Kita Patut Apresiasi Kesigapan TNI Tangani Palu dan Donggala

Pangkalan TNI AL di Watusampu, Palu Hancur Diterjang Tsunami (RMOL).

Epicentrum – Gempa dan tsunami yang menyapu Palu dan Donggala pada hari Jumat (28/9/2018) masih menyisakan pilu bagi korban dan tentunya bagi seluruh bangsa Indonesia.

Jumlah korban pada hari Rabu (10/10/2018) sudah mencapai 2045 jiwa yang tewas, perinciannya 171 di Donggala, 1.636 di Palu, 222 di Sigi, 15 di Parigi Moutong, dan 1 di Pasangkayu, korban luka berat dan ringan sebanyak 10.679 jiwa, korban hilang 671 jiwa, pengungsi 74.044 jiwa di 112 titik di Sulawesi Tengah dan 8.731 di luar Sulawesi Tengah.

Tapi ada hal yang lebih memprihatinkan, bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah tidak lama menjelang peringatan hari jadi Tentara Nasional Indonesia, 5 Oktober.

Sulawesi Tengah sendiri memiliki nilai strategis secara militer, Palu menjadi markas Komando Resort Militer (Korem) 132/Tadulako, Pangkalan TNI-AL (Lanal) kelas B di Watusampu, dan Detasemen TNI-AU (Denau) Mutiara di Bandara SIS Al Jufri.

TNI-AL sedang merampungkan pembangunan Dermaga Stasion Bantuan (Sionban) Kapal Selam di Lanal Palu, tempat kapal selam KRI Nanggala-402 dan kapal bantu KRI Teluk Parigi-539 membantu Operasi Tinombala untuk menumpas kelompok teror Santoso di Poso.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat meninjau Dermaga Sionban dua hari setelah bencana (30/9/2018) menyatakan dermaga yang memiliki nilai strategis secara militer tersebut hancur.

Namun, walaupun instalasi strategis TNI hancur karena gempa dan tsunami, kita patut mengapresiasi kesigapan TNI menangani bencana.

Saat warga berkerumun di bandara SIS Al Jufri dengan menyandera satu pesawat Hercules pembawa bantuan kemanusiaan, pasukan TNI di Denau Mutiara berhasil mendinginkan situasi dan mengamankan bandara.

Gempa Palu-Donggala: Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Beroperasi 24 Jam untuk Penerbangan Darurat dan Kemanusiaan

Warga berusaha meninggalkan kota Palu untuk mengungsi dengan pesawat TNI Angkatan Udara melalui Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018)./JIBI-Paulus Tandi Bone

Korem Tadulako menjadi salah satu pusat penampungan pengungsi terbesar di Palu, walaupun fasilitas umum dan kesehatan agak kekurangan namun cukup membantu mengingat aparatur sipil di Palu, Donggala dan Sigi dapat dikatakan lumpuh akibat bencana.

Mau tidak mau dalam situasi seperti ini, kita baru bisa mengandalkan pasukan TNI ketika terjadi bencana berskala besar, dari mulai bencana di Aceh hingga Sulawesi Tengah.

TNI AD mendirikan Rumah Sakit Lapangan Yonkes 2 Kostrad dan tenda darurat bagi para pengungsi korban gempa dan tsunami yang terjadi di Palu-Donggala pada Jumat (28/9/2018), di Kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah (AFP PHOTO/OLA GONDRONK).

Prajurit TNI sendiri mendominasi lembaga pemerintah yang menangani soal bencana seperti Basarnas dan BNPB, walaupun seharusnya kapasitas aparatur sipil di pusat dan daerah perlu ditingkatkan saat menghadapi bencana.

Bangsa Indonesia tinggal di kawasan ring of fire, dikelilingi dua sirkum pegunungan muda Mediterania dan Pasifik, hanya pulau Kalimantan di bagian Selatan dan Barat yang aman dari ancaman gempa dan tsunami.

Anda dapat menemukan fakta tersebut di buku pelajaran geografi sekolah menengah, tetapi apa yang dapat dilakukan bangsa ini agar siap menghadapi bencana gempa, tsunami, letusan gunung berapi dan lain-lain tentu jauh lebih penting.

Kita harapkan di masa depan, bangsa kita dapat berlatih lebih keras agar lebih siaga menghadapi bencana yang mengancam di depan mata, tentu saja dengan TNI sebagai komponen utama.

Sehingga bela negara tidak melulu diterjemahkan menjadi adu slogan nasionalistik semata, tetapi menjadi aksi nyata kebangsaan yang selalu siap menghadapi bahaya.

Bagaimana pun, kita perlu ucapkan apresiasi kepada TNI di bulan sucinya, Dirgahayu TNI! (Tim Redaksi)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *