AS Akan Tinjau Bea Masuk, Rugikan Petani Kopi Indonesia

Epicentrum.id – Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah mengkhawatirkan pencabutan pembebasan bea masuk (GSP) ke Amerika Serikat merugikan petani kopi Indonesia.

Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah, Moelyono Soesilo mengatakan, saat ini AS tengah meninjau GSP. Dia berharap agar peninjauan itu tidak menghapus bea masuk untuk komoditas kopi.

“AS jadi tujuan terbesar ekspor kopi arabika dari Indonesia. Kalau fasilitas GSP dicabut AS, ini akan menekan harga kopi Indonesia. Harga kopinya bisa lebih mahal dibandingkan negara lain di benua Amerika,” kata dia kepada serat.id, Kamis, 26 Juli 2018.

Meskipun belum ada dampak pada komoditas kopi atas peninjauan GSP, harga kopi Indonesia lebih mahal 80 persen sampai 100 persen dibanding negara benua Amerika seperti Kolombia, Kosta Rika dan Uruguay.

“Kita perlu persiapkan bagaimana agar peninjaun GSP tidak terjadi. Hal ini bisa diselesaikan pemerintah yang sudah tanggap mulai evaluasi produk ekspor-impor AS,” jelas dia.

Dia menambahkan, secara nasional ekspor kopi Indonesia pada 2017 mencapai 50 juta karung-10 juta karung atau 600 ribu ton-630 ribu ton per tahun dengan nilai 400 juta dolar AS. Pada tahun 2018, target ekspor kopi mencapai 11,5 juta karung atau 690 ribu ton.

Ia semakin khawatir, karena perangkat teknologi mampu menghasilkan cita rasa kopi dari benua AS mirip dengan kopi asal Indonesia baik dari sisi rasa maupun aroma.

“Kalau harga kopi Indonesia lebih mahal dari negara di sekitar AS, tentu biasanya akan pindah beli yang lebih murah,” ujar dia. [Sumber]

 

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *