OJK dan BI Lakukan Ini Demi Longgarkan Likuiditas Bank

foto: Konferensi Pers KSSK (CNBC Indonesia/Ranny)

epicentrum.id, JAKARTA – Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana mengakui saat ini likuiditas perbankan semakin mengetat. Hal ini dikarenakan perbankan aktif menyalurkan, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) seret.

Pada September 2018, kredit perbankan sudah tumbuh 12,96%. Sementara DPK hanya tumbuh 6,6%. Hal ini membuat loan to deposit ratio (LDR) menyentuh 93%.

“Adanya gap ini membuat LDR kita sampai 93%. tetapi jangan lupa bank kita ada buffer likuiditas. Kita akan tetap kerja sama dengan BI untuk menjaga ini,” ujar Heru dalam konferensi pers laporan perekonomian kuartal-III 2018 KSSK di Kementerian Keuangan, Kamis (1/11/2018).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menambahkan BI dan OJK terus memantau likuiditas perbankan. Kedua regulator ini juga melihat lebih dalam pada kelompok bank pasar keuangan.

“Kami terus komunikasi antara BI dan OJK. Likuiditas itu harus cukup tidak boleh berlebih dan kurang,” ujar Perry.

Perry menjelaskan untuk melihat likuiditas jangan melihat dari DPK dan kredit tetapi berapa besar alat likuid.

“Tidak ada kesulitan likuiditas baik bank maupun pasar uang. Tetapi kami sudah menginstruksikan kalau ada kekurangan kami akan pastikan rupiah cukup gak boleh lebih atau kurang,” jelas Perry.

Sebelum LPS melaporkan pada September 2018, bank BUKU 3 agresif menawarkan bunga deposito spesial rate.

Suku bunga special rate bank Buku 3 mencapai 7,17%. Sementara untuk bank Buku 4, 2 dan 1 masing-masing sebesar 6,96%, 6,91% dan 6,9%. Perang bunga deposito spesial rate ini merupakan salah satu indikasi ketatnya likuiditas. (cnbcindonesia)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *