Street Gallery, Hadir Untuk Merayakan Kota Bagi Semua Orang.

Partisipasi warga kota dalam membangun street Gallery di Kota Tua. (Photo/Epicentrum.id)

Oleh : Andi Hakim

Sekelompok seniman lokal yang dimotori Khalid Zabidi mengisi tiang-tiang dan dinding sepanjang jalan menuju kota tua dengan lukisan-lukisan asli tetapi palsu dari seniman dunia dalam tema Street Art Galery.

Saya tidak tahu apa dasar dari berkeseniannya, tetapi bila kita mencari pendasaran dari seni kontemporer dari masyarakat urban, maka ini adalah sebuah manifestasi dari apa yang ditulis Henry Levebre empat dekade lalu sebagai metropolaritas dari munculnya penegakkan -transversalitas- identitas di kota metropolitan.

Satu kegiatan yang Levebre menyusunnya dalam catatan sepuluh diskursus ruang metropolis. Sebagian kecil catatan penting Levebre tentang induvidu yang tersosialisasikan -socialized individuality- sebagai upaya manusia masuk ke babak sejarahnya sendiri.

Munculnya seni chalk-charcoal di dinding -mural- yang bergerak dari protes sosial dari dinding toilet, tembok, dan tiang tol sampai menjadi bisnis ornamen di kedai kopi di mall-mall adalah sebagian kecil dari proses menuliskan sejarah di ruang kota. Kini orang yang dulunya awam tentang kopi dapat merasa dirinya sedikit beradab dalam hal perkopian setelah faham dari tulisan di dinding kafe bahwa Mocca adalah nama kota di Yaman yang pernah menjadi pelabuhan kopi besar dunia.

Sambil melihat berkembangnya proses tadi kita menyaksikan proses-proses komplek yang membentuk sebuah kota. Ia tidak lagi dapat diselesaikan dengan pendekatan ekonomi-politik, seperti membangun lebih banyak mall, apartemen, atau perkantoran, tetapi di sisi lain kota juga bergerak berlawanan kepada arahnya sendiri.

Munculnya kluster perumahan bebas banjir, aman, sektarian, satpam dengan tulisan: Kawasan ini diawasi CCTV adalah tanda-tanda bahwa sebuah kota mengarah kepada uncivilized, keonaran, dan serba ketakutan -phobia-. Sebagian yang mampu membangun sendiri ruang Carseral-nya masing-masing. Dengan prinsip saling awas-mengawasi dalam semangat saling mencurigai.

Sebuah kota kemudian dianggap gagal menghadirkan seluruh perasaan manusia di dalamnya. Proses fragmentasi, dan polarisasi rupanya kini telah mengatasi proses hibriditas-pemajemukan-dan metropolaritas kota. Hal ini terjadi bukan hanya karena proses pemiskinan yang terstruktur -dimana si gaji rendah semakin terlempar jauh ke luar metropolitan-, atau akibat perbankan dengan skenario kreditnya memilah manusia dalam hunian-hunian yang menghilangkan arti demokrasi dalam aksi -democracy in action. Perumahan mewah-elit versus kumuh-ghetos.

Kita menuntut perlunya kesetaraan gender, feminisme, ruang yang ramah anak, ramah jompo, membuka peluang bagi para penganggur, yang menerima orang bodoh, dan ramah modal kecil, tetapi kita menuju arah yang sebaliknya. Ibu Kota kemudian menjadi seperti syair Koes Plus sebagai Ibu Tiri, kejam lan keji kepada mereka yang kita sebut ada di bawah garis standar. Pada proses seni pun hal ini terjadi. Kesenian karena tidak terlalu penting bagi sebuah pencitraan kota -berbeda halnya dengan jalan tol, stadion, LRT, MRT, dan taman dianggap sesuatu yang lain. Akibatnya kota tumbuh kering dan terhambat karena kehilangan nutrisi spirit dan rasa.

Kepada sensasi menemukan jalan keluar dari pembakuan pola hidup yang sejenis itulah maka kita dapat menemukan bahwa Tuan Khalid dengan rekan seniman Jakarta tengah menciptakan imajinasi atau menemukan kembali daya berimajinasi manusia akan kota yang diidam-idamkannya.

Khalid selain politisi dasarnya ia adalah seniman sosial. Ini dibuktikannya dengan menyelenggarakan festival Monas, pasar seni Jakarta, Jakarta vernakular, dan festival kelurahan untuk memetakan potensi kesenian dan gastronomi di daerah Mampang Prapatan dekat kampusnya di Universitas Paramadina.

Kegiatan melukis dinding tadi sebetulnya kegiatan yang pernah dilangsungkan untuk memberikan warna pada kota yang melulu bicara tentang mencari uang dan suara. Kota gagal menjadikan dirinya kanvas bagi proses menanamkan kembali imajinasi ini kemudian menjadi dalil bagi kemungkinan kita mengklaim kembali apa yang benar-benar milik kita; yaitu merayakan kota sebagai a present; sebuah kehadiran, sebuah kekinian. sebuah hadiah bagi semua orang.

 

*** Penulis adalah penggiat sosial dan Budaya alumni FSRD ITB

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *