Mengintip Gaya Golkar dan PKS di Tengah Penantian Cawapres

Epicentrum.id – Sama seperti partai lain, Golkar juga punya kerinduan agar kader partainya dipilih Jokowi sebagai cawapres. Nama sang ketua umum Airlangga Hartarto menjadi satu-satunya kader yang disodorkan Golkar ke meja Jokowi.

Sayangnya, hingga hari ketiga pendaftaran capres dan cawapres di KPU, mantan Gubernur DKI Jakarta itu belum juga mengumumkan pendampingnya untuk Pilpres 2019.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR, Melchias Markus Mekeng, sempat menyentil soal ini. Mekeng mengatakan, Partai Golkar sangat berharap, Airlangga dipilih oleh Jokowi menjadi cawapres. Sebagai garansinya, demikian Mekeng, Golkar akan bergerak penuh memenangkan pasangan Jokowi-Airlangga nantinya.

“Saya akan menjamin mesin politik akan bekerja sangat maksimal saat Pak Airlangga menjadi cawapres,” ujar Mekeng kepada wartawan, Selasa (7/8).

Sikap Partai Golkar sudah tak bisa ditawar lagi dalam mendukung Jokowi sebagai capres di 2019. Tetapi Golkar mempunyai harapan lebih agar Airlangga bisa digandeng Jokowi di Pilpres mendatang.

“Presiden sudah pasti Jokowi, tetapi apabila berbicara soal wakil, tentu kader Golkar sangat menginginkan Pak Airlangga menjadi cawapres,” ujar dia lagi.

Lantas, apabila Airlangga tidak jadi digandeng Jokowi, masihkah mesin partai berjalan normal dalam memenangkan Jokowi?

Langkah Antisipatif

Pada Juli lalu, ketika sosok Airlangga begitu hangat dimunculkan ke publik sebagai kandidat kuat mendampingi Jokowi, Partai Golkar pada saat yang sama telah menyiapkan langkah antisipatif jika kelak niat Golkar itu tidak terwujud.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji saat itu mengatakan, salah satu langkah antisipatif yang bisa dilakukan Golkar adalah negosiasi atau jalan tengah. Internal Golkar pun telah membicarakan hal itu, meskipun tak diungkapkan ke publik.

Di mata Golkar, sosok cawapres yang akan dipilih Jokowi sangat menentukan sejauh mana soliditas parpol koalisi tebangun.

Nasib Jokowi hampir sama seperti Prabowo. Dinamika internal parpol koalisi keduanya, menjadi salah satu wacana yang selalu digulirkan ke publik. Di poros oposisi sendiri kita bisa temukan gelagat PKS yang selalu memaksa kadernya untuk menjadi cawapres Prabowo.

Meski tak sekeras Golkar yang memaksakan Airlangga sebagai cawaperes Jokowi, PKS punya dalil yang hampir sama, yakni soliditas parpol koalisi dan arah dukungan politik di Pilpres.

Mereka ngotot agar dua nama yang direkomendasikan Ijtima Ulama GNPF yakni Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri dan pendakwah Abdul Somad, bisa dipilih Prabowo. Namun, Gerindra sendiri masih mempertimbangkan calon lain di luar rekomendasi.

Persis sama seperti Golkar yang telah menyiapkan langkah antisipatif, PKS pun mengaku menyiapkan kemungkinan strategi lain jika tak ada jalan temu. Hanya saja, antara Golkar dan PKS punya gaya yang berbeda dalam menyikapi hal itu. Golkar lebih cebdrung negosiasi, PKS kelihatannya lebih ngotot.

Hingga saat ini, sederet nama telah disebut sebagai calon kuat pendamping Jokowi. Semisal, Mahfud MD, Sri Mulyadi, Moeldoko, Jusuf Kalla (JK), Muhaimin Iskandar dan Airlangga Hartarto.

Sementara yang di kubu oposisi, adu kuat antara AHY dan Salim Segaf, tak bisa dihindari lagi. Pada akhirnya kembali ke Jokowi dan Prabowo, siapakah yang cocok mendampingi keduanya dalam Pilpres kali ini. source

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *