OJK Bantah Ada “Perang” Deposito Memperebutkan Dana Nasabah

epicentrum.id, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membantah isu perang suku bunga deposito antarbank demi memperebutkan dana nasabah di tengah pengetatan likuiditas bank. Pengetatan likuiditas bank tercermin dari data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mencatat tingkat rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) bank mencapai 94 persen.

Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengakui likuiditas bank memang mengetat, namun kondisi ini diklaim masih cukup aman karena permodalan masih tinggi dan risiko kredit bermasalah cukup rendah. Selain itu, bank juga memiliki penyanggah atau buffer likuiditas ketika semakin ketat.

Data OJK mencatat rasio permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) bank masih sekitar 23 persen. Lalu, rasio kredit bermasalah (Nonperforming Loan/NPL) gross masih di kisaran 2,66 persen dan NPL net 1,7 persen. 

“Jangan lupa, bank juga punya buffer likuiditas yang cukup besar. Dengan tingkat likuiditas saat ini, semua BUKU (Bank Umum Kegiatan Usaha) masih punya buffer, kami lihat juga per bank,” ujarnya, dikutip Jumat (2/11).

Meski likuiditas bank ketat, namun ia melihat hal ini tidak otomatis menunjukkan sinyal perang tingkat suku bunga deposito atas simpanan nasabah. Sebab, tingkat bunga deposito bank saat ini lebih banyak terpengaruh oleh bunga acuan dari Bank Indonesia (BI), ketimbang pasar bunga deposito bank. 

Makanya, ia menilai wajar kalau bank sudah cukup cepat mengerek bunga deposito mereka karena bank sentral nasional sudah menaikkan bunga acuannya hingga 150 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen dari Mei-September 2018.

Data LPS per 30 April-26 Oktober 2018 mencatat kenaikan bunga deposito bank secara industri telah mencapai 117 bps. Sedangkan bunga deposito BUKU I telah naik sebesar 53 bps, BUKU II 66 bps, BUKU III 114 bps, dan BUKU IV 132 bps. Sementara, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara industri sebesar 6,66 persen pada September 2018.

Lebih rinci, DPK BUKU I turun dari 10,6 persen pada September 2017 menjadi 2,2 persen pada September 2018. Kemudian, DPK BUKU II anjlok dari 13,2 persen menjadi 3,1 persen. Lalu, BUKU III dari 9,9 persen menjadi 2,9 persen. Tak ketinggalan, BUKU IV dari 18,6 persen menjadi 9,9 persen.

“Yang mengatakan perang bunga itu siapa? Belum lah. Artinya, BUKU I-II walaupun dia sedikit tergerus likuiditasnya, tapi belum terlalu membuat mereka untuk jor-joran menaikkan suku bunga. Pertumbuhan DPK memang lebih tinggi pada BUKU III-IV, bunganya juga, saya tidak menyangkal itu, tapi lihat historikalnya tidak seperti itu,” jelasnya.

Ke depan, Heru bilang lembaganya akan terus memantau perkembangan likuiditas bank, baik secara industri, kelompok, hingga per bank. Bersamaan dengan itu, ia memastikan OJK juga akan terus berkoordinasi dengan BI untuk mengkaji kebijakan yang bisa memberi stimulus pada likuiditas bank.

Sayang, ia enggan merinci kebijakan apa yang tengah dikaji itu. “BI juga akan tetap longgarkan likuiditas,” imbuhnya.

Sebelumnya, Anggota Dewan Komisioner LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) Destry Damayanti menilai tingkat likuiditas bank saat ini seharusnya sudah patut diwaspadai karena LDR sudah mencapai kisaran 94 persen. 

Apalagi, pertumbuhan DPK tidak sekencang pertumbuhan kredit yang telah mencapai 12,69 persen pada September 2018. “Itu termasuk batas yang perlu diwaspadai karena batas aman ada di kisaran 92 persen,” ucapnya.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai kondisi likuiditas bank saat ini sejatinya sudah memberi sinyal perang bunga deposito. Hal ini terindikasi pertumbuhan DPK BUKU III-IV yang cukup tinggi sejalan dengan tingginya kenaikan bunga deposito mereka. 

Hal ini, ia menduga hal itu terjadi karena perebutan dana nasabah. “Terjadi perebutan dana nasabah yang berujung pada perang suku bunga. Bunga deposito bank besar harus berhadapan dengan bank-bank kecil,” pungkasnya. (cnnindonesia)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *