Menkeu: Manufaktur Dipacu Tumbuh 5% Tahun Depan

ilustrasi (reuters)

epicentrum.id – Di tengah tahun politik 2019, pemerintah optimistis pertumbuhan manufaktur bisa tembus 5%, setelah tiga tahun terakhir tumbuh di kisaran 4%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan pemerintah berusaha mendorong pertumbuhan manufaktur di atas 5% karena ini cukup penting. Jika sektor manufaktur tidak mampu tumbuh tinggi, implikasinya penciptaan lapangan kerja akan terhambat.

Selain itu, penerimaan pajak juga tidak dapat tumbuh lebih baik. Padahal, kontribusi sektor manufaktur terhadap penerimaan pajak cukup besar.  “Jadi sektor manufaktur penting untuk berbagai dimensi ekonomi Indonesia,” ungkap Sri Mulyani dalam Indonesia Economic Outlook 2019 yang diadakan di kantor BKF, Senin (24/9).

Kementerian Keuangan, kata Sri Mulyani, telah mengabulkan berbagai permintaan insentif pajak untuk menopang pertumbuhan manufaktur antara lain tax allowance,super deduction tax bagi perusahaan yang mengembangkan riset dan pengembangan serta kebijakan fiskal lainnya yang memproteksi industri di dalam negeri.

“Semua kami berikan dan sekarang tinggal Pak Airlangga yang men-deliver,” tegas Sri Mulyani.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pertumbuhan manufaktur 5% membutuhkan investasi.

Oleh sebab itu, Airlangga menilai insentif fiskal diperlukan dalam mendorong pertumbuhan manufaktur a.l. insentif deduction tax, insentif pajak bagi pengembangan inovasi, dan PPnBM industri otomotif.

Menurutnya, dunia usaha sangat menanti dikeluarkannya kebijakan fiskal tersebut. “Nah, kita tinggal tunggu suratnya. Dengan demikian kita akan tarik investor. Saya yakin pertumbuhan tinggi,” paparnya.

Adapun, sektor unggulan yang akan menopang pertumbuhan manufaktur pada tahun depan yaitu makanan minuman, kimia, tekstil dan produk tekstil, dan alas kaki serta kosmetik. Pasalnya, pertumbuhan industri tersebut rata-rata di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Sehingga ini bisa dipakai untuk memacu investasi dan pertumbuhan industri,” ujar Airlangga.

Hal lain yang meningkatkan optimisme adalah laju pertumbuhan manufaktur dalam negeri yang terekam dalam Nikkei Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) yang berada di level 51,9 per Agustus 2018.

Menurut Airlangga, indeks tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan industri sedang bagus dan kepercayaan ini harus ditingkatkan lagi.

Terkait dengan tantangan perang dagang bagi sektor manufaktur, Airlangga menilai Indonesia memang mendapatkan tekanan. Salah satunya, industri stainless steel atau baja anti karat yang akan terkena kenaikan bea masuk di AS. Namun, dia juga melihat peluang yang besar. Peluang ini berasal dari investor Korea Utara.

“Mereka sedang melihat Indonesia menjadi alternatif sesudah China diberikan hambatan ekspor, jadi ada kesempatan bagi Indonesia,” ungkap Airlangga.

sumber berita

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *