Negara Pengimpor Terbesar, China dan Jepang Dominasi Pasar Indonesia

ilustrasi

epicentrum.id – Besarnya nilai impor Indonesia serta neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang saat ini sudah semakin melebar menjadi sorotan. Sebagaimana diketahui, BPS pada minggu lalu (15/8/2018) telah merilis data perdagangan Indonesia.

Data nilai ekspor dan impor pada Juli 2018 yang dirilis oleh BPS tersebut menunjukkan nilai ekspor Indonesia tembus US$ 16,24 miliar atau tumbuh 19,33% dibanding periode sebelumnya. Nilai impor menunjukkan kenaikan secara prosentase sebesar 31,56 persen, atau senilai US$18,27 miliar. Selisih nilai ekspor dan impor menunjukkan minus, atau defisit neraca perdagangan di Bulan Juli 2018 yang nilainya mencapai US$2,03 miliar.

Berdasarkan data BPS, ada lima negara yang berada di urutan teratas importir barang-barang ke Indonesia. Di urutan kelima yaitu Singapura dengan nilai US$ 958,8 juta. Di urutan keempat ditempati Amerika Serikat dengan nilai US$ 961,6 juta. Di urutan ketiga bercokol Thailand dengan nilai sebesar US$1,01 miliar. Urutan dua besar ditempati Jepang dengan nilai US$ 1,82 miliar, dan posisi puncak ditempati China dengan nilai US$4,26 miliar.

Nilai impor dari China tersebut hampir setara dengan nilai empat negara lainnya, yaitu Singapura, AS, Thailand dan Jepang bila dijumlahkan. Hal ini menunjukkan dominasi China yang signifikan di pasar Indonesia, diikuti oleh negara Jepang.

Dominasi China di pasar Indonesia

Data tersebut menunjukkan bahwa defisit perdagangan antara Indonesia dengan China semakin parah. Pada periode Januari-Juli 2017 menunjukkan nilai defisit sebesar US$8,05 miliar. Sementara nilai defisit tersebut kian membengkak menjadi US$10,5 miliar di periode Januari-Juli 2018. Artinya nilai defisitnya naik sebesar US$2,45 miliar, atau secara prosentase sebesar 30,43 persen.

Nilai defisit perdagangan Indonesia dengan China sebesar US$10,5 miliar ini juga hampir menyamai defisit perdagangan sepanjang tahun 2017 yang defisitnya mencapai US$12,68 miliar. Ironisnya, sepanjang perjalanan pemerintahan Jokowi ini, selalu mencatat defisit perdagangan cukup besar dengan China.

Sebagai catatan, pada 2014 menunjukkan defisit dengan China sebesar US$ 13,01 miliar. Nilai defisit ini kian melebar pada tahun tahun 2015, mencatat defisit perdagangan dengan China sebesar US$ 14,36 miliar, dan tahun 2016 sebesar US$ 14,01 miliar. Padahal, bila dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelum Jokowi, yaitu masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, defisit neraca perdagangan dengan China “hanya” sebesar US$7,25 miliar (2013).

Data ini sudah seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah. Dominasi China terhadap pasar dan perekonomian Indonesia juga menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak lagi tegak berdiri di atas kaki sendiri. #

(tim liputan)

 

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *