Ini Dia Penyebab Bengkaknya Impor Juli 2018

ilustrasi terminal peti kemas (okezone)

epicentrum.id – Minggu lalu (15/8/2018), BPS telah merilis data nilai impor Indonesia yang disampaikan langsung oleh Kepala BPS Suhariyanto. Pemaparan dari BPS menunjukkan nilai impor Indonesia pada Juli 2018 tercatat sebesar US$ 18,27 miliar. Ada kenaikan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 31,56 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama sebelumnya, Juli 2017.

Berdasarkan catatan, yang menyebabkan impor Bulan Juli membengkak terdiri dari tiga hal. Penyebab pertama yaitu impor migas sebesar US$2,61 miliar. Kedua, yaitu impor mesin dari China sebesar US$1,73 miliar. Terakhir, yaitu impor bahan baku sebesar US$ 13,67 miliar.

Tingginya nilai impor ini juga menjadi penyebab defisit perdagangan Indonesia. Tercatat nilai neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 2,03 miliar pada Juli 2018. Nilai ini cukup signifikan bila dibandingkan Juli 2017 yang sebesar US$ 278,7 juta.

Nilai defisit ini menjadi yang tertinggi sejak 2013. Pada tahun tersebut, Defisit pada Juli 2013 adalah sebesar US$ 2,3 miliar. “Defisit tertinggi Juli 2013 sebesar US$ 2,3 miliar,” demikian ungkap Kepala BPS. Setelah pencapaian defisit pada 2013, kemudian kali ini (Juli 2018) Indonesia mengalami defisit yang nilainya cukup signifikan, mencapai US$ 2,03 miliar. Artinya, menjadi yang tertinggi sejak 5 tahun terakhir.

Dalam penjelasannya, Suhariyanto mengatakan bahwa penyebab defisit di Juli 2018 karena dua hal. Pertama, defisit sektor migas sebesar US$ 1,19 miliar. Kedua, defisit sektor nonmigas dengan nilai mencapai US$ 84 juta.

Penjabarannya, defisit sektor migas disebabkan karena impor yang lebih tinggi mencapai US$2,61 miliar dibandingkan ekspor yang hanya mencapai US$ 1,42 miliar (selisih minus/defisit US$ 1,19 miliar). Kemudian impor nonmigas US$ 15,65 miliar dan ekspor hanya US$ 14,81 miliar (selisih minus/defisit US$ 84 juta).

Impor migas penyumbang terbesar

Impor migas Juli 2018 sebesar US$2,61 miliar ini mengalami kenaikan sebesar 22,20 persen dibanding Juni 2018 (month to month), dan bila dibandingkan dengan periode sebelumnya (year to year) juga mengalami peningkatan 47,09 persen dibanding Juli 2017.

Peningkatan nilai impor migas dengan nilai sebesar US$2,61 miliar juga memperlihatkan bahwa negara Indonesia tidak dapat lagi membanggakan dirinya sebagai penghasil migas. Bila melihat komponen yang menjadi pemicu kenaikan impor migas, ternyata penyebab kenaikan terjadi pada seluruh komponen migas. Komponen tersebut terdiri dari minyak mentah, dengan nilai sebesar 81,2 juta dollar AS atau secara persentase naik 15,01 persen. Komponen berikutnya yaitu hasil minyak, dengan nilai sebesar 382,4 juta dollar AS atau naik sebesar 28,81 persen. Komponen migas terakhir yang mengalami kenaikan yaitu gas, dengan nilai kenaikan sebesar 11,7 juta dollar AS, atau naik sebesar 4,29 persen.

Yang juga perlu menjadi perhatian, nilai defisit perdagangan sebesar US$2,03 miliar di Juli 2018 sebagian besarnya disumbangkan oleh defisit neraca perdagangan migas. Nilainya mencapai US$1,19 miliar. Nilai defisit migas sebesar ini menjadi penyumbang terbesar defisit neraca perdagangan nasional, yaitu sebesar 60%.

Berdasarkan perhitungan tahun berjalan dari periode Januari-Juli 2018, nilai defisit migas juga cukup memprihatinkan. Defisit migas sudah mencapai angka US$6,65 miliar, atau naik secara prosentase sebesar 44% bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai angka US$4,62 miliar. Bila dikonversikan kedalam nilai Rupiah saat ini, angka defisit migas pada Juli 2018 sekitar Rp97,37 triliun.

Eksodus barang China ke RI semakin parah

Selain impor migas yang semakin bengkak, banjir impor barang-barang asal China juga sudah semakin parah. Di Bulan Juli 2018, komoditas impor China yang paling banyak membanjiri tanah air adalah apel, laptop dan mesin-mesin serta pesawat mekanik. Menilik bulan sebelumnya (Juni 2018) peningkatan impor golongan mesin dan pesawat mekanik adalah sebesar 71,95% menjadi sebesar US$1,73 miliar.

Semakin melubernya barang-barang impor asal China ke Indonesia tentu membuat neraca perdagangan antara Indonesia dengan China membuat jurang defisit semakin melebar. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah.

Upaya pemerintah menahan laju impor

Salah satu upaya pemerintah menahan derasnya laju impor adalah dengan memberlakukan pembatasan barang impor. Namun, belum apa-apa, hal tersebut sudah memancing polemik antara pengusaha dengan pemerintah. Rosan Roeslani yang merupakan Ketua Umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri) memberikan sikap terhadap rencana pemerintah tersebut. Menurutnya pemerintah harus berani mengambil sikap tegas mengendalikan impor barang konsumtif jika memang tujuannya adalah menahan laju impor.

Menurutnya, pemerintah harus selektif, namun tegas. “Kalau mau kendalikan impor, kendalikan yang konsumtif seperti barang mewah. Contohnya impor mobil sport, kalau mau disetop, setop saja enggak apa-apa,” demikian Rosan Roeslani menegaskan (15/8/2018). Lebih jauh, Rosan mengatakan bahwa pemerintah juga seharusnya tidak menghambat impor barang produktif yang dapat mendorong aktivitas pabrik di tanah air dalam rangka peningkatan nilai ekspor negara.

Selain itu,  pemerintah melalui Kementerian Perdagangan akan mendorong substitusi barang impor dengan baranga serupa yang diproduksi di dalam negeri. Oke Nurwan mengatakan bahwa jenis barang yang laju impornya akan direm sebagian besar adalah berupa bahan baku produksi di dalam negeri.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian perdagangan ini menjelaskan bahwa pemerintah akan lebih mendorong dunia usaha mengutamakan substitusi bahan baku impor ke lokal. “Bahan baku [yang akan ditahan impornya]. Kan kalau substitusi impor harus bahan baku, bukan konsumsi,” demikian jelas Oke (15/8/2018). Pemerintah akan membuka diskusi dan komunikasi dengan para pengusaha untuk mendorong hal ini.

Hal lainnya, pemerintah akan membatasi kran impor dengan cara menaikkan PPh atau tarif. Seperti yang diungkapkan Sri Mulyani, Menteri Keuangan. Menurutnya, keputusan tersebut bertujuan untuk menekan derasnya laju impor. Harapannya, pemerintah dapat mengendalikan neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang saat ini sudah semakin melebar.

Menteri Keuangan mengungkapkan akan melihat kembali proyek dengan nilai impor cukup signifikan. “Untuk mengendalikan current account deficit ini, pertama kita akan melihat seluruh proyek-proyek yang memiliki content impor besar [terutama PLN dan Pertamina],” demikian pungkas Sri Mulyani (15/8/2018).

(tim liputan)

 

 

 

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *