddin Harahap bulan Agustus 1955 sebagai wakil dari PRI.

Bung Tomo diangkat menjadi Menteri Veteran karena sangat peduli pada nasib bekas pejuang kemerdekaan baik dari TNI maupun laskar, Bung Tomo sendiri lebih dikenal sebagai tokoh laskar berpangkat Mayor Jenderal.

Bung Tomo kemudian menjadi salah satu pendiri Legiun Veteran Republik Indonesia yang diketuai Brigjen TNI (Purn.) Sambas Atmadinata, sebuah organisasi yang didirikan dengan tujuan memperhatikan kesejahteraan bekas pejuang kemerdekaan dan operasi militer Indonesia.

Bung Tomo saat ditahan di Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya karena menentang penyerbuan kampus 9 Februari 1978.

5. Wafat Di Padang Arafah Musim Haji 1981

Di usia tuanya, Bung Tomo dikenal sebagai tokoh yang kritis terhadap kekuasaan Presiden Soekarno yang otoriter dan akomodatif terhadap PKI.

Bung Tomo memang dikenal dengan sikap anti komunisnya, walaupun memiliki banyak teman dari golongan komunis namun sikap anti komunis Bung Tomo lebih disebabkan prinsip perbedaan ideologi.

Bung Tomo dikenal sebagai Nasionalis sejati, berkomitmen terhadap demokrasi dan menentang keras kekuasaan otoriter, sekaligus penganut Islam yang taat.

Di saat tensi perlawanan terhadap kekuasaan Presiden Soeharto meningkat, memuncak dengan penyerbuan kampus-kampus di seluruh Indonesia pada bulan Februari 1978, Bung Tomo bersuara keras menentang operasi militer tersebut.

Namun tidak ada yang berani menganggu arek Suroboyo yang dikenal nekat dan urat takutnya sudah putus, sehingga saat Bung Tomo memutuskan berhaji pada tahun 1981, Pemerintah tidak berani mencekal.

Saat Bung Tomo berangkat haji, sebenarnya sudah mulai sakit-sakitan, namun karena jiwanya yang keras tetap saja sang orator tersebut berangkat menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Dan maut akhirnya menjemput, saat 1 juta jamaah haji sedang berwukuf di Arafah, Bung Tomo menghembuskan nafasnya yang terakhir pada 7 Oktober 1981.

Bung Tomo sempat dimakamkan di pemakaman jamaah haji di Arafah, untuk kemudian dipindahkan ke Taman Pemakaman Umum Ngagel Surabaya, sesuai wasiat.[Tim Liputan]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *