Ma’ruf Amin: Pesantren Sebagai Pusat Penggerak Arus Ekonomi Baru Indonesia

Epicentrum.id –  Untuk memperpendek jarak kesenjangan (distorsi) antara pelaku usaha yang kuat dan yang lemah seperti usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta pengusaha pemula, mereka harus bermitra.

Permintaan tersebut disampaikan penggagas arus Baru Ekonomi Indonesia KH. Ma’ruf Amin.

“Arus Ekonomi Baru yang kami gagas ini untuk menggantikan arus ekonomi lama yang hanya menciptakan konglomerasi. Ini bukan bertujuan melemahkan konglomerat tetapi mendorong para konglomerasi ini untuk bermitra dengan para UMKM yang masih lemah ini supaya mereka menjadi kuat,” kata Ma’ruf Amin, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (13/9/2018).

Ajakan kemitraan antara pengusaha besar dan lemah ini juga ia sampaikan dalam acara Gala Dinner yang diadakan Santri Millenial Centre (Simac) dan Asosiasi Kelompok Usaha Rakyat Indonesia (Akurindo) di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018).

Ma’ruf Amin menegaskan, kemitraan yang sedang dibangun yakni kemitraan antara para pengusaha besar dengan para usahawan muda di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia atau Santri Milenial Center (Simac).

“Kehadiran Simac diharapkan mampu menciptakan keseimbangan ekonomi dan bisa mengurangi kesenjangan antara pusat dan daerah, antara pengusaha yang kuat dan yang lemah bahkan antara penduduk nasional dan penduduk global. Para pelaku ekonomi umat ini harus dimitrakan supaya menjadi kuat semuanya,”ujar Ma’ruf Amin yang juga Calon Wakil Presiden RI.

Amin memilih pesantren sebagai pusat penggerak Arus Ekonomi Baru Indonesia karena potensi kalangan santri terutama para santri milenial ini sangat besar untuk menjadi usahawan baru yang modern.

“Mereka selama ini belum tersentuh untuk menjadi wirausaha baik di bidang keuangan, budidaya pertanian dan perkebunan, budidaya kelautan, sektor ril dan sektor jasa. Apabila upaya kemitraan ini bisa kita wujudkan maka kita akan mencapai perubahan besar di sektor ekonomi,” ujar Ma’ruf Amin.

Selain mendorong kemitraan, lanjut Amin, pihaknya mendukung upaya redistribusi aset nasional terutama tanah. Saat ini jumlah aset negara atau tanah yang belum dibagikan oleh pemerintah mencapai 12,7 juta hektar.

Aset ini akan dibagikan kepada koperasi-koperasi dan pesantren-pesantren dimana santri milenial juga akan memperoleh kesempatan mengembangkan aset ini seperti melakukan penanaman komoditi dan dibeli oleh konglomerat yang menjadi mitra untuk diproduksi dalam negeri menjadi produk bernilai jual tinggi.

Misalnya, kata dia, cokelat di Sulawesi Selatan harganya Rp1000. Diekspor ke Singapura, diolah dan dijual kembali dengan harga Rp20.000. “Kalau diolah dalam negeri, mestinya nilai tambah sebesar Rp19.000 itu bisa dinikmati oleh petani dan UMKM kita. Nah, yang seperti ini butuh kemitraan yang baik,”ungkap Amin.

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum SIMAC, Nur Rahman. Menurut Rahman, gerakan Arus Baru Ekonomi Indonesia dan keberadaan Simac akan menciptakan usahawan dengan skill tinggi di berbagai sektor ekonomi.

“Santri ini menjadi satu potensi nasional, sehinga perlu ditopang SDM-nya dan perlu ada pendidikan vokasi di pesantren. Mereka juga harus diberikan motivasi untuk mampu bersaing dengan global,” ujarnya.

Untuk itu, Simac dan Akurindo akan menjalin kemitraan dengan para pengusaha besar nasional serta instansi terkait lainnya untuk merealisasikan konsep Arus Baru Ekonomi Indonesia ini.

Menurut Gus Rahman, gagasan Arus Baru Ekonomi Indonesia tidak hanya wacana tapi merupakan kerja nyata yang akan langsung bisa dirasakan manfaatnya bagi anak-anak bangsa. Gus Iwan adalah singkatan dari santri bagus, rupawan, senang ngaji dan wirausahawan.

“Gus Iwan ini merupakan sosok pemuda zaman now, pemuda millenial yang mempunyai jiwa patriotisme dan kemandirian dalam usaha. Indonesia akan menuju era keemasan dan akan dimotori oleh anak-anak muda yang terpanggil jiwa raganya demi bangsa Indonesia,” ujar Nur Rahman.

Selain melakukan pendidikan dan latihan di dalam negeri, Simac juga akan mengirim para santri usahawan untuk belajar dan mengikuti pelatihan di Australia. “Kami berharap setelah mereka kembali, akan menjadi usahawan yang mandiri dan sukses sehingga bisa berkontribusi terhadap ekonomi bangsa,” kata Nur Rahman. [Sumber]

 

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *