Airlangga Hartarto: Kemitraan Indonesia-Korea Selatan Berkembang Progresif

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mewakili Pemerintah Indonesia memberikan sambutan pada National Day & Armed Forces Republic of Korea di Jakarta, Selasa (2/10/2018). (suarakarya)

epicentrum.id Menperin Airlangga Hartarto menyampaikan, kemitraan Indonesia dan Korea Selatan terus berkembang secara progresif dan semakin luas ruang lingkupnya.

Kerja sama khusus di sektor strategis, termasuk industri, telah disepakati oleh kedua pemimpin negara pada November 2017 guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi kedua negara.

“Kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke Seoul bulan lalu, juga membuka peluang yang lebih besar untuk memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak di berbagai bidang, seperti penerapan industri 4.0,” ujarnya ketika mewakili Pemerintah Indonesia pada National Day & Armed Forces Republic of Korea di Jakarta, Selasa (2/10/2018).

Airlangga menjelaskan, Korsel merupakan mitra utama bagi Indonesia dalam berkolaborasi di sektor industri, investasi dan perdagangan.

“Kerja sama yang terjalin dapat mendorong industri manufaktur nasional untuk lebih meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri melalui hilirisasi sekaligus penambahan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal,” tuturnya.

Nilai investasi Korsel terus meningkat sehingga menempati peringkat ketiga terbesar di Indonesia. Hingga pertengahan tahun ini, nilainya telah mencapai USD1,15 miliar, sementara tahun 2017 sebesar USD2,2 miliar. Perusahaan-perusahaan Korsel di Indonesia telah menyerap sebanyak 900 ribu tenaga kerja lokal.

Potensi perdagangan kedua negara juga masih cukup besar. Tahun 2017, neraca perdagangan RI-Korsel mengalami surplus sebesar USD78 juta dari total nilai perdagangan yang mencapai USD17 miliar. Diproyeksi nilai perdagangan kedua negara semakin meningkat dengan target sebesar USD30 miliar tahun 2022.

“Walaupun kerja sama perdagangan telah kuat, namun perlu ditingkatkan lagi dalam upaya untuk mengurangi hambatan dan mengeksplorasi lebih banyak peluang khususnya aksi kolaborasi di sektor manufaktur untuk memperkuat struktur industri yang berkesinambungan dan kokoh,” paparnya.

Airlangga menyebutkan, beberapa sektor industri manufaktur yang prospektif untuk dijajaki kerja sama di antara pelaku usaha RI-Korsel, antara lain industri logam, otomotif, kimia, perkapalan, elektronika, tesktil dan produk tesktil, alas kaki, kabel listrik, energi, serta industri kecil dan menengah. “Selain itu, guna mendukung industri 4.0, kedua negara sepakat bersinergi dalam pengembangan SDM,” imbuhnya.

Pada kegiatan Indonesia-Korea Business and Investment Forum 2018 di Seoul, September lalu, terdapat enam perusahaan Negeri Ginseng yang telah menyatakan minatnya segera berinvestasi di Indonesia. Total komitmen investasi tersebut mencapai USD446 juta.

Pertama, LS Cable & System yang bermitra dengan PT Artha Metal Sinergi untuk pengembangan sektor industri kabel listrik senilai USD50 juta di Karawang, Jawa Barat. Kedua, Parkland yang menggelontorkan dananya sebesar USD75 juta guna membangun industri alas kaki di Pati Jawa Tengah. Ketiga, Sae-A Trading menanamkan modal hingga USD36 juta untuk sektor tekstil dan garmen di Tegal, Jawa Tengah.

Selanjutnya, keempat, Taekwang Industrial akan membangun industri alas kaki senilai USD100 juta di Subang dan Bandung, Jawa Barat. Kelima, World Power Tech dengan mitra lokalnya PT NW Industries yang berinvestasi sebesar USD85 juta untuk pengembangan industri manufaktur turbin dan boiler di Bekasi, Jawa Barat. Serta keenam, InterVest dengan Kejora Ventures yang menamamkan modalnya USD100 juta untuk jasa pembiayaan startup (modal ventura) di DKI Jakarta.

“Sejumlah perusahaan lainnya, seperti Cheil Jedang, Lotte Group, Posco, dan Hyundai Group juga komit untuk terus meningkatkan investasinya di Indonesia,” ungkap Airlangga. Apalagi, industri otomotif, kimia serta tekstil dan pakaian merupakan sektor yang diprioritaskan pengembanggannya agar menjadi pionir dalam penerapan revolusi industri keempat sesuai Making Indonesia 4.0.

“Indonesia juga menyambut hasil positif dari the 3rd Inter-Korean Summit di Pyongyang baru-baru ini. Kami berharap momentum penting tersebut dapat membawa era baru untuk kedamaian, stabilitas, kemakmuran dan mendukung semenanjung Korea agar bebas dari ancaman senjata nuklir,” ujarnya. Indonesia juga siap berkontribusi untuk penegakan kedamaian dan kemakmuran di wilayah tersebut. (suarakarya.id)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *