Jaringan Listrik Sulawesi Tengah Sudah Mulai Normal Kembali

Peta dengan episentrum gempa berkekuatan 7,7 skala Richter di dekat Palu, sementara itu tiga minggu setelah gempa aliran listrik di Sulteng kembali normal). (Photo/Republika)

Epicentrum.id, Jakarta – Hampir satu bulan sudah masa tanggap darurat PLN untuk normalisasi kondisi kelistrikan di Palu dan sekitarnya. Lebih dari 1.500 relawan yang terdiri dari berbagai macam latar belakang keahlian, mulai dari pembangkitan, transmisi hingga distribusi bersatu bahu-membahu untuk memulihkan kembali Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong.

Berbagai upaya pun dilakukan oleh PLN untuk bergerak cepat memulihkan sistem kelistrikan di Palu dan sekitarnya pascagempa disertai dengan tsunami dan likuifaksi yang melanda pada 28 September lalu.

Mulai dari menginventarisasi kerusakan infrastruktur kelistrikan pasca bencana, pemulihan listrik bagi fasilitas-fasilitas umum seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Base Transceiver Station (BTS), dan lain sebagainya hingga pengiriman lebih dari 1500 petugas PLN dari seluruh Indonesia guna mempercepat pemulihan kelistrikan di Palu dan sekitarnya.

Kini, 25 hari sudah PLN berhasil secara bertahap memulihkan sistem kelistrikan di Palu, Donggala, Sigi dan Parigi. Kerja keras dan kerja cepat yang dilakukan oleh PLN selama 25 menuai hasil.

Pada delapan hari pertama, PLN berhasil memulihkan 7 (tujuh) atau 100 persen Gardu Induk (GI) yang menyuplai listrik untuk Palu dan sekitarnya. Disusul dengan secara paralel PLN berhasil memulihkan 45 atau 100 persen penyulang guna mendistribusikan listrik dari ketujuh GI tersebut di hari ke-10.

“Alhamdulillah, hal ini tentu tidak terlepas dari keterlibatan dan kerjasama tim yang solid baik dari internal maupun eksternal PLN. Semua bersatu untuk memulihkan kelistrikan di Palu, Donggala, Sigi dan Parigi. Kami sangat berterimakasih atas seluruh dukungan yang diberikan sehingga memacu semangat kami untuk kembali menerangi Palu dan sekitarnya,” ujar Direktur Bisnis Regional Sulawesi PLN Syamsul Huda.

Huda menambahkan, hingga saat ini PLN sedang berfokus untuk menyalakan listrik ke rumah-rumah pelanggan. Tercatat hingga hari ke-25 ini, PLN telah berhasil memulihkan 2.144 dari target 2.182 Gardu Distribusi yang akan dioperasikan.

Kini, para relawan PLN tersebut telah kembali ke unit asal masing-masing. Selanjutnya pekerjaan di lapangan akan diambil alih secara penuh oleh PLN Unit Induk Wilayah Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo dan PLN Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran Sulawesi.

“Di samping memulihkan jaringan listrik dan gardu-gardu distribusi untuk kembali menyalurkan listrik hingga ke rumah pelanggan, kami juga sambil menginventarisir kembali rumah maupun bangunan pelanggan yang hancur akibat musibah tersebut sehingga belum dapat dialiri listrik,” kata Huda.

Bagi daerah-daerah yang masih terkendala dikarenakan akses jalan yang hancur, PLN hingga saat ini telah menyiapkan lebih dari 80 genset mobile sebagai solusi sementara memulihkan listrik di daerah tersebut hingga akses maupun infrastruktur pendukung lainnya di daerah tersebut selesai diperbaiki.

Kembalinya pasokan listrik juga mulai dirasakan oleh sebagian besar masyarakat di Palu dan sekitarnya. Kini warga sudah mulai banyak yang kembali ke rumah, roda perekonomian pun kini kembali berputar seiring dengan aktivitas jual beli masyarakat yang kembali tampak.

Hal itu juga dapat dilihat hingga hari ke-25 ini, dimana tercatat beban puncak di sistem kelistrikan Palu dan sekitarnya mencapai 91 MW yang sebelum gempa bebannya 125 MW. Angka tersebut terus bertambah sejak tahap pemulihan kelistrikan di Palu selama 25 hari tersebut.

Tidak hanya memulihkan sistem kelistrikan, namun PLN juga berupaya untuk dapat hadir membantu kebutuhan para korban gempa dan tsunami di Palu dan sekitarnya.

Melalui program PLN Peduli (CSR PLN), PLN memberikan total bantuan senilai Rp 4,518 miliar yang didistribusikan ke berbagai daerah di Palu, Donggala, Sigi dan Parigi.

Bantuan tersebut meliputi Sembako senilai Rp 1,1 miliar, pakaian dan selimut senilai Rp 1 miliar, kebutuhan kesehatan senilai Rp 780 juta, Alat Penerangan senilai Rp 362 juta, kebutuhan logistik lainnya senilai Rp 466 juta, pembuatan dapur umum senilai Rp 300 juta, tenda untuk pengungsi senilai Rp 236 juta, dan air bersih senilai Rp 97 juta. [republika]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *