Gajah Dalam Ruangan: Fenomena Fluktuasi Nilai Tukar?

Gambar 1 Grafik Net Capital Outflow (diadaptasi dari: http://www.policonomics.com/loanable-funds/)

Oleh : Jusman Syafii Djamal

Semua buku teks ekonomi dan para ahli ekonomi pastilah pernah mempelajari dengan seksama fenomena krisis Asia 1998, Krisis Finansial 2008 dan The Great Depreciation 1929 di Amerika.

Tiga pelajaran berharga ini telah melahirkan banyak PhD yang ahli menemukan sebab musabab dan tanda tanda munculnya krisis. Ilmu sadurunge winarah tentang fluktuasi nilai tukar bukan sesuatu yang baru. Jadi menulis tentang mengapa rupiah merosot ke angka 15000 seperti menaburi garam kedalam laut. Tak menambah kadar asin tidak nya air laut yang diminum. Tak mungkin kita mengajarkan ikan berenang.

Karenanya bukan merupakan kekeliruan jika kita ambil jalan untuk menyerahkan saja masalah dollar rupiah ini ketangan ahlinya. Ahli moneter dan fiskal yang ada di Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Sebab Lulusan terbaik Fakultas Ekonomi di Indonesia ada disana.

Ditangan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan yang dinakhodain oleh Menko Ekonomi, Insya Allah tidak akan muncul krisis ekonomi model 1998 saat ini, sebab “our best talent in economy” sedang bekerja keras siang dan malam.

Dalam situasi fluktuasi rupiah terhadap dollar seperti saat ini yang utama adalah “Trust“, tingkat kepercayaan pelaku pasar pada pengelola kebijakan fiskal dan moneter.

Tanpa kepercayaan pada kebijakan maka tekanan fluktuasi akan beresonansi dengan kesempatan berspekulasi bagi para pemain dollar luar negeri untuk memainkan yoyo, mulur mungkretnya capital inflo dan capital outflow. General Equation nya Keynesian akan dipengaruhi oleh variable “animal spirit”, yang membuat elemen tak terduga bersifat eksponensial dan tidak linier muncul di permukaan.

Fenomena sterilisasi dan “containment policy” yang mencegah daya rambat kenaikan harga dollar terhadap sektor riel ini yang disebut banyak ahli sebagai fenomena “Gajah didalam ruangan”.

Semua orang tentu kaget ketika mau tidur dimalam hari, kamar tidur menjadi sempit. Ketika masuk dan nyalakan lampu ternyata ada anak gajah tergeletak diatas bantal. Fenomena Gajah dalam ruangan. Ingin dipindahkan diperlukan banyak energi, waktu dan juga teknologi crane.

Jika ketiga unsur itu hilang Gajah tak mungkin keluar dari ruangan.Mengeluarkan gajah dalam ruangan memerlukan sedikit pengorbanan. Paling tidak pasti ada atap atau dinding kamar yang dibongkar untuk kemudian dipasang kembali.

Tahun 2014 kita memiliki masalah Daya Saing dan bottleneck dalam “Doing Business di Indonesia”. Kendala infrastruktur transportasi seperti jalan, jembatan, pelabuhan dan bandara yang menyebabkan biaya logistik kita jauh lebih tinggi dibanding negara tetangga. Bottleneck yang menyebabkan investor enggan masuk. Begitu juga sumber daya energi pembangkit listrik untuk kepentingan industri berskala besar seperti smelter dan industri manufaktur lainnya. Menjadi kendala. Daya saing dan doing business di Indonesia jadi tidak menarik.

Diperlukan waktu empat tahun lebih untuk membongkar “sumbatan botol” infrastruktur tersebut. Kini kita memiliki potensi untuk menjadi Negara yang diminati para investor. Yang pastinya akan memunculkan “crane” , capital inflow menarik gajah dalam ruangan.

Perbaikan infrastruktur itu akan memunculkan potensi bagi proses Revitalisasi kawasan industri. Biaya logistik yang rendah dan kemudahan berinvestasi akan menyebabkan basis industri berteknologi tinggi yang berorientasi pada “high value added” process dan pergeseran mata rantai industri menjadi lebih ke hulu, akan memperkokoh kekuatan industri Nasional kita.

Perbaikan Infrastruktur yang dilakukan selama 4 tahun juga memancing antusiasme pengembang perumahan untuk membangun kota baru. Seolah ada booming pembangunan apartment. Permintaan akan semen, besi baja, dan bahan konstruksi bangunan lainnya meningkat. Termasuk air conditioning, tv, radio, mobil, dan kulkas. Semua muncul menjadi peningkat bisnis industri dalam negeri. Terutama industri substitusi import.

Karenanya jika kini semua kebijakan diarahkan untuk menstop segala jenis import, pastilah Gajah dalam ruangan tak mungkin mudah dikeluarkan. Industri substitusi import yang sudah hadir di Indonesia sejak tahun 1971 dan berurat berakar dalam sistem industri nasional kita tidak mudah dikelola lagi jika mereka dilarang mengimport komponen atau bahan baku ataupun barang modal ke Indonesia.

Import disatu sisi akan menekan rupiah dan disisi lain akan meningkatkan daya saing eksport karena kini produk teknologi yang dihasilkan di Indonesia akan jauh lebih murah. Seperti juga Tiongkok yang mempertahankan nilai Renmimbinya pada tingkat terendah selama bertahun tahun hanya untuk mendapatkan status “a factory of the world”.

Mudah mudahan kita tidak hantam kromo semua produk dilarang masuk. “Containment Policy” berubah jadi isolasi. Negara seperti Iran yang diembargo bertahun tahun oleh Amerika dan Europa mäski terus tumbuh, industrinya mandeg kecuali oil and gas. Export dan Import masih terbuka. Karenanya persoalan mana Gajah dalam ruangan yang hendak dikeluarkan, memiliki seni dan keahlian untuk mengeluarkannya. Agar kita bisa tidur nyenyak kembali. Saran saya Serahkan semua pada ahlinya. The best talent in the country.

Mohon maaf jika keliru.

 

***Penulis adalah Mantan Menteri Perhubungan Kabinet Indonesia Bersatu

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *