Ribuan Sarjana Menganggur di Indonesia Tak Kunjung Dilirik Perusahaan

Epicentrum.id – Sebagian pakar mengkambinghitamkan pemerintah terlalu mudah beri izin pendirian universitas swasta yang tak menjaga mutu. Lirik lagu Iwan Fals dari dekade 80’an ternyata masih valid sampai sekarang.

Kalau kamu termasuk sarjana baru yang sampai detik ini meratapi nasib gara-gara tak ada panggilan kerja meski ratusan surat lamaran sudah dikirim ke perusahaan, tenang saja, kamu tidak sendirian. Hasil survei dari Willis Towers Watson yang dilakukan sejak 2014 hingga 2016 menyebutkan delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi dalam negeri siap pakai.

Padahal, jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahunnya mencapai 250 ribu orang. Ironisnya lagi, pertumbuhan jumlah perusahaan di Indonesia termasuk pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dalam satu dekade terakhir, ada 3,98 juta perusahaan baru muncul di Tanah Air. Itu berarti setidaknya setiap tahun bermunculan 398.000 perusahaan rintisan. Kini total perusahaan di Indonesia mencapai 26,71 juta berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 2017.

Erry Hadisto termasuk satu dari ribuan lulusan strata 1 yang terpaksa menganggur. Tujuh bulan terakhir dirinya tak kunjung mendapatkan pekerjaan setelah berbahagia diwisuda. Mahasiswa angkatan 2013 dari jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Brawijaya ini sampai tak tahu apakah ada yang salah dengan dirinya sehingga HRD perusahaan ogah meliriknya. Ia tak kurang berusaha, puluhan lamaran ia kirim ke berbagai perusahaan. Namun tak satu pun tembus.

“Pernah sampai tahap interview, tapi enggak ada kelanjutan,” kata Erry, “Akhirnya saya memutuskan magang tanpa dibayar buat cari pengalaman dulu.”

Setelah India dan Brasil, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan universitas tertinggi. “Namun perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan karyawan yang berpotensi tinggi,” ujar Lilis Halim Consultant Director Willis Tower Watson Indonesia dikutip Kompas.com.

Artinya, ada yang salah. Jika setiap tahun saja muncul 398.000 perusahaan anyar, sementara di pasar kerja tersedia 250.000 fresh graduate , seharusnya perusahaan tak perlu kekurangan tenaga kerja dong? Nyatanya enggak begitu. Usut punya usut, setiap perusahaan memiliki standar perekrutan karyawan, sementara tidak setiap lulusan memiliki kualitas yang dibutuhkan dunia kerja. Merujuk angka pengangguran saat ini, jumlahnya di atas 600.000 orang berdasar data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Lantas di mana pangkal masalah sebenarnya?

Dugaan pertama, semua ini dipicu kebijakan pemerintah Indonesia yang tidak mengontrol izin pendirian perguruan tinggi baru, setidaknya itu menurut Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi). Pada 2017, ada lebih dari 4.000 perguruan tinggi di Indonesia, di mana sekira 97 persennya adalah kampus swasta. Aptisi menuding pemerintah terlalu gampang memberikan izin pendirian perguruan tinggi. Tapi sayangnya hal tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas pendidikan.

Aptisi akhirnya mendesak pemerintah untuk melaksanakan moratorium pendirian perguruan tinggi untuk mengontrol kualitas. Bukannya menjalankan moratorium, Kemenristekdikti malah mempersingkat izin pendirian perguruan tinggi menjadi cuma tiga bulan. Saking gampangnya bikin perguruan tinggi, bangunan ruko empat lantai pun bisa disulap jadi kampus. Perkara lain, menurut Aptisi, pola persebaran perguruan tinggi juga ternyata hanya terfokus di Pulau Jawa saja, yang akhirnya memicu kesenjangan pendidikan antara daerah dengan kota.

“Dalam sepuluh tahun terakhir satu perguruan tinggi muncul di Indonesia tiap dua hari,” kata mantan ketua Aptisi Edy Suandi Hamid. “Seharusnya ada unit pengawasan (kualitas).”

Kalau sudah bicara soal kualitas, mau tak mau perusahaan juga yang kena imbas. Silvy Lestari Rivan, staff HRD sebuah perusahaan konsultan perekrutan karyawan mengatakan generasi millenial harus diakui memiliki kreativitas dan keragaman pengetahuan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Kendati demikian, sarjana juga harus punya pengalaman yang mumpuni sebelum terjun ke dunia kerja.

“Mereka sudah aware terhadap suatu posisi di perusahaan. Jadi kadang mereka menuntut gaji yang terlalu tinggi. Padahal pengalaman mereka belum matang,” kata Silvy. “Pride mereka tinggi karena merasa kuliah sudah tinggi.”

[Sumber]
KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *