Erdogan Janji Akan Ungkap Misteri Kematian Jamal Khasoggi

 

AP Images/Ringer illustration

Epicentrum.id – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjanji akan mengungkap kebenaran di balik kematian jurnalis asal Arab Saudi Jamal Khasoggi.

Pernyataan Erdogan dilontarkan pada Minggu (21/10), setelah Saudi menyatakan tidak mengetahui di mana tubuh Khashoggi dan bahwa Putra Mahkota Mohammed Bin Salman tidak mengetahui operasi apa pun terkait pembunuhan kolumnis The Washington Post tersebut.

“Kami akan mencari keadilan dan akan mengungkap semua kebenaran, bukan hanya beberapa, tapi semuanya,” kata Erdogan dalam reli di Istanbul.

Dalam pernyataannya, Erdogan tidak secara langsung menyalahkan Saudi.

Di hari yang sama, ia juga melakukan sambungan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pembicaraan telepon itu menyepakati bahwa kematian Khashoggi harus diklarfikasi dari segala aspek.

Erdogan sendiri dijadwalkan memberi pernyataan komplet di depan parlemen Turki pada Selasa besok.

Pihak berwenang Turki sejauh ini mengatakan mereka yakin 15 warga Saudi yang tiba di Istanbul dalam dua penerbangan pada 2 Oktober terkait dengan kematian Khashoggi.

Journalists hold signs that say “Free Jamal Khashoggi” . ( Photo/Politico)

Sehari sebelumnya pada Sabtu, pihak berwenang Turki sudah mengakui bahwa Khasoggi tewas di dalam konsulat jenderal mereka di Istanbul.

Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir pada Minggu juga menyebut bahwa pembunuhan Khashoggi merupakan “kesalahan besar”. Namun ia juga mengatakan bahwa insiden itu merupakan operasi yang dilakukan individual yang melebihi wewenang mereka, lalu berupaya menutup-nutupinya.

Dalam wawancara dengan Fox News, Jubeir bersikeras bahwa operasi itu tidak diperintahkan oleh Putra Mahkota yang kerap dijuluki MBS. Kata dia, Saudi juga tidak mengetahui keberadaan tubuh Khasoggi setelah dibunuh.

Awalnya, Saudi mengatakan bahwa Khashoggi yang masuk ke konsulat jenderal mereka di Istanbul pada 2 Oktober meninggalkan tempat itu dalam kondisi selamat.

Hingga saat ini, Saudi menyatakan sudah memecat lima pejabat tinggi dan menahan 18 orang lain terkait penyelidikan pembunuhan Khashoggi.

Hubungan diplomatik memburuk

Khashoggi, yang bulan ini seharusnya berusia 60 tahun, melarikan diri ke Amerika Serikat pada 2017 setelah penunjukan MBS sebagai putra mahkota.

Pada 2 Oktober, diantar oleh tunangannya yang berkebangsaan Turki, ia datang ke konsulat jenderal Saudi di Istanbul untuk mengurus dokumen pernikahan mereka dan tak pernah keluar.

Pembunuhan Khashoggi di Istanbul membuat hubungan Saudi dan Turki yang sebelumnya sempat renggang terkait hubungan dengan Qatar, makin memburuk. Pada 2017, Saudi memutus hubungan dengan Qatar, sementara Turki memberikan bantuan dan mengirim pasukan ke Qatar.

Pihak berwenang Turki kini yakin Riyadh berada di balik pembunuhan Khashoggi dan memutilasi tubuhnya. Media pro-pemerintah Turki sebelumnya juga pernah melaporkan bahwa tudingan itu didukung oleh bukti video dan audio.

Campur tangan Negara Barat

Kontroversi di seputar pembunuhan Khashoggi, lebih lanjut membuat Saudi–yang selama ini merupakan sekutu Negara Barat di Timur Tengah terutama dalam menghadapi Iran–berada di bawah tekanan.

Ini juga membuat MBS, yang selama ini dikenal dengan upayanya untuk membawa modernisasi ke Saudi, disoroti.

Inggris, Prancis dan Jerman sudah meminta Saudi untuk menglarifkasi bagaimana pembunuhan Khashoggi terjadi di dalam lingkungan konsulat jenderal mereka. Begitu juga dengan Australia, Kanada, dan Uni Eropa.

Kanselir Jerman Angela Merkel bahwa negaranya tidak akan mengekspor senjata di saat-saat ini. Padahal baru bulan lalu, Jerman menyetujui ekpsor senjata senilai US$480 juta ke Saudi pada 2018. [cnn]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *