Rupiah Masih Anjlok, Rizal Ramli: Penanganan Telmi, Sing Printil

Rizal Ramli (foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf)

epicentrum.id – Mantan Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri Indonesia, Rizal Ramli menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, yang hari ini kembali hampir menyentuh level Rp15.000, baru permulaan dari gejolak perekonomian domestik.

Menurutnya, pelemahan tersebut masih akan berlanjut.

Dia menjelaskan, hal tersebut terjadi akibat kebijakan-kebijakan pemerintah yang diambil dianggapnya selalu behind the curve atau di belakang kecenderungan yang sedang terjadi. Seperti salah satunya kebijakan kenaikan pajak penghasilan (PPh) 22 impor 1.147 komoditas yang hanya mampu mengurangi impor senilai Rp1 miliar. Sedangkan defisit transaksi berjalan, saat ini mencapai Rp8 miliar.

“Apakah dengan langkah-langkah yang diambil, kita bisa stabil di bawah Rp15.000. Mohon maaf, kami jawab belum. Ini baru permulaan, karena langkah-langkahnya itu banyak yang behind the curve atau di belakang kecenderungan,” tutur Rizal, saat ditemui di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu 26 September 2018.

Lebih lanjut, Rizal mengungkapkan, mampu bertahannya nilai tukar rupiah saat ini di kisaran Rp14.900 satu-satunya, hanya karena dampak dari kebijakan Bank Indonesia yang ahead the curve atau kebijakan kenaikan suku bunga yang selalu tepat mengimbangi kenaikan suku bunga negara-negara lain.

“Kami salut dengan langkah BI yang ahead the curve, karena menaikkan suku bunga seperempat dan setengah persen duluan. Itu menolong untuk perbaiki ekspektasi ekonomi,” lanjut Rizal yang juga pernah berada di Kabinet Jokowi-JK ini.

Bahkan, lanjut dia, akibat kebijakan-kebijakan tersebut ditambah gejolak perekonomian global akibat normalisasi kebijakan moneter AS yang akan kembali terus menaikkan suku bunga acuannya telah menyebabkan aliran modal keluar Indonesia sangat besar atau mencapai Rp53 triliun.

“Itu minus Rp53 triliun. Intervensi Bank Indonesia sampai hari ini, agar rupiah tidak jeblok ke Rp15.000 itu sudah minus US$14 miliar. Jadi, bukan capital outflow. Ini makin lama makin meningkat, kalau penanganannya telmi (telat mikir), sing printil,” kata dia.

Meski begitu, Rizal yang juga mantan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman mengingatkan bahwa stabilitas moneter maupun ekonomi Indonesia secara keseluruhan tidak hanya bergantung dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.

Menurutnya, jika suku bunga tersebut terus mengalami kenaikan atau bahkan naiknya bisa mencapai empat persen tanpa ada perbaikan kebijakan di sektor-sektor riil, ekspor-impor, menjaga daya beli dan kebijakan ekonomi lainnya secara umum, maka dipastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal anjlok di kisaran 4,5 persen.

“Kalau terlalu banyak naikkan tingkat bunga misal sampai empat persen, kredit macet pasti tinggi, peredaran kredit pasti berkurang, sehingga bisa membuat pertumbuhan ekonomi yang tahun ini diperkirakan 5,3 persen bisa-bisa menjadi 4,5 persen,” ujar Rizal.

sumber berita

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *