Tidak Terima! Ini Pembelaan Lippo Karawaci Setelah Fitch Turunkan Peringkat

ilustrasi (foto: ist)

epicentrum.id, JAKARTA – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) tak terima dengan keputusan lembaga pemeringkat internasional, Fitch Rating yang pangkas peringkat kreditnya dari B menjadi CCC+. Pihak perusahaan menilai kondisi likuiditas perusahaan yang paling disoroti oleh Fitch sudah membaik pasca-perusahaan melakukan divestasi kepemilikan Meikarta dan REIT dari sejumlah asetnya yang lainnya.

Corporate Communications Lippo Karawaci Danang Kemayan Jati mengatakan keputusan yang diambil oleh lembaga rating tersebut tidak berdasar. Karena perusahaan telah menyelesaikan fase pertama dari rencana divestasi aset keseluruhan sejumlah Rp 6 triliun, berada pada posisi yang tepat dalam pengelolaan arus kas dan neraca sehingga siap memasuki tahap pertumbuhan berikutnya.

“Proyek-proyek divestasi aset ini sedang dalam tahap penyelesaian akhir, dan meskipun risiko dalam pelaksanaannya tetap ada, kami berkeyakinan karena tingginya kualitas aset-aset kami akan memberikan tingkat kepastian penyelesaian yang tinggi di tengah-tengah volatilitas pasar pada saat ini,” tulis Danang dalam siaran persnya, Senin (5/11).

LPKR akan berada dalam posisi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan likuiditasnya, dan bahkan dapat memanfaatkan peluang-peluang yang menarik yang sesuai dengan volatilitas pasar.”

Divestasi aset yang dimaksud adalah Bowsprit Capital Corporation Limited dan First Reit dari Bridwater International Limited senilai Rp 2,2 Triliun. Lalu penjualan Lippo Mall Puri ke Lippo Mall REIT dan penjualan sisa unit di First Reit, serta saham investasi di rumah sakit di Myanmar, dari seluruh transaksi tersebut perrusahaan diperkirakna akan mengumpulkan dana tunai bersih lebih dari Rp 6 triliun.

Lebih lanjut, dia menyebutkan bahwa saat ini perusahaan memiliki profil utang jangka panjang yang ditunjang dengan nilai aset yang memiliki potensi kenaikan 20%-30% dalam beberapa tahun ke depan. Sementara saat ini aset perusahaan bernilai sebesar Rp 53 triliun.

Jumlah utang yang akan jatuh tempo tersebut bernilai sebesar Rp 14 triliun, dengan penjabaran obligasi sebesar US$ 75 juta (Rp 1,12 triliiun/kurs Rp 15.000/US$) jatuh tempo pada Juni 2020, obligasi 410 juta (Rp 6,15 triliun) yang akan mature pada 2022 dan obligasi senilai US$ 425 juta (Rp 6,37 triliun) jatuh tempo pada 2026.

Selain itu, mega proyek Meikarta digadangkan menjadi sumber pendapatan perusahaan karena terjual dalam skala yang besar. “Hal ini akan mentransformasi skala dan dinamisme LPKR sebagai perusahaan yang menghasilkan penjualan sekitar US$ 500 juta-US$ 1 miliar, menjadi perusahaan yang menghasilkan sekitar US$ 3 miliar-US$ 7 miliar per tahun,” jelas dia. (cnbcindonesia)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *