Bamsoet Sebut Hambatan Pengembangan Kendaraan Listrik, Apa Saja Ya?

ilustrasi (detik/Foto: Hasan Al Habshy)

epicentrum.id, JAKARTA – Mobil Low Carbon Electric Vehicle (LCEV) seperti mobil listrik, hybrid, dan plug-in hybrid sedang digalakkan di Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sudah menggodok regulasi yang terkait peredaran LCEV di Indonesia.

Namun menurut Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang dikenal sebagai salah satu tokoh publik yang menggenjot mobil listrik di Indonesia, ada hambatan yang membuat kendaraan listrik di Indonesia belum juga kelihatan, karena memang dalam pengembangan kendaraan listrik, perlu ada penahapan yang dijalankan secara terpadu.

“Hambatannya masih kembali kepada produsen-produsen raksasa yang selama ini masih memiliki produk yang berbahan bakar minyak, karena memang harus bertahap kalau tidak mereka akan rugi besar,” kata Bamsoet di sela-sela acara Motor Besar Indonesia di Hotel Sahid, Lippo Cikarang akhir pekan kemarin.

“Karena dia harus berpikir melempar ke negara mana lagi yang lebih rendah kemajuannya, untuk menampung produk-produk mereka yang masih berbahan bakar minyak,” sambung Bamsoet yang sudah memiliki mobil listrik Tesla Model S dan Model X sebagai bentuk promosi penggunaan mobil listrik.

Ia kemudian mengatakan bahwa sudah saatnya Indonesia beralih ke kendaraan listrik. Selain bisa mengurangi subsidi BBM pemerintah, juga menekan tingkat polusi yang dikeluarkan mesin berbahan bakar fosil.

Dilihat dari sisi ekonomis, Bamsoet membeberkan keuntungannya dibandingkan dengan kendaraan konvensional, seperti penggunaan mobil listrik yang dimilikinya, Tesla. “Setiap ngecharge itu dalam waktu 2 sampai 3 jam untuk 400 km, hanya maksimum Rp 15 ribu, kalau saya pakai ke kantor itu bisa sampai satu minggu, jadi sangat murah sekali,” ungkap Bamsoet.

Dari segi perawatan pun sangat murah. Bahkan, kata Bamsoet, mobil listrik nyaris tanpa biaya perawatan.”Tidak ada getaran, tidak pusing antri isi bensin, servis kalau dulu kalau punya mobil biasa tiap 2 bulan sekali harus ke bengkel ganti oli dan segala macam, jadi lebih ekonomis,” ungkap Bamsoet.

Bamsoet juga mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia juga harus bertahap memulai tren kendaraan listrik yang dapat dimulai dari transportasi massal.

“Mulailah dari mengganti transportasi massal yang berbahan bakar solar dan mobil dinas pemerintah menjadi listrik, memang secara bertahap kalau tidak rakyat akan marah nanti,” tutup Bamsoet. (detik)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *