Pemerintah Harus Mewaspadai Tingginya Nilai Impor di Bulan Juli 2018

Suasana aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (15/8/2018). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

epicentrum.id –BPS Merilis data nilai impor Indonesia, lewat keterangan pers oleh Kepala BPS Suhariyanto di kantor pusat BPS, Rabu (15/8/2018), minggu lalu.

Sepanjang Juli 2018 nilai impor Indonesia tercatat sebesar US$ 18,27 miliar. Angka ini memperlihatkan kenaikan tajam sebesar 31,56% dibandingkan dengan periode sebelumnya Juli 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor non-migas mencapai US$15,66 miliar atau naik 29,28 persen dibandingkan Juli 2017.

Sementara, secara bulanan (month to month), Suhariyanto mengatakan nilai impor mengalami lonjakan 62,17% dibandingkan bulan Juni 2018.

Sebagaimana diungkapkan oleh BPS, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor Juli 2018 sebesar US$18,27 miliar ini merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Menurut catatan epicentrum.id, ada tiga hal yang menyebabkan impor Bulan Juli membludak, yaitu impor migas sebesar US$2,61 miliar, impor mesin dari China sebesar US$1,73 miliar, dan impor bahan baku sebesar 13,67 miliar

Dalam penjelasannya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa statistik nilai impor yang tercatat pada Juli 2018  diluar kebiasaan, alias adanya anomali atau ketidaknormalan. “Statistik yang Juli ini agak anomali karena kemarin kan ada libur panjang jadi kegiatan impor, terutama itu banyak yang dilakukan sebelum lebaran dan kemudian di kompensasi di bulan Juli (setelah lebaran),” demikian seperti yang diungkapkan oleh Menteri Keuangan di Kemenko Perekonomian, Jakarta, pada Rabu (15/8/2018) minggu lalu.

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan penyebab anomali karena momen lebaran sekaligus libur panjang yang membuat impor juga libur. Karena para importir biasanya akan mengimpor pada saat sebelum lebaran dan setelah libur lebaran selesai. Dengan penjelasan ini, importir akan menumpuk impor pada bulan sebelum lebaran.

Peningkatan impor mesin dari China juga menjadi sorotan. Menilik bulan sebelumnya (Juni 2018) peningkatan impor golongan mesin dan pesawat mekanik adalah sebesar 71,95% menjadi sebesar US$1,73 miliar.

Impor migas Juli 2018 sebesar US$2,61 miliar ini mengalami kenaikan sebesar 22,20 persen dibanding Juni 2018 (month to month), dan bila dibandingkan dengan periode sebelumnya (year to year) juga mengalami peningkatan 47,09 persen dibanding Juli 2017.

Peningkatan nilai impor migas dengan nilai sebesar US$2,61 miliar juga memperlihatkan bahwa negara Indonesia tidak dapat lagi membanggakan dirinya sebagai penghasil migas. Bila melihat komponen yang menjadi pemicu kenaikan impor migas, ternyata penyebab kenaikan terjadi pada seluruh komponen migas. Komponen tersebut terdiri dari minyak mentah, dengan nilai sebesar 81,2 juta dollar AS atau secara persentase naik 15,01 persen. Komponen berikutnya yaitu hasil minyak, dengan nilai sebesar 382,4 juta dollar AS atau naik sebesar 28,81 persen. Komponen migas terakhir yang mengalami kenaikan yaitu gas, dengan nilai kenaikan sebesar 11,7 juta dollar AS, atau naik sebesar 4,29 persen.

Berdasarkan perhitungan secara kumulatif selama tahun berjalan (2018), mulai dari bulan Januari hingga Juli 2018, tercatat total nilai impor mencapai 107,32 juta dollar AS. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 24,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Januari-Juli 2017). Penyumbang terbesar terhadap peningkatan nilai impor ini ada pada dua komponen. Kedua komponen tersebut yaitu impor migas dengan kenaikan sebesar 3,28 miliar dollar AS atau secara persentase 24,51 persen. Komponen berikutnya yaitu impor non migas sebesar 17,81 juta dollar AS atau 24,47 persen.

Pemerintah perlu mewaspadai kenaikan nilai impor ini, karena data ini memperlihatkan ketergantungan yang cukup tinggi terhadap barang-barang dari luar negeri. Walaupun demikian, Menteri Keuangan menjelaskan bahwa data tersebut tidak bisa dibandingkan dengan data sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya event spesial yang tidak terjadi di bulan lainnya, seperti libur lebaran.

Lebih lanjut, Sri Mulyani menambahkan bahwa untuk melihat tren perkembangan impor harus melihat dari kondisi normal tanpa event-event spesial. “Mungkin itu merupakan salah satu deviasi statistik yang perlu dibersihkan dahulu untuk perlu melihat trennya seperti apa secara total,” demikian pungkas Sri Mulyani. #

(tim liputan)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *