Bisakah Kita Percayai Mikroba Untuk Bersihkan Sungai-sungai Kita?

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) DKI Jakarta menyebar 500 kilogram bubuk DeoGone di Kali Sentiong atau Kali Item, Jakarta, Minggu (29/7/2018). (Kompas)

Oleh: Safendrri Komara Ragamustari, Sentul, Bogor*

Epicentrum – Baru-baru ini publik memberi sorotan tajam terhadap persoalan bau tak sedap yang dihasilkan kali Sentiong, dikenal sebagai Kali Item, di Kemayoran, Jakarta. Sorotan yang tak terlalu diinginkan tersebut terjadi mengingat dekatnya jarak sungai dengan lokasi penyelenggaraan dan perkampungan atlet peserta Asian Games 2018.

Sungai tercemar seperti Sentiong dikenal sebagai “black-odor river”, yang tidak hanya menghitam, tapi juga mengeluarkan bau busuk tak sedap. Sungai-sungai seperti ini jumlahnya semakin banyak di mana-mana, khususnya di kawasan perkotaan. Penyebab utamanya ditimpakan kepada bertambahnya urbanisasi, diikuti kurangnya infrastruktur dan pendidikan bagi warga.

Bau tak sedap dari Kali Item dan kali-kali yang serupa, muncul dari kombinasi zat organik dan anorganik seperti amonia-nitrogen dan fosfor. Sangat sulit menentukan zat apa yang menjadi penyebab tunggal warna hitam dan bau tak sedap tersebut. Faktanya, riset terdahulu menyebutkan adanya interaksi sinergis antara zat-zat polutan yang beraneka ragam, besarnya COD (chemical oxygen demand) dan BOD (biological oxygen demand) di saluran air yang terkena polusi, yang dapat memperparah bau tak sedap.

Sebagian besar zat polutan di Kali Sentiong diduga berasal dari industri tempe. Untuk memitigasi persoalan tersebut, sejumlah tindakan telah dilakukan oleh pihak Pemda DKI Jakarta. Salah satunya adalah penggunaan bioteknologi, dalam hal ini penggunaan mikroba, untuk mengurangi bau tak sedap dari sungai tersebut.

Penggunaan mikroba untuk membersihkan sungai terpolusi telah menjadi perhatian satu dekade terakhir, dari mulai pembersihan sungai yang tercemar material organik (seperti Kali Item) hingga pembersihan perairan yang tercemar tumpahan minyak. Setiap mikroba memiliki kemampuan berbeda dalam menurunkan kadar polutan, tergantung sistem metabolisme, terutama enzim yang diproduksi.

Dalam kasus Kali Item, mikroba jamur pelapuk putih (white rot fungi) dan Lactobacillus digunakan, dan menunjukkan efek cukup baik. Jamur pelapuk putih menghasilkan enzim laccase, yang dapat merusak cincin fenol, senyawa utama yang terkandung di banyak zat pewarna.

Sementara Lactobacillus yang dikenal sebagai zat probiotik dengan banyak manfaat bagi kesehatan. Disamping kemampuannya menghasilkan laktase, enzim yang mengubah susu menjadi yoghurt, Lactobacillus juga menghasilkan protease, peptidase, dan enzim lain yang dapat menurunkan kadar polutan di perairan. Beberapa hari setelah aplikasi mikroba, bau tak sedap dari Kali Item dilaporkan memudar.

Ini bukan kali pertama teknologi mikroba digunakan untuk membersihkan sungai. Contoh lain adalah sungai Chengnan di Tiongkok, juga sebuah black-odor river. Campuran mikroba yang bahkan lebih rumit digunakan dan telah sukses mengembalikan warna sungai mendekati keadaan sebelumnya.

Meski berpotensi, banyak pihak mempertanyakan keamanan dari teknologi ini. Apakah aman mengeluarkan mikroba dalam jumlah besar di wilayah perairan? Ini sebenarnya pertanyaan yang sulit dijawab.

Tetapi ada tiga hal yang patut direnungkan: 1) mikroba yang dilepas ke perairan bersifat non-patogenik (tidak menyebabkan penyebaran penyakit); 2) mikroba bergantung kepada media/nutrisi tempat mereka hidup. Segera setelah makanan di dalam media hidup mereka habis, penambahan populasi mikroba akan secara otomatis melambat, berhenti dan akan menyeimbangkan diri dengan kondisi lingkungan; 3) di perairan yang bersih, keanekaragaman mikroba relatif tinggi, dan polusi buatan manusia menyebabkan keanekaragaman itu rusak, menyebabkan wilayah perairan kehilangan kemampuan remediasi atau perbaikan. Jadi, secara umum dapat dikatakan pelepasan mikroba bahkan berpotensi meningkatkan kualitas lingkungan.

Publisitas yang didapat dari perbaikan Kali Item menggunakan teknologi mikroba adalah berita bagus untuk inovasi berbasis riset bioteknologi di Indonesia. Usaha-usaha seperti ini kurang mendapat perhatian di masa lalu. Diharapkan peristiwa hari ini menjadi pemicu semakin digunakannya inovasi berbasis riset dalam aspek lainnya di Indonesia.

Jadi, bisakah mikroba memperbaiki kekacauan yang kita buat? Tentu saja ada potensi yang besar untuk itu. Bahkan, ada kemungkinan mikroba dapat membantu membersihkan perairan berwarna di sekitar fasilitas produksi batik di Cirebon dan Pekalongan, atau dapat membantu normalisasi bau tak enak di perairan sekitar industri pengolahan kulit di Garut.

*Tulisan ini pernah dimuat di harian The Jakarta Post pada hari Sabtu (4/8/2018) dengan judul “Can We Trust Microbes To Clean Up Our Rivers”.

*Penulis adalah staf pengajar di School of Government and Public Policy, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

 

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *