Volunteer di Asian Games Masih Ada Kekurangan, Khususnya Penguasaan Bahasa Inggris

Ilustrasi dua tenaga kerelawanan Asian Games. (Photo/Epicentrum.id)

Epicentrum.id, Jakarta – Menyaksikan Asian Games 2018 memang menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi masyarakat Indonesia. Namun, bukan berarti terlepas dari masalah. Misalnya, apa yang terjadi pada Rezka (26) dan teman-temannya saat menyaksikan pertandingan voli putri pada Minggu (19/8/2018) di Lapangan Tennis Indoor Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Begitu pemeriksaan barang beres, dan e-tiket juga sudah dicek setelah melewati pintu masuk, Rezka dan dua temannya bisa masuk dengan leluasa. Karena tak tahu letak venue voli, maka Rezka bertanya kepada volunteer. Akan tetapi, instruksi yang diberikan petugas yang ada di tempat tak jelas. Dia cuma diminta masuk ke bus, dan sialnya, dua kali ditolak.

Sebab, dia tidak tahu bahwa seharusnya dia naik bus kode T4, yaitu bus yang memang dikhususkan untuk umum. Ketika sedang menanti bus, Rezka bertemu dua turis asing yang bertanya di mana area gulat kepada dua volunteer di dekatnya.

Tapi, mereka sama-sama tak paham Bahasa Inggris. Ujung-ujungnya, Rezka membantu menjembatani komunikasi antara turis dan panitia karena bisa menggunakan Bahasa Inggris. Setelah problem itu selesai, barulah bus tipe T4 datang dan membawanya dan teman-temannya.

Setibanya di venue voli, Rezka dan dua temannya masuk ke venue untuk menyusul dua temannya yang sudah di dalam. Sayangnya, Rezka dan temannya tadi ditahan karena tak bisa melakukan pengecekan ID, karena tak memiliki tiket fisik.

Padahal, Rezka dan temannya tadi tak diberikan cetak fisik atau setidaknya diberi tahu prosedur cetak fisik sebelum ke venue. Di sisi lain, dua temannya yang sudah di dalam itu bisa masuk tanpa pengecekan dari petugas yang berjaga di depan gerbang venue. Bahkan setelah puas menonton, Rezka dan teman-temannya ditahan lagi karena perkara tiket fisik itu tadi.

“Seharusnya, daripada melakukan pengecekan tiket, bisa menggunakan stempel di lengan atau bahkan bikin buku kecil untuk koleksi stempel Asian Games. Karena cek ID dan tiket satu per satu tiap pengunjung keluar-masuk venue itu makan waktu,” kata Rezka

“Selain itu, ini kan event besar, jadi bisalah meminta satu-dua orang yang bagus dalam bahasa asing di dekat tempat yang ramai dengan pengunjung. Karena kasihan juga jika turis-turis itu bingung mau ke mana.”

“Dan terakhir, ini yang paling mengganggu. Tolong kepada panitia yang tidak bertugas bisa membantu yang lain. Saya yang warga lokal saja risih lihat panitia berkumpul, tapi malah main ponsel, foto-foto, alias asyik sendiri,” pungkasnya.

Respons INASGOC dan OCA tentang Volunteer Asian Games 2018

Berangkat dari hal tadi, Kami berbincang dengan Danny Buldansyah selaku PR and Media Director Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC). Danny mengakui bahwa pengalaman Rezka tersebut bisa saja terjadi. Danny bahkan mengaku bahwa dia pernah menegur tenaga volunteer.

“Yang mesti kita lihat juga, kami yakin volunteer sudah saling mengingatkan antara teman-teman mereka juga. Begitulah yang kami harapkan. Kalau ada temannya yang duduk, tidak melakukan tugasnya, atau malas, pasti akan diingatkan oleh teman-temannya yang lain,” kata Danny

“Saya juga sering menegur mereka untuk jangan bertindak begini-begitu ketika saya menemukan hal-hal yang tak sepatutnya dilakukan volunteer. Kenyataannya, memang ada yang seperti itu.”

Kendati demikian, Danny berharap agar masyarakat jangan menganggap remeh tenaga volunteer. Mengingat beban mereka sendiri yang memang tak ringan dan mengingat kejadian itu, menurut Danny, merupakan kasus exceptional.

Danny Buldansyah, PR and Media Director Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC). (Photo/Republika)

“Kita tak boleh langsung bilang mereka malas. Ada juga yang, mereka sudah capek banget. Mereka terpaksa duduk dan karena tidak ada tempat duduk, mereka duduk di mana saja. Tapi, menurut saya, seharusnya kita semua bisa maklumi hal-hal seperti ini,” tambah Danny.

“Sampai saat ini, kasus seperti ini belum sampai ke level ‘pemandangan yang mengganggu’. Karena cuma sebagian kecil yang melakukan itu dan saya bisa bertanggung jawab atas pernyataan tadi. Overall, tanggapan dari atlet, media sebenarnya cukup bagi para volunteer. Mereka bilang, volunteer kami cukup helpful.”

Adapun, Sheikh Ahmad Al-fahad Al-sabah selaku ketua Komite Olimpiade Asia (OCA) juga sempat menyinggungnya dalam konferensi pers di Jakarta Convention Center, Senin (20/8/2018) sore.

“Isu inilah yang terus kami bahas. Kami sudah menemukan akar masalahnya. Intinya, kami harus memahami kesulitan mereka, karena tak semua volunteer adalah tenaga profesional,” kata Sheikh Ahmad kepada para pewarta.

“Kami memiliki tugas untuk bekerja sama dengan baik demi memecahkan masalah konflik yang ada di depan mata,” pungkasnya. [Kum]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *