Generasi Milenials Mengendalikan Berbagai Aspek Kehidupan

Epicentrum.id – Beberapa waktu belakangan ini, topik mengenai generasi milenial menjadi isu yang cukup hangat di kalangan masyarakat. Generasi milenial adalah sekelompok orang yang lahir pada kisaran tahun 1981 hingga 1996. Pembicaraan mengenai generasi ini cukup menarik karena generasi milenial kini mengendalikan berbagai aspek kehidupan di masyarakat.

Hal tersebut membuat generasi pendahulunya, yakni Baby Boomer Generation (lahir pada 1946 hingga 1964) dan dan Generation X (1965 hingga 1976) tak henti mempelajari dan menyesuaikan pola perilaku dan cara pandang mereka yang cukup unik.

Generasi milenial lahir pada saat teknologi mulai berkembang. di masa tersebut internet juga mulai diperkenalkan. Tak heran jika penetrasi penggunaan internet di indonesia di dominasi milenial. Sebanyak 8 dari 10 generasi milenial telah terkoneksi dengan internet. Konsumsi internet rata-rata 7 jam sehari. Penggunaan internet tersebut meliputi streaming/YouTube, berkirim pesan dengan teman, mngecek sosial media, mengerjakan tugas dan lain sebagainya.

Milenial merupakan generasi yang konsumtif. Mereka cenderung mencari produk yang memberi keuntungan pribadi. Hal tersebut membuat generasi milenial dikenal tak loyal terhadap brand. “Mereka tergantung pada apa yang dibisa oleh brand saat ini misalnya diskon, pembelian 1 gratis 1 dan lain-lain,” ucap Vice President Commissioner of Matahari Roy Nicholas Mandey dalam Asean Marketing Summit oleh Markplus di Jakarta, Kamis (6/9).

Karenanya, kata Roy, sikap milenial tersebut membuat sirkulasi ekonomi berubah-ubah dan lebih sulit diprediksi.

Sebanyak 59 persen generasi milenial khususnya menengah ke atas lebih menyukai transaksi nontunai. Transaksi nontunai sudah menjadi bagian dan gaya hidup kaum milenial. Menurut kaum milenial, transaksi nontunai lebih praktis dan aman. Pembayaran nontunai tersebut meliputi pembayaran dengan kartu debit, internet banking, m-banking, t-cash dan lain sebagainya. Kartu debit menjadi alat pembayaran favorit kaum milenial dengan presentasi 56%.

Roy menilai bahwa generasi milenial bukanlah generasi pemalas. Generasi milenial pintar beradaptasi dan bisa bekerja lebih efektif dibandingkan generasi sebelumnya. Semua itu didukung dengan penggunaan teknologi. “Bukan sekedar gaya hidup tetapi memang pecinta teknologi. Dengan sumber dan teknologi yang begitu cepat maka kecerdasan dan kecepatan mereka harus diakui,” tuturnya.

Konsumsi media milenial cukup tinggi membuat mereka bisa apa saja. Generasi milenial terbiasa mengeksplorasi diri sehingga mampu melakukan banyak hal.

Melancong adalah bagian dari gaya hidup kaum muda. Sebanyak 1 dari 4 milenial pasti melakukan liburan minimal satu kali dalam setahun. Generasi milenial akan melakukan apa saja untuk melancong. Kaum milenial akan menyesuaikan liburan dengan biaya yang dimiliki. Anak muda zaman sekarang bahkan kerap berlibur dengan komunitasnya supaya bisa berbagi anggaran penginapan. Destinasi favorit milenial di Indonesia adalah Jogjakarta, Malang, Bandung, Bali, dan Jakarta.

Milenial menilai persoalan politik hanya untuk golongan tua. Mereka berpikir bahwa belum saatnya mereka terjun ke ranah tersebut. “Bukannya mereka tidak mengikuti berita namun tidak merespon politik secara langsung,” ungkap Roy saat mengisi acara di Marketing to ASEAN Millenials. Bagi kaum milenial, mereka hanya perlu memantau situasi politik tanpa perlu ikut campur mendalam.

Milenial memiliki kemurahan hati untuk berbagi. Hal yang biasa dibagikan oleh kaum milenial bukan harta atau uang. Mereka senang membagikan konten secara offline atau online. “Mereka senang berbagi hal-hal atau informasi yang mereka sukai,” urai Roy.

Akses lebih penting dari kepemilikan. Bagi milenial selama nasjh bisa menyewa, memiliki suatu barang bukanlah sebuah keharusan. Mereka lebih mengutamakan pengalaman daripada harta. [Sumber]

 

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *