Nasib Kerjasama Ekonomi Indonesia Australia Tergantung Politik Luar Negeri Masing-Masing

epicentrum.id, JAKARTA – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut penandatanganan perjanjian kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Australia, Indonesia Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA CEPA) bergantung pada keputusan politik luar negeri. Namun, seluruh substansi kesepakatan dalam perjanjian kerja sama tersebut telah disepakati.

“Dengan Australia sudah selesai legal scrubbing (harmonisasi aturan), semuanya selesai. Tinggal waktu penandatanganan dan itu ditentukan oleh keputusan politik luar negeri,” ujarnya di Nusa Dua, Bali, Kamis (1/11).

Enggar berharap perjanjian perdagangan yang telah mengatung selama 13 tahun itu dapat menguntungkan kedua negara.

Kendati demikian, ia belum dapat memastikan kapan perjanjian tersebut bisa diteken dengan situasi saat ini.

Padahal, sebelumnya ia menargetkan perjanjian dapat diteken pada bulan ini. “Yang prinsip buat saya, substansi sudah selesai. Tinggal tanda tangan saja sebenarnya,” terang dia.

Indonesia saat ini tengah bersitegang dengan Australia setelah Canberra berencana merelokasi kedutaan untuk Israel ke Yerusalem pada pertengahan bulan lalu.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyatakan pertimbangan pemindahan kedutaan tersebut muncul karena proses perdamaian antara Israel dan Palestina tak kunjung usai.

Jika terjadi, langkah tersebut secara politik menunjukan Australia mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Di hari yang sama, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bahkan memanggil Duta Besar Australia di Jakarta, Gary Quinlan, untuk meminta penjelasan lebih detail mengenai rencana perdana menterinya itu.

Isi Kesepakatan

Direktur Perundingan Perjanjian Internasional Iman Soebagyo menyebut IA CEPA tak hanya memuat pembebasan bea masuk pada banyak produk Indonesia. Perjanjian tersebut juga mengatur kesempatan kerja bagi pelajar Indonesia di negara tersebut.

“Ada banyak poin kesepakatan, salah satunya pelajar kita di sana bisa memperoleh kesempatan kerja, tentu tidak selamanya tapi dalam jangka waktu tertentu,” katanya.

Dalam perjanjian IA CEPA, sebanyak 7.000 pos tarif ekspor Indonesia juga dipastikan akan mendapat fasilitas bea masuk nol persen ke Australia.

Direktur Perdagangan Bilateral Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini sebelumnya menyebut beberapa contoh pos tarif yang dibebaskan bea masuk impornya, yakni produk tekstil, otomotif, kopi, cokelat, kertas, hingga permesinan. (cnnindonesia)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *